
" Ma, Pa. Ini Darren suaminya Annisa, anak Om Surya dan Tante Mita." Kata Kevin memperkenalkan Darren pada kedua orang tuanya. Darren pun mencium tangan Pak Hans dan Bu Marta.
" Darren, om, tante."
" Maaf Pak Hans, jika kami sudah menikahkan dan menjodohkan Annisa di usia muda." Kata Pak Amir.
" Iya, Hans. Aku minta maaf karena ini semua di luar kuasa kami." Kata Pak Surya.
" Tidak, Pak Amir, Surya. Langkah yang kalian ambi sudah sangat tepat. Mereka sangat cocok dan sangat serasi. Kami merestui kalian." Ucap Pak Hans penuh haru.
" Darren, mulai sekarang kamu harus panggil kami papa dan mama juga ya." Tambah Pak Hans.
" Iya, Pa."
" Sayang malam ini kamu nginap sini ya sama suami kamu." Pinta Bu Marta.
" Iya, Ma. Pasti kok."
__ADS_1
" Oke kalau gitu kita doa dulu ya terus makan-makan, kasihan nih adik-adik disini nanti keburu lapar." Seru Rio yang mencoba mencairkan suasana menjadi ceria.
" Iya, iya. Ayo kita mulai." Sahut Kevin. Setelah mereka berdoa bersama, mereka makan bersama tidak lupa Annisa membagi sedekah untuk anak yatim.
Setelah acara selesai, mereka semua bercengkrama bersama.
" Om Han, Tante Marta dan semuanya. Di hadapan kalian semua, saya ingin minta maaf. Karena beberapa waktu lalu, saya sempat menyakiti Annisa karena kenangan buruk masa lalu saya." Kata Rachel dengan rasa penyesalan yang begitu dalam.
" Nggak apa-apa kok Pa, Ma. Semua itu hanya kesalahpahaman saja jadi nggak perlu di perpanjang lagian kan udah berlalu jadi ya kita lupain aja dan kita buka lembaran baru. Jadi Kak Rachel nggak usah minta maaf lagi."
" Aku malu sama kamu, Annisa. Maafin aku ya. Aku udah jahat sama kamu. Maaf Annisa." Kata Rachel memeluk Annisa erat dengan semua air mata penyesalannya.
" Giman nak, Darren cucu buat Ayah dan Ibu udah jadi belum?" Goda Bu Ratih.
" Tenang aja, Bu. Secepatnya jadi kok." Kata Darren malu-malu yang membuat semuanya tertawa.
" Darren, Darren. Lo ngapain aja selama ini." Ledek Rio yang tak jauh dari tempat Darren dan keluarganya berkumpul.
__ADS_1
" Sialan, lo. Emangnya gue harus cerita gitu." Sahut Darren yang di sambut gelak tawa mereka semua.
Malam ini Annisa milik Papa dan Mamanya. Di kamar dan kasur yang luas mereka tidur bertiga. Annisa berada di tengah-tengah Pak Hans dan Bu Marta. Annisa pun merasa nyaman berada di tengah-tengah mereka.
" Sayang, mama selalu merindukan saat ini. Merindukan saat nina boboin kamu." Kata Bu Marta sambil mengusap kepala Annisa dengan lembut.
" Iya, Papa senang banget. Kita bisa mengulang kejadian seperti ini. Terima kasih Ya Allah atas semua ini." Imbuh Pak Hans.
" Oh ya, Pa. Besok papa terapi lagi ya, sekalian besok Annisa mau ambil hasil tes DNA antara Kak Kevin sama Annisa. Annisa pingin lihat Papa sehat." Kata Annisa.
" Iya sayang." Ucap Pak Hans sambil mencium kening Annisa yang di ikuti oleh Bu Marta. Mereka pun segera tidur dan saling berpelukan.
Sedangkan dikamar Kevin, Darren tidak bisa tidur. Miring ke kiri, miring ke kanan, tengkurap, berbaring, membuat Kevin ikut tidak bisa tidur. Karena mereka tidur satu kamar dan satu ranjang.
" Lo ngapain sih. Tidur aja ribet amat." Keluh Kevin.
" Kenapa? Nggak bisa bikin anak sama adik gue? Udah lo apain aja adik gue? Dia itu masih kecil jangan lo genjot aja." Kata Kevin dengan kesal.
__ADS_1
" Sialan, Lo. Ya secara gue terbiasa sama dia. Enak tau, Vin. Kenapa lo nggak nikah aja sih sama Rachel. Nggak bakal nyesel lo. Hmmm gue beruntung banget bisa sama Annisa. Alhamdulillah pokoknya semuanya mahal dan orisinil semua."
" Emang lo pikir adik gue apaan, udah cepet tidur." Kata Kevin sambil melempar wajah Darren dengan bantal.