Jihad Cinta

Jihad Cinta
EPISODE 11~PAPA~


__ADS_3

Tepat ⅓ malam, Annisa memilih mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud&istiqoroh, supya hati&pikirannya menjadi lebih tenang, Annisa pun berharap segera mendapat petunjuk dari Allah SWT. Annisa menjalankannya dengan sangat khusyu', hingga tak di sadari air matanya menetes. Hatinya sangat gundah, Annisa begitu bingung&bimbang, apa yang harus dia lakukan. Apakah harus memilih menikah karena balas budi atau menuruti keinganan Ayahnya. Saking lelah hati&pikirannya Annisa tertidur di atas sajadahnya karena hampir semalaman dia tidak bisa memejamkan matanya.


Matahari pun mulai menampakkan sinarnya. Tiba-tiba telpon rumah berbunyi. Pak Amir segera mengangkatnya.


" Selamat pagi, Pak Amir. Tuan Surya di rumah sakit terkena serangan jantung&sampai sekarang masih belum sadar." Suara Pak Rudi di seberang sana. Pak Rudi adalah asisten pribadi Pak Surya yang telah mengabdi selama bertahun-tahun.


" Astaghfirullah, Pak. Baik Pak, saya akan kesana." Kata Pak Amir dengan sangat panik. Pak Amir segera memanggil Istrinya&Annisa.


" Bu, Annisa..." Panggil Pak Amir dengan panik. Mendengar suara Ayahnya, Annisa yang masih tertidur dg memakai mukena segera bangun&menghampiri Ayahnya begitu juga Bu Ratih yang meninggalkan aktivitas dapurnya.


" Ada, apa yah?" Tanya Annisa.


" Pak Surya, nak. Beliau masuk rumah sakit semalam kena serangan jantung&sampai sekarang belum sadar." Jelas Pak Surya.


" Astaghfirullah... Ayo, Yah kita kesana. Ayo kita ganti baju." Ajaka Bu Ratih dengan paniknya.


" Annisa ikut." Sahut Annisa. Mereka segera bergegas ganti baju lalu segera pergi kerumah sakit dengan naik taxi online. Di dalam mobil, Annisa melihat kekhawatiran yang berlebihan orang tuanya pada Pak Surya. Di kepalanya penuh dengN pertanyaan. Sebaik apakah Pak Surya? Sedekat apa hubungan Ayahnya dengan Pak Surya? Hingga orang tuanya begitu khawatir, terutama saat Annisa melihat wajah Ayahnya, seperti orang yang sedang frustasi. Annisa hanya bisa diam dan berdoa dalam hati supaya Pak Surya baik-baik saja. Karena terkahir kali Annisa bertemu Pak Surya saat Annisa masih duduk di bangku kelas 5 SD.


Flashback kejadian sebelum Pak Surya kena serangan jantung ....


Malam itu, tepat jam 12 malam dengan keadaan mabuk lagi, Darren baru pulang. Di dalam rumah, diruang tamu, Papa&Mamanya sudah menunggunya.CEKLEK.Darren membuka pintu.

__ADS_1


" Darimana kamu? Mabuk lagi? Nyanyi lagi? Apakah selalu seperti ini kelakuanmu saat papa&mama tidak ada." Kata Pak Surya yang mulai kesal. Darren hanya diam dan berlalu dengan sempoyongan menaiki anak tangga,menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat Pak Surya teriak memanggilnya.


" Darren." Panggil Pak Surya dengan suara keras.


" Kelewatan kamu. Papa sedang bicara sama kamu. Setelah wisuda pernikahanmu akan di percepat." Mendengar ucapan Pak Surya, Darren tersenyum sinis lalu berbalik melihat Papa&Mamanya.


" Sebenarnya, Darren ini anak papa atau bukan sih? Darren bukan boneka papa. Darren bukan barang yang bisa papa tukar dengan bisnis. Mama melahirkan dan membiarkan Darren hidup hanya untuk ini. Untuk bisnis,untuk mengembangkan bisnis. Mengorbankan kebahagiaan anak demi uang. Belum puas papa&mama membuat Dareen terasing,tidak usah peduli dengan hidup Darren. Biarkan Darren hidup sesuai keinginan Darren. Tidak usah peduli dengan Darren, urus sana bisnis Papa itu kan lebih penting. Omong kosong semuanya." Kata Darren dengan mata yang berkaca-kaca.


" Keterlaluan kamu, kurang ajar." Kata Pak Surya sambil memegang dadanya yang tiba-tiba merasa sesak,sakit hingga membuatnya terjatuh pingsan dan plipis Pak Surya mengenai ujung meja yang terbuat dari kaca yang cukup tebal.


