
Annisa, Darren dan Raja pun segera pulang ke rumah. Annisa segera mengantar Darren ke kamar lalu membaringkan Darren di tempat tidur. Sedangkan Raja kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan tugas sekolah yang ia tinggal begitu saya.
" Darren, aku ingin memberitahukan kabar ini ke semuanya. Mumpung Kak Rachel juga ada disini. Kita besok buat acara 7 bulanan sama syukuran bahwa ingatan kamu sudah pulih ya." Kata Annisa dengan begitu antusias.
" Iya, aku setuju." Jawab Darren singkat. Annisa segera mengirim pesan broadcast ke grup chat keluarga besar untuk memberitahukan bahwa ingatan Darren sudah pulih. Dan besok akan menggelar syukuran untuk kesembuhan Darren juga acara 7bulanan. Orang tua Darren yang mendapat kabar itupun sangat bahagia, mereka segera memesan tiket penerbangan ke Indonesia paling cepat. Begitu juga dengan Pak Hans dan Bu Martha, mereka yang tengah berada di luar negeri juga segera memesan tiket penerbangan tercepat. Pak Amir dan Bu Ratih juga sangat bahagia saat membaca pesan dari Annisa.
" Alhamdulillah, Pak. Nak Darren sudah ingat semuanya." Ucap Bu Ratih sambil menitikkan air matanya.
" Iya, Bu. Alhamdulillah, akhirnya Annisa mendapatkan kembali suaminya." Imbuh Pak Amir. Kevin, Rio, Tori, Dela dan Reva sangat bahagia mendapat bahwa ingatan Darren telah kembali pulih.
" Sayang, aku ambilkan minum untuk kamu ya. Kamu harus segera minum obat dan istirahat." Kata Annisa namun Darren menahan tangan Annisa untuk pergi. Darren menarik tangan Annisa dan menjatuhkan Annisa dalam pangkuannya.
" Biarkan aku memandangi wajahmu selama mungkin. Aku benar-benar merindukan mu." Ucap Darren sambil terus menatap wajah Annisa dengan seksama. Annisa pun hanya terdiam sambil mengalungkan tangannya pada Darren. Annisa membalas tatapan Darren. Hingga membuat air mata keduanya menetes membasahi pipi mereka. Penderitaan yang di alami Annisa selama berbulan-bulan, kini doanya terkabul. Suaminya kembali, kembali kepadanya,ke pelukannya. Mereka saling menangis lalu berpelukan. Berpelukan dengan sangat erat.
" Apakah aku bisa menebus semua sikap kasarku Annisa? bisakah aku menebusnya?" ucap Darren penuh dengan penyesalan. Menyesali betapa bodoh dirinya sebagai suami.
" Maafkan kebodohanku Annisa."
" Tidak, Darren. Aku ikhlas menjalani semua ini. Memang ini adalah ujian cinta yang harus kita lewati. Jangan pernah kamu menyesalinya. Ini takdir yang harus kita lewati. Aku juga merindukanmu suamiku, benar-benar merindukanmu."
" Bagaimana dengan anak kita?"
" Dia cukup kuat untuk menghadapi semua ini."
" Maafkan Papa, sayang. Papa sangat bodoh mengabaikan kamu." Ucap Darren sambil mengusap lembut perut Annisa.
" Jangan bicara seperti itu, Darren." Mereka pun terlarut dalam bahagia setelah beberapa bulan melewati penderitaan batin yang luar biasa.
__ADS_1
-
-
-
Keesokan paginya, Annisa yang sedang sibuk merias diri di depan cermin, mendengar hanphonenya berbunyi di nakas samping tempat tidurnya. Darren yang baru keluar kamar mandi setelah semalam bertempur dengan Annisa, melihat layar di handphone Annisa tertulis nama Dokter Satriya.
" Siapa, sayang?" tanya Annisa.
" Dokter Satriya."
" Ya udah kamu angkat saja. Kan hari ini memang jadwal kontrol kamu."
" Iya, itu tidak perlu lagi. Aku sudah sehat dan ingat semuanya." Sambung Darren. Darren segera menolak panggilan itu. Belum ada sepuluh detik, Satriya kembali menelepon.
" Ya udah kamu angkat saja, sayang." Darren segera menekan tombol hijau pada layar handphone Annisa.
" Assalamualaikum Annisa. Bagaimana kabar kamu dan bayi kamu. Sudah lama kita tidak bertemu, bolehkah jika kita bertemu." Suara Satriya dari seberang sana. Darren menekan mode loudspeaker, sehingga Annisa bisa mendengarnya dengan jelas. Darren memberi kode pada Annisa untuk menjawabnya.
" Waalaikumsalam Dokter. Alhamdulillah kami sehat-sehat saja. Iya, kebetulan sekali kan sekarang jadwal suami saya untuk kontrol."
" Tidak Annisa. Aku ingin bertemu denganmu berdua saja. Kita undur kontrol suami kamu besok ya."
" Memangnya harus sekarang, Dokter?"
" Iya satu jam lagi aku tunggu kamu di Steak House." Kata Satriya.
__ADS_1
" Baik, Dokter."
" Aku harap ini kamu datang sendiri ya karena ini penting."
" Iya, Dokter."
" Baiklah, terima kasih Annisa. Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam Dokter." Satriya menutup teleponnya. Darren tersenyum sinis dan menaikkan sebelah alisnya.
" Aku sudah menduganya bahwa peneror itu Satriya."
" Husss kamu nggak boleh berprasangka buruk."
" Kali ini kamu ikutin aku, ya. Kita ikuti skenario Satriya. Kita datang naik taksi dan kamu masuk sendiri, aku akan menunggu di luar."
" Baiklah kalau kamu ingin seperti itu."
" Karena selama ini bunga yang mengatasnamakan namaku, bukanlah aku pengirimnya. Maaf kalau aku bohong, semua itu bukan aku. Dia terlalu pintar untuk melakukan ini."
" Jadi bukan kamu, Darren? kenapa kamu mengijinkan aku menyimpannya?"
" Karena aku ingin mengikuti permainan orang itu. Bahkan kecelakaan ini karena aku mengejar pengirim bunga itu."
" Kenapa mereka ganggu kita, Darren?" tanya Annisa dengan wajah khawatir.
" Aku juga tidak tau maksudnya, lebih baik kita selidiki dulu." Sambung Darren.
__ADS_1
next episode - - ->