
Di rumah, Darren baru terbangun dari tidurnya. Pandangannya mengedar ke seluruh ruangan, lalu Darren melihat sarapan, minuman dan obat yang sudah tersedia di meja dalam kamarnya. Darren pun segera pergi mandi setelah itu dia menyambar roti bakar selai kacang yang sudah di siapkan oleh Annisa. Di makannya roti itu dengan lahap, tak lupa Darren meminum obat yang sudah Annisa racikan.
Darren turun dan menghampiri Bi Inah di dapur.
" Bi, mana dia?" tanya Darren.
__ADS_1
" Dia siapa mas?" tanya Bi Inah dengan rasa bingung.
" Itu Annisa." Singkat Darren.
" Oh non Annisa sudah pergi ke butik."
__ADS_1
" Gimana toh Mas Darren ini. Wong Mas Darren sendiri yang buatin Non Annisa butik. Mas Darren itu sayang banget dan cinta banget sama Non Annisa." Celoteh Bi Inah yang lupa kalau Darren sedang amnesia.
" Kenapa saya nggak ingat sama sekali ya, Bi. Setiap saya berusaha mengingat, kepala saya sakit banget."
" Kasihan Non Annisa, Mas. Tiap hari nangis terus, apalagi kalau lihat Mas Darren pulang sama Non Klarissa. Non Klarissa itu nggak sebaik yang Mas Darren pikir. Apalagi kandungan Non Annisa semakin besar. Dan beberapa kali masuk rumah sakit karena stress. Bibi selalu berdoa semoga Mas Darren segera pulih. Bibi ndak tega Mas, kalau lihat Non Annisa sedih. Non Annisa itu anak yang baik banget, Mas." Cerita Bi Inah dengan logat jawanya yang membuat Darren terdiam, mencoba menyelami kata-kata Bi Inah.
__ADS_1
" Makasih, Bi." Singkat Darren yang kemudian pergi ke kamarnya. Darren mencoba membuka almari bajunya, mencoba mencari sesuatu yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa yang sedang dia cari. Di temukannya liontin cantik di laci almari dan cincin pernikahan berukirkan nama mereka berdua. Lalu Darren melihat sebuah agenda, yang mana agenda milik Pak Surya yang di berikan oleh Pak Rudi, saat Pak Surya sedang di rumah sakit. Darren duduk di sofa sambil menyilangkan kakinya. Di bukanya agenda itu. Sesekali Darren tersenyum melihat foto masa kecilnya. Dan dia mulai paham alasan papanya selama ini dan juga tentang kesehatannya. Sampai pada halaman terkahir, ada foto dirinya dan Annisa bersama bad boys di sebuah cafe. Darren membaca isi pesan di dalam foto itu tentang perjodohannya dengan Annisa. Darren berusaha mengingat kejadian dalam foto itu, namun hanya bayangan buram yang dia dapat. Lalu Darren membuka handphonenya dan melihat galeri fotonya. Banyak sekali kenangan bersama Annisa disana. Selama Darren hilang ingatan, belum pernah dia melihat-lihat handphonenya. Bahkan Darren selalu menuliskan tanggal pernikahan mereka di memo dan juga pertama kali Annisa positif hamil. Di setiap kalender, di setiap bulannya Darren selalu memberi tanda anyversary mereka, ulang tahun Annisa, bahkan hari perkiraan lahir anaknya, sudah Darren simpan. Hati Darren tiba-tiba merasa terenyuh dengan apa yang dia lakukan pada Annisa, sepertinya dia begitu mencintai Annisa. Di kalender yang Darren lihat juga menyimpan catatan khatam Al Qur'an. Darren terperanjat saat ada catatan dalam aplikasi kalender di handphonenya.
" Hah ? serius gue bisa baca Al Qur'an? yang bener aja." Gumam Darren pada dirinya sendiri yang tidak percaya dengan apa yang telah dia lakukan. Darren pun penasaran dan memutuskan untuk mengambil Al Qur'an yang ada di almarinya. Darren mencoba dan membacanya perlahan. Di bukanya Surat Yusuf. Tangannya langsung begitu saja berhenti di surat tersebut saat membuka halaman Al Quran itu. Darren mencoba membacanya dengan terbata-bata hingga mendapat beberapa ayat, bacaannya pun langsung lancar di luar kesadarannya. Hatinya mulai merasa tenang dan hanyut dalam lantunan ayat suci Al Qur'an yang dia baca.