
Rachel pun memeluk Kevin dengan erat.
" Aku cinta banget sama kamu, Vin. Aku nggak bisa tanpa kami. Aku punya masa lalu yang buruk tapi aku salah, aku melampiaskannya pada orang lain." Rachel pun menangis tersedu-sedu. Kevin pun melepaskan pelukan Rachel lalu mengajak Rachel duduk.
" Papa aku, Kevin. Dia menghianati mama. Dia memungut wanita itu dari jalanan. Wanita itu cantik, sholeha sama persis seperti Annisa, cara berpakaiannya pun sama seperti Annisa. Wanita itu dulu hanya pedagang asongan saja hingga mama tidak sengaja menabaraknya lalu membawanya kerumah sakit dan mama merawatnya di rumah sampai wanita itu sembuh. Lalu mama memperkerjakan orang itu di rumah. Saat itu aku masih 15 tahun. Dia yang menjaga ku setiap hari. Dia baik, sopan, pakaiannya muslimah sekali tapi ternyata dia menggoda Papa Kevin." Rachel menceritakan pengalamannya hingga membuatnya menangis tersedu-sedu. Lalu Kevin pun melunak dan merangkul bahu Rachel.
" Sampai akhirnya Papa tergoda dan mama memergoki mereka melakukan hubungan suami istri. Mama sangat shock dengan kejadian itu dan ternyata diam2 Papa dan wanita itu sudah menikah siri saat aku dan mama pergi ke rumah tante aku. Awalnya mama sama sekali tidak curiga hingga akhirnya mama melihat dengan mata kepalanya sendiri. Dan akhirnya mama dan papa cerai, Kevin. Papa lebih memilih wanita itu daripada mama. Makanya aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita berhijab itu, mereka itu palsu, hanya terlihat alim di luar dan busuk di dalam. Dan karena itulah aku tidak percaya pernikahan. Akhirnya mama mengajak aku ke Amerika, aku ingin membebaskan diri aku, aku bergaul dan bertingkah sesukaku. Aku benci Kevin, mereka jahat, mereka munafik."
" Rachel, tidak semuanya seperti itu dan tidak seharusnya kamu juga membenci Annisa. Dia baik Rachel. Dia tidak bersalah. Lalu bagaimana kehidupan papa kamu dan wanita itu?"
" Mereka meninggal saat aku berusia 20 tahun dalam kecelakaan bersama anak hasil dari hubungan gelap mereka."
" Maafin aku Rachel, aku tidak pernah tau masa lalu kamu yang begitu menyakitkan. Kamu juga harus minta maaf sama Annisa. Kasihan dia tidak bersalah bahkan saat dia tahu kamu yang sudah melakukan ini semua, dia memilih untuk memaafkan kamu dan tidak memperpanjang masalah ini. Bahkan Adam pun datang dan meminta maaf pada kita semua dan sekarang dia sudah pergi ke Dubai."
__ADS_1
" Adam pergi. Hiks, hiks, hiks, hiks. Aku belum minta maaf sama Adam. Aku sudah mengadu domba mereka hanya karena masa laluku yang menyakitkan. Ajak aku bertemu Annisa dan Darren, aku mau minta maaf." Ucap Rachel yang sedari tadi masih terus saja menangis.
" Iya besok aja ya, ini sudah larut malam. Sebaiknya aku antar kamu pulang."
" Apa itu artinya kita nggak jadi putus?" tanya Rachel.
" Iya." Jawab Kevin singkat sambil manggut-manggut.
Di apartemen, Annisa dan Darren sedang berduaan di kamar. Sehari-hari sejak Annisa sembuh, Darren selalu menahan Annisa di ranjang. Entah berapa kali dalam sehari Annisa di hukum oleh Darren untuk melayaninya. Annisa pun tak berkutik dan dengan senang hati melayani suaminya.
" Sayang, kapan kita mengadakan resepsi?" Tanya Darren. Mereka berdua masih telanjang di balik selimut.
" Terserah kamu aja sayang, aku ikut aja. Kita nunggu papa sama mama pulang ke Indonesia saja."
__ADS_1
" Oke lah kalau begitu."
" Sayang aku pakai baju ya, lama-lama aku bisa masuk angin karena kamu nggak ngebolehin pakai baju. Masak iya habis selesai mandi, di larang pakai baju, habis sholat kita lepas baju lagi, lama-lama kita berdua sakit tau nggak." Protes Annisa dengan sikap suaminya.
" Nanti lah sayang, aku gemes banget sama kamu, kamu itu seksi tau nggak. Hmmmm bersyukurnya aku, istriku hanya aku yang bisa menikmatinya. Pantas saja si duo playboy itu godain kamu aja, mungkin mata mereka tembus pandang tau aja ada berlian mahal."
" Apaan sih. Lagian Kak Rio sama Kak Tori baik kok. Mereka juga nggak aneh-aneh atau bahkan kurang ajar."
" Hmmm kamu udah kemakan rayuan mereka sih."
" Udah ah nggak usah bahas mereka, kita tidur aja ya, udah malam."
" Iya, sayang." Kata Darren mengecup kening istrinya lalu memeluknya seperti guling.
__ADS_1