
Selamat membaca....terima kasih untuk like, vote dan komennya, tungguin give away dari author ya
muach buat kalian....
Malam harinya, saat Annisa akan pergi menuju ke kamar Papanya, Darren yang sudah mengintai Annisa sedari tadi langsung menarik tangan Annisa dan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu. Darren menyandarkan tubuh istrinya itu di balik pintu.
" Sayang, kamu apa-apaan sih."
" Kamu nggak tau, aku kangen banget sama kamu. Sayang kapan kita kembali ke apartemen. Harus sampai kapan aku tiap malam tidur sama Kevin." Keluh Darren dengan manja sambil menyandarkan kepalanya di bahu Annisa.
" Papa kan nyuruh kita 1 minggu disini, paling tidak saat kondisi Papa segera membaik." Ucap Annisa dengan senyumnya melihat tingkah manja suaminya itu.
" Aku kan kangen sayang, aku tiap malam nggak bisa tidur, lihat kantong mata aku udah menghitam." Rengek Darren sambil menunjuk kantong matanya.
" Iya sayang sabarnya, biarin aku nikmatin waktu sama mereka, tolong ya kamu ngertiin." Ucap Annisa.
" Iya sayang aku ngerti kok tapi....." Darren pun mendekat ke wajah istrinya lalu mencium bibir istrinya. Merekapun saling berpagutan, sesekali saling pandang, senyum dan peluk. Kerinduan Darren sudah memuncak di ubun-ubun, ingin sekali membawa istrinya ke atas kasur namun tiba-tiba terdengar suara dari luar yang menghentikan aksi ciuman mereka.
__ADS_1
" Annisa sayang, papa mencari kamu nak. Ayo kita tidur bersama." Panggil Bu Marta dari luar.
" Hmmmm lagi enak-enaknya." Keluh Darren.
" Sssssttttt nggak boleh ngomong gitu." Kata Annisa. Annisa pun segera merapikan kembali bajunya yang berantakan karena ulah suaminya lalu keluar.
" Kamu disitu?" Tanya Bu Marta.
" Eh iya mah, Darren kangen mah sama Annisa soalnya tiap malam Darren tidurnya sama Kevin terus, kapan mah cucunya bisa cepet jadi." Celetuk Darren yang di sambut cubitan kecil dari Annisa.
" Iya, Nak. Mama sampai lupa lho kalah kamu ini udah punya suami, soalnya dulu Darren sudah biasa nginep sini sama Kevin. Ya Allah, maaf ya sayang. Si papa nih gimana mau punya cucu kalau gini terus." Kata Bu Marta dengan tawa kecilnya. Membuat Annisa tersenyum malu, sedangkan Darren malah tersenyum lebar.
" Ya sudah kalau gitu, besok kalau kalian mau kembali lagi ke apartemen silahkan tapi ijin mama malam ini sama Annisa ya. Soalnya besok mama, papa dan Kevin akan ke Jerman buat ngobatin papa supaya papa cepat sembuh karena papa pingin bisa gendong cucunya nanti. Kamu nggak usah ikut nggak apa-apa sayang, tugas kamu disini buatin kita cucu." Kata Bu Marta.
" Hehehehe. Iya, ma." Jawab Darren dengan senyum sumringahnya.
Berhari-hari selama tinggal di rumah Kevin, tiap malam Darren tidak bisa tidur. Setiap kali ingin tidur selalu ada aja keributan yang Darren bikin, hingga membuat Kevin menjadi kesal.
__ADS_1
Keesokan harinya, Pak Hans, Kevin dan Bu Marta sudah berkemas dan siap menuju bandara. Dareen dan Annisa pun ikut mengantar sampai ke bandara.
" Sayang, kamu jaga diri baik-baik ya." Ucap Pak Hans.
" Iya, Pa. Papa tenang aja. Sebenarnya Annisa masih kangen tapi ini semua demi kesembuhan dan kesehatan papa."
" Iya, nak. Papa juga yang meminta ke luar negeri supaya papa secepatnya sehat dan bisa gendong cucu. Papa nggak sabat banget buat punya cucu." Kata Pak Hans dengan mata berbinar-binar.
" Amin, insya allah Pa."
" Darren jagain adik gue, jangan sakitin dia dan jangan bikin dia nangis. Terus cepet-cepet buatin gue keponakan yang lucu-lucu." Kata Kevin antusias.
" Beres lah." Singkat Darren.
" Ya sudah, nak. Jaga diri kalian baik-baik ya." Ucap Bu Marta. Mereka pun saling berpelukan sebelum mereka masuk ke dalam pesawat.
" Pa, ma, Kak. Jangan lupa kasih kabar ya." Ucap Annisa.
__ADS_1
" Iya, jangan khawatir. Assalamualaikum." Pamit Kevin. Mereka pun melambaikan tangan pada Darren dan Annisa. Annisa pun menangis mengantar keberangkatan orang tua dan kakaknya. Darren merangkul dan mengusap bahu istrinya mencoba menenangkan Annisa.