" Papa.." Teriak Bu Mita di iringi tangisnya yang menjadi. Melihat Papanya pingsan Darren spontan melempar gitar yg dia tenteng sedari tadi&lari menghampiri papanya.


" Pah...bangun pah. Maafin Darren." Kata Darren sambil menopang badan Papanya di pangkuannya dengan menangis sejadinya.


Darren pun bersandar di dinding lalu terduduk lemas sambil menangis dang menjambak rambutnya. Melihat Darren yang begitu frustasi, Bu Mita menghampiri Darren. Darren pun memeluk Mamanya dan menangis sejadinya di pelukan mamanya.


" Maafin Darren Mah.Maafin Darren."


" Nggak, nak. Kamu nggak salah, kita yang salah."


" Maafin Darren Mah." Mereka berdua saling berpelukan&saling menguatkan. Pak Rudi pun tak kuasa menahan tangisnya. Baginya Pak Surya sudah seperti keluarga bukan sekedar majikan.

__ADS_1


Dokter pun keluar dari ruangannya,melihat itu Darren segera menghampiri dokter.


" Dok, bagaimana kondisi papa saya. Tolong selamatkan papa sya." Kata Darren sambil memegang kuat kedua bahu dokter. Dokter mencoba mengabaikan Darren karena ini sudah menjadi perjanjian Pak Surya&Bu Mita,namun dokter tetap harus mengatakannya.


" Bu, bagaimana ini bisa terjadi. Saya sudah menyarankan supaya Pak Surya istirahat, jangan stres&banyak pikiran. Untung saja segera di bawa kesini. Karena oprasi pemasangan ring di jantungya belum sempurna. Saya khawatir jika hal ini terjadi lagi nyawanya tidak tertolong. Untuk sementara Pak Surya masih koma&semoga ada mukjizat,kita berdoa ya." Jelas dokter dengan penuh khawatir yang kemudian pergi.


Darren pun heran, dia tidak tahu apa2 tentang kondisi Papanya. Matanya memandang tajam ke arah Pak Rudi&Mamanya.


Darren mengoyak tubuh Pak Rudi untuk mencari jawabannya namun Pak Rudi hanya diam&menangis. Bu Mita pun sama,melihat sikap Pak Rudi&Mamanya Darren begitu marah.


" Mah... Ada apa mah? Apa yang Darren nggak tahu dengan kondisi papa. Apa yang sebenarnya terjadi. Mah, bicara mah." Darren begitu frustasi karena tidak mendapat jawaban apapun. Darren begitu emosional, dia melihat keadaan papanya dari balik kaca jendela ruang ICU. Hingga terlintas kenangan yang tersisa di ingatannya saat dia masih kecil, saat menghabiskan waktu bersama papanya.


" Pah...maafin Darren Pah. Maafin Darren." Pak Rudi mendekati Darren yang terduduk lemas di lantai&memeluknya seperti anaknya sendiri. Pak Rudi memberikan buku agenda Pak Surya, buku itu tidak terlalu besar karena tersimpan di jas Pak Rudi.


" Ini untuk Tuan muda Darren." Kata Pak Rudi.


👪 Perlahan Darren membuka halaman pertama, disitu ada foto Darren saat masih usia 1thn bersama Pak Surya&Bu Mita. Di foto itu terdapat tulisan" Jagoan kecil papa&mama saat 1thn".


👪 Di halaman ke dua, terdapat pesan berisi cita-cita Pak Surya yang sebenarnya Pak Surya memulai merintis bisnisnya dari NOL. Pak Surya menceritakan awal mula perjalanan merintis usahanya yang jatuh bangun&tidak mudah untuk di lewati. Pak Surya ingin menjadi seorang pengusha sukses,memiliki banyak cabang, membuka lapangan pekerjaan&kelak bisnisnya akan Pak Surya wariskan kepada anaknya. Jadi Darren tidak perlu bersusah payah seperti dirinya dulu. Darren tinggal menikmati&meneruskannya saja. Sungguh air mata Darren tak berhenti menetes. Darren merasa bersalah kepada papanya.


👪 Halaman ketiga...Ada foto yang sama tapi saat Darren berusia 2 tahun tepat di hari ulang tahun Darren. Ada kalimat dalam foto itu" Mungkin nanti papa&mama akan semakin sibuk, sebisa mungkin papa&mama akan mendampingi kamu,jagoan kecil papa"

__ADS_1


👪 Halaman ke empat- tujuh....


__ADS_2