
Sesampainya di rumah Darren. Annisa begitu takjub melihat rumah yang super mewah bak istana. Bu Mita pun menggandeng lengan Annisa dan mengajaknya masuk ke dalam. Darren hanya diam mengekor dari belakang.
" Sepertinya Mama sayang banget sama Annisa." Gumam Darren dalam hati. Saat masuk ke dalam rumah, mata Annisa semakin takjub. Matanya berkeliling melihat megahnya rumah Darren. Melihat ekspresi Annisa yang takjub Darren pun meledeknya.
" Baru kali ini ya lihat rumah bagu, biasa aja lagi." Mendengar ucapan Dareen, Annisa hanya meliriknya dengan lirikan sinis.
" Oh, ya. Tante lebih baik bersih2 dulu ya. Annisa buatin tante bubur ayam untuk sarapan." Kata Annisa.
" Iya, sayang." Kata Bu Mita sambil membelai lembut pipi Annisa. Bu Mita pun segera pergi ke kamarnya di lantai atas.
" Emang bisa masak." Ledek Darren lagi.
" Udah nggak usah ngledek. Mending mandi sana. Mata lo sembab banget. Ternyata cowok kayak lo bisa super mellow juga." Balas Annisa. Darren pun hanya bisa diam pasrah sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal dan kemudian pergi berlalu.
" Oh ya, dapurnya sebelah mana?" Tanya Annisa pada Darren.
" Lo lurus aja ke sana lalu belok kiri." Sahut Darren dari kejauhan. Annisa segera menuju dapur dan disana ada Bi Inah.
" Permisi..." Kata Annisa pada Bi Inah.
" Oh...Non Annisa.Saya Bi Inah." Kata Bi Inah.
" Lho Bibi kok kenal sama saya." Tanya Annisa heran.
" Non calon istrinya den Darren kan?" Tanya Bi Inah memastikan.
" I...i...iya." Jawab Annisa ragu-ragu.
" Ternyata non Annisa lebih cantik di lihat langsung ya daripada di foto."
" Di foto." Batin Annisa heran.
" Sebelumnya tuan memberitahu saya non. Tuan Surya sama nyonya Mita. Dan saya di kasih lihat foto,Non."
__ADS_1
" Hehehehehe...begitu ya, Bi. Oh, ya Bi Annisa pinjam dapurnya sebentar ya mau buatin bubur buat tante Mita sama Darren."
" Iya, Non. Silahkan. Biar BiBi bantu, ya."
" Nggak usah nggak apa-apa kok, Bi. Nanti kalau Annisa butuh bantuan Bibi, Annisa akan panggil BiBi."
" Iya sudah, Non. Bibi beres-beres yang lain dulu ya. Non nggak usah sungkan buat panggil bibi." Kata Bibi.
" Iya, Bi. Terima kasih,ya." Kata Annisa sambil mengusap lembut bahu Bi Inah. Annisa pun mulai memasak. Mulai memasak beras, mencincang wortel&bayam dengan halu, menyuwir bagian dada pada ayam, serta menambahkan jamur kancing,memasukkan kaldu ayam pada buburnya serta menambahkan daun prei serta seledri untuk topingnya. Tak lupa Annisa mencicipinya untuk memastikan rasanya apakah sudah pas atau belum. Annisa pun membuatkan susu kedelai untuk tante Mita dan Darren. Annisa membuat bubur lebih karena mengingat Pak Rudi juga pasti belum sarapan serta memasukkan susu kedelai ke dalam botol kemasan sedang untuk Pak Rudi.
" Sudah selesai, non?" Tanya Bi Inah yang tiba-tiba datang.
" Eh Bibi. Ni udah selesai. Bibi mau coba? Annisa ambilin ya. Pasti Bibi juga belum sarapan dan pasti Bibi di rumah juga gak tenang mikirin kondisi Pak Surya." Kata Annisa yang sepertinya sangat peka dengan apa yang di rasakan Bi Inah.
" Iya, Non. Sya pun makan nggak nafsu. Pak Surya itu baik sekali, Non.
" Kita berdoa saja, Bi. Pasti Pak Surya sembuh, Annisa yakin." Kata Annisa sambil menuangkan bubur ke dalam mangkok untuk Bi Inah serta Susu kedelai.
" Sudah Bibi makan dulu ya. Biar Annisa saja yang menyiapkan untuk tante dan Darren." Kata Annisa. Bi Inah pun mulai mencobanya.
" Iya, Bi. Coba susu kedelainya, Bi." Kata Annisa sambil menyiapkan sarapan untuk Bu Mita dan Darren.
" Enak juga ya non. Nggak bikin eneg ya, padahal Bibi selama ini nggak doyan sama yang namanya susu."
" Hehehe syukurlah Bibi suka." Kata Annisa dengan senyum.
" Tuan dan Nonya nggak salah pilih mantu." Puji Bi inah. Annisa hanya tersenyum mendengar pujian Bi inah.
" Annisa juga buat salad buah, Bi. Di coba ya." Kata Annisa yang kemudian segera menyiapkan makanan di meja makan tak lupa Annisa. Saat semuanya sudah siap, Darren dan Bu Mita turun dari menuju meja makan. Annisa membantu Bu Mita duduk.
" Wah, aromanya sedap sekali." Batin Darren.
" Hmmm wangi masakan kamu, pasti enak." Puji Bu Mita.
__ADS_1
" Silahkan tante, ini tadi Annisa juga buatin tante susu kedelai sama salad buah sebagai hidangan penutup." Kata Annisa.
" Kamu kenapa repot-repot, udah kayak di restoran aja. Kamu disini tamu tapi malah repot-repot kayak gini."
" Nggak apa-apa tante, justru Annisa minta maaf karena udah bikin dapur berentakan."
" Bisa aja kamu. Ya udah makan yuk."
" Aman kan. Nggak lo kasih racun." Ledek Darren.
" Darren." Kata Bu Mita menegur Darren. Annisa pun hanya bisa diam dan menahan marahnya. Darren pun meyendokkan bubur ke mulutnya.
" Enak juga masakannya, persis seperi di resto favorit gue." Batin Darren.
" Kenapa enak sekali, tante kalau buat kok nggak seenak ini ya." Puji Bu Mita.
" Tante bisa aja. Annisa tuangin susunya ya."
" Iya sayang."
" Gue juga dong, masak sama calon suami cuek." Kata Darren dengan jutek. Annisa pun hanya menurut saja dan menuangkan susu kedelai ke dalam gelas Darren.
" Awas ya ,lo." Bisik Annisa pada Darren. Annisa berusaha menjaga sikap dari Bu Mita karena Annisa tidak mau Bu Mita banyak pikiran jika dia dan Darren bertengkar. Melihat tingkah anaknya Bu Mita hanya tersenyum.
" Tante saladnya juga, biar tante cepat fit lagi tante pasti capek."
" Gue juga mau." Sahut Darren.
" Iya... tante mau kok." Kata Bu Mita. Annisa menatap Darren dan Bu Mita makan dengan lahapnya, Annisa sangat senang melihatnya.
" Mah, habis ini Darren langsung kerumah sakit. Mama di rumah aja ya."
" Mama ikut, mama udah enakan juga badannya."
__ADS_1
" Oh ya. Annisa bawain Pak Rudi makan juga tante, nggak apa-apa kan, kasihan Pak Rudi juga pasti capek."
" Iya sayang boleh kok. Ayo kita berangkat. Lagian ini masih jam 10." Kata Bu Mita. Melihat sikap Annisa yang penuh rasa peduli membuatnya tersentuh. Mereka pun segera berangkat ke rumah sakit dengan mobil Darren.