
Tepat jam 00.00 Darren sampai di rumah dengan keadaan mabuk sempoyongan. Saat membuka pintu Darren melihat Papa & Mamanya duduk di ruang tamu dengan wajah penuh amarah.
" Dari mana saja kamu, mabuk-mabukan lagi. Ngeband lagi." Bentak Pak Surya. Mama Darren pun berdiri mengahmpiri Darren yang sempoyongan.
" Udah, Pa. Dia lagi mabuk." Kata Bu Mita, Mama Darren.
" Nggak usah kamu manja dia. Dia ini sudah dewasa, sebentar lagi lulus, kerjaannya cuma ngeband ,mabuk, nongkrong nggak jelas tidak ada faedahnya sama sekali. Mau jadi apa kamu Darren. Kamu ini anak laki-laki papa satu-satunya, mau jadi apa perusahaan kita kalau penerusnya nggak jelas gini."
Darren hanya diam mendengar omelan papanya dengan wajah yang lusuh & acak-acakan. Bu Mita membantu Darren untuk duduk supaya dia tidak terjatuh karena mabuk.
" Urus aja perusahaan, papa. Ngapain urusin Darren. Biarin suka-suka Darren. Hidup-hidup Darren, mau jadi apa terserah Darren. Untuk apa mama-papa pulang, masih ingat anak. Bukankah bisnis jauh lebih penting dari pada Darren."
" Cukup, Darren. Semua yang papa lakuin untuk kamu. Kamu tinggal meneruskan tanpa harus bersusah payah."
" Bagi Darren itu semua nggak penting. Kapan terakhir kali Papa & Mama merayakan hari ulang tahun Darren. Kapan terakhir kali Mama masak untuk Darren. Kapan terkahir kali Papa nemenin Darren bermain. Kapan terakhir kali Papa & Mama tau kalau Darren sakit, di rumah sendirian, hanya ada pembantu yang ngurusin Darren. Kapan terakhir kali Papa antar Darren ke sekolah. Kapan terakhir kali Mama menyiapkan keperluan sekolah & membuat sarapan untuk Darren. Kapan Pah, Mah? Apa kalian masih ingat?" Darren mengungkap kekesalannya dengan suara yang tegas, membuat Mamanya meneteskan air mata, membuat Papanya diam & tanpa sadar air mata Darren pun tumpah bersama ungkapan kekesalannya. Pak Surya pun mengambil nafas dalam-dalam mendengar rasa sepi yang di hadapi anaknya sejak usia 7 tahun & sekarang Darren berusia 24tahun.
" Baik. Papa akan menikahkan kamu dan menjodohkanmu dengan anak sahabat lama papa." Tegas Pak Surya.
Mendengar ucapan Papanya Darren semakin murka. Darren berdiri dari duduknya mengambil vas bunga yang menghiasi meja ruang tamu lalu membantingnya kelantai dengan penuh amarah. PYYYYYAAAAARRRRRR. Sontak sikap Darren membuat Papa & Mamanya kaget. Papanya segera berdiri dan menamparnya dengan keras.
" Kurang ajar kamu." Kata Pak Surya.
" Pah jangan, Pah." Teriak Bu Mita dengan tangisannya. Darren memegang pipinya yang telah di tampar Papanya sambil memandang Papanya dengan marah.
" Ini yang Papa kasih buat aku. Pukul aja pah, pukul aja sepuas papa."
__ADS_1
Teriak Darren yang kemudian pergi menuju lantai atas kamarnya dengan jalan yang sempoyongan. Pak Surya pun terduduk sambil mengepalkan tangannya ke sofa merasa menyesal telah menampar Darren karena baru pertama kali inilah Pak Surya menampar Darren.
Bu Mita mencoba menenangkan suaminya. Sesekali mengusap bahu & punggung suaminya sambil menyeka air matanya. Suasana pun hening. Dan Darren pun langsung mengobrak abrik kamarnya dengan penuh kekesalan sambil teriak-teriak nggak jelas dan duduk sambil memeluk kedua kakinya. Darren menangis, menenggelamkan wajahnya dalam pelukan kakinya. Kekesalannya selama ini bertahun-tahun dia simpan sendiri, kesepiannya coba dia tutupi, seolah dia baik-baik saja, tanpa orang lain tahu bahwa hatinya sangat kesepian. Rindu mendapatkan kasih sayang orang tuanya, mungkin secara materi dia serba kecukupan namun dalam kasih sayang dia tidak mendapatkannya. Hanya ada asisten rumah tangga yang mengurusnya dan juga sopir yang mengantarnya kemana-mana. Hati Darren semakin hancur ketika mendengar ucapan Papanya ketika dia akan di jodohkan & menikah. Pernikahan yang sama sekali belum ada di benak Darren. Apalagi menikah usia muda. Meskipun tidak lama lagi Darren akan wisuda dan lulus S2 Manajemen Bisnis tetapi dia sangat ingin menjadi seorang penyanyi, punya band yang besar namun sepertinya keinginan itu tidak akan terwujud dan akan secepatnya dia pupus.
