
Pagi harinya, Annisa di kejutkan dengan kedatangan Kevin yang datang bersama Raja. Raja pun terlihat lusuh dan menangis. Raja langsung memeluk Annisa.
" Kak, ada apa sama Raja? Kenapa dia begini?" tanya Annisa pada Kevin.
" Ibu Raja meninggal 1 minggu yang lalu dan Raja di paksa kerja sama preman-preman itu. Sepertinya Raja shock dan mendapat kekerasan fisik."
" Apa? meninggal? Innalillahi, kenapa Kakak nggak bilang sama Annisa."
" Maaf Annisa, Kakak, sama Rio dan Tori berusaha menghandle masalah ini tanpa kamu. Kamu sendiri sedang kalut dalam masalah. Kanker yang di derita ibu Raja sudah menyebar dan tidak bisa di selamatkan. Dan sekarang Raja yatim piatu."
" Ya Allah. Kasihan kamu, Raja. Kamu tinggal sama Kakak aja ya." kata Annisa sambil mencoba menenangkan Raja. Kemudian Darren turun dari kamarnya dan menyapa Kevin.
" Hai, Vin. Tumben pagi-pagi kesini." Sapa Darren dengan wajah ramah.
" Gue kesini ngantar Raja."
" Raja? siapa dia?" Tanya Darren.
" Nanti kamu juga ingat, Darren. Aku cerita sama kamu pun percuma." Sahut Kevin. Darren melihat Raja memeluk Annisa dengan erat.
" Kak Darren? Kak Darren baik-baik saja?" tanya Raja yang kemudian memeluk Darren.
" Dia, anak penjual jagung yang kita temui di masjid dulu. Sekarang dia yatim piatu, ibunya meninggal 1 minggu lalu dan dia juga saksi mata kecelakaan kamu, Darren. Sebelum kecelakaan itu, kita akan menyeberangi jalan untuk menemui Raja." Cerita Annisa. Darren hanya terdiam sambil membalas pelukan Raja.
__ADS_1
" Biarkan dia tinggal disini saja." Kata Darren yang membuat Annisa dan Kevin bahagia.
" Terima kasih, Kak. Raja disini nggak akan tinggal cuma-cuma kok. Raja akan bantu-bantu disini, bantu nyuci mobil dan berkebun juga boleh." Kata Raja.
" Nggak usah Raja." Kata Annisa.
" Tapi Ibu Raja mengajari Raja untuk pantang minta-minta dan di kasihani orang. Selagi kita masih bisa bekerja kenapa kita harus malas dan meminta-minta."
" Oke, kalau itu mau kamu. Good Boy Raja." Kata Darren.
" Besok Kakak akan mengurus sekolah kamu. Kamu harus janji sama Kakak, kalau kamu akan belajar yang rajin dan jadi anak sholih. Buat orang tua kamu bangga disana ya." Kata Annisa sambil mengelus kepala Raja.
" Iya, Kak. Raja janji akan melakukan itu semua. Terima kasih sekarang Raja nggak sendirian lagi. Terima kasih juga Kak Kevin."
" Oh ya, aku habis ini mau ke rumah sakit kontrol kandungan. Kak Kevin antarin Annisa ya."
" Iya, Dek." Jawab Kevin.
" Kenapa sama Kevin, aku kan suami dan juga ayah dari anak yang kamu kandung." Sahut Darren. Kevin mengerutkan dahinya sambil menatap Annisa dengan heran. Annisa pun terkejut dengan jawaban Darren.
" Baiklah kalau gitu, Kak. Aku pergi sama Darren."
" Dan aku akan bantu Raja menyiapkan kamarnya." Sahut Kevin.
__ADS_1
" Ide bagus." Singkat Darren.
🌺🌺🌺🌺
Sesampainya di rumah sakit, Annisa dan Darren segera masuk ke ruang kandungan. Darren begitu takjub melihat perut buncit Annisa yang sedang di USG oleh dokter.
" Kandungan Bu Annisa alhamdulillah sehat-sehat saja. Dan sudah memasuki usia 5 bulan."
" Jenis kelaminnya apa, Dok?" tanya Darren yang begitu antusias.
" Saya mencoba melihatnya, namun bayi anda sepertinya malu-malu tidak mau menunjukkannya." Kata Dokter sambil tersenyum.
" Nggak apa-apa, Dok. Biar nanti jadi kejutan buat kami." Imbuh Annisa.
" Oh ya, Dok. Kapan kami harus kontrol lagi?" tanya Darren dengan antusias.
" Bulan depan lagi, Pak. Tolong di jaga ya kondisi Ibu Annisa dan juga kandungannya." Pesan Dokter.
" Pasti, Dokter." Jawab Darren.
" Oh, ya aku juga sudah buat janji dengan dokter Satriya untuk check up kesehatan kamu." Sahut Annisa.
" Iya, habis ini sekalian kita temui Dokter Satriya. Aku ingin segera pulih dan segera ingat kembali." Kata Darren. Jawaban Darren sungguh membuat Annisa bahagia dan membuatnya memanjatkan syukur tiada henti. Suaminya meskipun sedang amnesia tapi masih bisa berusaha untuk mengenal dan mencintainya lagi. Setelah melewati ujian batin yang begitu berat, kini Annisa bisa bernafas lega. Bisa mendapatkan suaminya kembali.
__ADS_1