
Pagi hari di rumah Darren, Annisa sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Bu Mita. Annisa memaksa ingin memasak sendiri tanpa bantuan Bi Inah, Bi Inah pun mengiyakan dan mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Sedangkan Bu Mita menyiram tanaman di yang cukup luas di halaman depan rumah. Entah kenapa Annisa begitu semangat dan antusias untuk memasak. Untuk sarapan Annisa hanya membuat nasi goreng ayam saja, dengan lauk telur dadar&tahu tempe.
" Pagi, mah?" Sapa Darren yang baru saja turun dari mobil karena Darren menginap di rumah sakit menemani Pak Surya.
" Pagi, sayang."
" Oh ya, Annisa masih disini mah?" Tanya Darren penuh rasa ingin tahu.
" Masih, tuh dia sibuk masak di dapur." Tambah Bu Mita.
" Oh, ya udah. Darren masuk ya mah, mandi dulu. Oh ya ma, ada kabar baik kondisi papa sudah stabil dan semakin membaik, hanya tinggal menunggu papa sadar."
" Syukurlah, nak. Habis kita sarapan, mama ikut ke rumah sakit."
" Iya, mah." Darren segera masuk ke dalam dan sengaja untuk melihat Annisa memasak.
" Ehem...ehem..." Darren berdehem
" Apa?" Kata Annisa tanpa menoleh karena dia tau itu suara Darren.
" Mandi sana, habis ini kita sarapan." Perintah Annisa yang tanpa sadar dia bersikap seolah-olah dia istrinya sendiri.
" Belagu banget sih, nengok aja nggak." Keluh Darren.
" Ogah." Balas Annisa. Darren pun akhirnya pergi begitu saja menuju kamarnya. Annisa pun tersenyum puas mengerjai Darren. Setelah makanan siap, Annisa segera mengajak Bu Mita untuk sarapan.
" Kenapa masakan kamu ini enak terus ya, entah kenapa kalau kamu yang masakin tante jadi lahap banget." Puji Bu Mita.
__ADS_1
" Menurut Annisa, masakan Annisa biasa aja kok tante."
" Iya mah, biasa aja kok nggak ada yang spesial." Sahut Darren yang sebal karen mamanya selalu memuji Annisa depannya.
" Kalau biasa aja, kamu udah makan 2 piring lho." Imbuh Bu Mita.
" Yah mah, Darren kan lapar jadi enak nggak enak ya udah makan aja namanya juga lapar." Darren mencoba mengelak. Melihat sikap anaknya Bu Mita hanya tersenyum penuh makna, sedangkan ekspresi Annisa sangat ingin melayangkan sendok dan garpu ke kepala Darren.
" Tante maaf ya habis ini Annisa mau pamit dulu, Annisa ada kuliah pagi."
" Iya sayang nggak apa-apa, nanti biar Darren yang antar ya."
" Emmmm nggak usah tante, nanti malah merepotkan."
" Kamu kuliah di mana?"
" Lho berarti kalian 1 kampus dong. Pantes aja kalian nggak kelihatan canggung apa sebenarnya kalian sudah saling kenal?"
" Belum/ Sudah." Jawab Annisa&Darren bersamaan.
" Annisa baru 1 bulan ini kenal Darren kalau maslah perjodohan Annisa juga baru tau kalau ternyata itu Darren.
" Baguslah kalau begitu, kalian bisa segera akrab dan segera tumbuhlah benih-benih cinta." Kata-kata Bu Mita membuat Annisa kaget sampai dia tersedak.Uhuk...uhuk...
" Gue tau, cinta lo buat siapa Annisa." Batin Darren.
" Ya usah kalau gitu nanti kalian bareng aja ya, dan terima kasih kamu sudah nemenin&merwat tante."
__ADS_1
" Sama-sama tante."
Setelah mengantarkan Bu Mita ke Rumah sakit, Darren dan Annisa pun pergi ke kampus. Sepanjang perjalanan Darren mencoba membahas tentang perjodohan dengan Annisa.
" Kalau lo keberatan dengan perjodohan ini, lebih baik lo mundur aja. Gue nggak akan maksa." Kata Darren tiba-tiba.
" Gue tau, siapa yang ada di hati lo. Daripada lo tersiksa nikah sama gue, mending lebih baik lo mundur." Tambah Darren. Annisa pun hanya diam mendengar ucapan Darren.
" Kalau lo sendiri gimana? Apa lo setuju dengan perjodohan ini?" Annisa berbalik tanya pada Darren.
" Jujur awalnya gue marah, kecewa gue pikir bokap gue bakal jodohin gue sama Klarissa, anak relasi bokap gue. Ya gue nggak suka sama dia, sama sikap dia, sebagi cewek dia itu Bad girl. Dan keluarganya cuma ngincer kekayaan keluarga gue doang karena gue anak tunggal. Tapi ternyata bukan dia, itulah yang bikin lega,siapapun itu asal bukan dia, gue setuju. Apalgi setelah gue lihat buku agenda bokap gue. Jadi mungkin gue bakal setuju dengan perjodohan ini." Kata Darren panjang lebar.
" Nih." Kata Darren sambil mengulurkan buku agenda Pak Surya tentang anaknya.
" Awalnya gue mikir bokap nggaj pernah mikirin gue ternyata gue salah." Tambah Darren. Annisa pun mulai membacanya&Annisa mulai berkaca-kaca, hingga dia melihat halamn terakhir.
" Loh, ini kan foto kita" Protes Annisa. Yang akan mencoba mengambil foto yang tertempel pada buku agenda itu. Reflek Darren memegang tangan Annisa. Annisa pun kaget karena Darren menyentuhnya.
" Please, gue mohon jangan ambil. Itu hadiah dari bokap buat pernikahan kita." Kata Darren. Darren pun melepaskan genggamannya. Annisa pun mengurungkan niatnya.
" Melihat buku agenda itu, sepertinya bokap emang udah nyusun perjodohan kita sejak kita masih kecil. Yah tapi nggak apa-apalah ya, untung lo yang jadi jodoh gue, lumyan kan bisa di masakin terus, ada yang ngurusin tanpa di gaji, iya nggak sih." Kata Darren yang mencoba memecah ketengangan Annisa.
" Udah lah setuju aja, hidup lo nggak bakal kekurangan kok, gue kan kaya punya segalanya, lo mau apa tinggal nunjuk aja, lo pasti bahagia&nggak usah susah payah buat kerja, tugas lo cuma diem di rumah, masak, ngurus gue&lo gue kasih fasilitas yang belum pernah lo dapetin."
" Jaga omongan lo, kalau lo nggak pingin gue batalin perjodohan kita. Menikah bukan semata-mata karena materi,menikah itu ibadah untuk menghindari zina. Keimanan seseorang nggak bisa di ukur dengan materi. Coba lo pikir hal apa yang paling penting di saat lo udah jadi suami&imam dalam rumah tangga selain harta&kekayaan yang lo miliki yang abadi sekalipun maut udah menjemput kita." Skak mat Annisa.
" Stop turunin gue disini." Kata Annisa dengan nada tinggi. Darren pun menghentikan mobilnya dan Annisa segera turun lalu memilih naik angkot.
__ADS_1
" Emang gue salah ngomong,bukanya semua cewek sukanya gitu." Gumam Darren pada dirinya sendiri. Darren begitu kesal&memukul-mukuk stir mobilnya.