Kenapa author jadi ikutan baper gini ya...hmmmm part yang bikin mewek.
Keesokan paginya Darren segera pergi ke kampus dengan melewatkan sarapan pagi bersama kedua orang tuanya.
" Sayang, ayo kita sarapan. Mama sudah masak kesukaan kamu." Bujuk Bu Mita pada Darren yang sedang berjalan menuruni anak tangga.
" Nggak usah, Darren masih kenyang." Kata Darren singkat dan langsung menuju garasi mobil lalu segera berangkat. Papa dan Mama Darren hanya bisa mengehla nafas panjang melihat tingkah putranya.
Style Darren ke kampus pagi ini...
" Kiamat datang. Ketika seorang pria berdandan menyerupai wanita." Gerutu Annisa.
" Mana kiamat. Ih jangan gitu dong, serem." Reva ketakutan.
" Itu yang kalian kagumi." Kata Annisa sambil menunjukan pandangan ke arah Darren.
" Oh itu tapi kan dia cowok tulen. Itu cuma asesoris aja, An." Bela Reva.
" Ya, terserah lah apapun itu." Annisa hanya bisa menghela nafas panjang melihat cara berdandan Darren. Mereka pun berpaspasan. Darren pun cuek tanpa menatap Annisa. Moodnya masih kacau karena pertengkaran dengan orang tuanya semalam, belum lagi mendengar kabar perjodohannya.
__ADS_1
" Kenapa dia." Batin Annisa.
" Eh kenapa gue malah jadi kepo." Batin Annisa lagi dalam hati.
Basecamp BAD BOYS...
Darren masuk begitu saja dan membanting tas nya kelantai. Ketiga temannya bingung dengan sikap Darren. Wajahnya begitu lusuh & matanya sepertinya sembab.
" Kenapa sih, Dar. Kok wajah lo di tekuk gitu." Tanya Kevin.
" Mama Papa pulang dan gue mau di jodohin sama anak sahabat lama Papa." Jawab Darren lesu.
" Serius, Dar." Kevin terperanjat dengan jawaban Darren.
" Jaman now masih aja jodoh-jodohan. Masih berlaku gitu ya." Tanya Tori heran dengan pemikiran para orang tua.
" Nggak usah gitu, Tor. Mungkin nasib kita nanti bakal sama kayak Darren. Pasti orang tua kita bakal jodohin kita dengan relasi bisnis mereka untuk memperkuat kerajaan bisnis masing-masing. Bagi mereka pernikahan adalah bisnis. Kita di lahirkan kemudian di besarkan, setelah kita dewasa, kita di tukar dengan uang. Parah." Keluh Rio yang merasa ini semua tidak adil cinta harus tergadaikan dengan uang.
" Begitulah cinta deritanya tiada akhir." Tambah Kevin. Darren hanya diam memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya di sofa. Terlalu penuh isi kepalanya.
" Gue keluar dulu." Pamit Darren tiba-tiba. Darren pergi ke taman belakang kampus, mencoba menenangkan pikirannya. Darren duduk bersandar di kursi taman, sesekali kakinya menendang-nendang seolah-olah di depannya ada bola sepak yang berjajar. Dari kejauhan, Darren melihat Adam & Annisa berjalan beriringan, mereka tampak sangat akrab dan dekat. Sesekali Darren melihat tawa lepas Annisa dan Adam saat mereka berbicara. Entah kenapa saat itu hati Darren merasa tidak karuan.
" Aku boleh bilang sesuatu sama kamu." Kata Adam. Langkah mereka terhenti saat tepat di depan Darren. Tapi jarak mereka cukup jauh & tertutup oleh tananam-tanaman hias. Darren mencoba mendengarkan obrolan mereka dari kejauhan.
" Boleh, Kak. Silahkan saja." Kata Annisa.
__ADS_1
Next episode di halaman selanjutnya yaaaaa