
Mereka semua pun berangkat ke rumah sakit untuk tes DNA agar lebih meyakinkan lagi. Setelah itu Kevin mengajak Annisa dan juga kedua orang tua Annisa untuk mengunjungi rumah nya. Rumah mewahnya tentu tidak kalah dengan rumah mewah Darren.
" Annisa, sekarang ini rumah kamu juga. Kamu bebas dan nggak usah sungkan-sungkan kesini." Kata Kevin.
" Iya , Kak terima kasih." Ucap Annisa. Annisa pun melihat-lihat foto yang terpajang di dinding. Annisa melihat foto Pak Hans, Bu Marta, Kevin kecil dan juga dirinya sendiri. Annisa mengambil foto yang tertempel di dinding itu dan melihat wajah orang tua kandungnya. Annisa menitikan air mata saat melihat wajah orang tua kandungnya sendiri.
" Dua hari lagi, Papa dan Mama akan pulang ke Indonesia, mereka pasti sangat bahagia melihat kamu sudah di temukan dan masih hidup. Dan adikku yang cantik ini tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Sekali lagi terima kasih, Pak untuk segala kebaikan anda dan juga Ibu, yang sudah menjaga dan mendidik adik saya menjadi gadis yang luar biasa." Kata Kevin dengan haru.
" Hei, dia bukan gadis lagi." Sahut Darren.
" Oh iya, lupa." Sambung Kevin disambut senyum bahagia mereka semua.
❤️❤️❤️❤️❤️
Sesampainya di apartemen, Darren dan Annisa mereka sedang bercengkrama di ruang tengah. Annisa duduk bersandar di pangkuan Darren dan tangan Darren memeluk tubuh Annisa dari belakang.
" Aku nggak nyangka kalau Kak Kevin itu saudara aku. Aku benar-benar nggak nyangka bahwa kisah hidup aku akan berubah seperti ini. Ya Allah, sayang aku bahagia sekali." Kata Annisa.
__ADS_1
" Sama aku juga bahagia, memang sih wajah kamu sama Kevin itu ada miripnya dan aku baru menyadarinya. Bahkan saat kamu sakit, Kevin marah sekali dan dia sangat marah pada Rachel, perhatian yang dia tunjukkan lebih dari seorang teman. Memang ikatan batin itu sangat kuat."
" Sayang, kalau papa mamaku pulang, aku ingin membuat syukuran dengan memanggil anak yatim. Dan ajak Raja sekalian. Sayang aku ingin jadiin Raja anak asuh kita. Kita kasih dia rumah yang layak untuk tinggal bersama ibunya dan kita bantu biaya pendidikan dia."
" Iya, aku setuju kok. Nanti kamu syukurannya mau di rumah kita, apartemen atau rumah Kevin?"
" Di rumah Kak Kevin aja ya, kasihan kan papaku katanya sedang lumpuh. Nanti mama papa kamu kasih tau ya biar bisa pulang ke Indonesia dua hari lagi. Iya, aku akan mengabari mereka secepatnya sayang."
" Terima kasih ya."
Dua hari kemudian, Kevin mengadakan pesta penyambutan kedatangan Annisa. Kevin sengaja memberi kejutan pada kedua orang tuanya. Di sana, orang tua Darren, orang tua angkat Annisa, Rio, Tori, Dela, Reva, Rachel dan Kevin sudah berkumpul disana. Tak lupa Annisa mengajak Pak Usman dan Bu Ratih beserta seluruh anak panti asuhan Kasih Bunda.
" Iya Kevin, mama juga tidak sabar sayang. Dua puluh tahun sudah kita terpisah." Ucap Bu Marta yang sudah tak bisa menahan air matanya. Tak lama kemudian Annisa dan Darren datang.
" Assalamualaikum." Salam Annisa dan Darren.
" Waalaikumusalam." Jawab mereka semua dengan kompak.
__ADS_1
" Mah, dia Annisa. Abel kita." Kata Kevin sambil melirik ke arah Annisa yang masih berdiri di depan pintu. Bu Marta pun segera berlari menghampiri Annisa dan memeluk Annisa dengan erat. Isakan tangis Bu Marta yang telah dua puluh tahun berpisah dengan anaknya sudah tak terbendung lagi. Bu Marta meraba wajah Annisa dan tubuh Annisa dengan kasih sayang. Sudah lama dia tidak pernah menyentuh tubuh putrinya. Annisa pun tak kuasa menahan tangisnya. Berkali-kali Bu Marta melihat dan memeluk Annisa kembali bagai mimpi.
" Abel, anak mama. Mama kangen nak. Ya Allah sayang kamu sudah dewasa. Terima kasih Ya Allah sudah mengembalikan anak hamba." Pelukan Bu Marta pun semakin erat. Pak Hans yang terduduk di kursi roda pun tak sanggup membendung air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata. Dengan sekuat tenaga Pak Hans mencoba berdiri dan berjalan untuk menghampiri Annisa, melihat semua orang terkejut dan terharu. Pak Hans berjalan terbata, melihat Papanya yang berusaha berjalan mendekat, Annisa pun segera berlari dan menghamburkan pelukan pada Pak Hans.
" Anak, Papa."
" Papa. Papa bisa jalan, Pa." Ucap Annisa.
" Papa mencoba sekuat tenaga untuk kamu, nak." Kata Pak Hans. Annisa pun membantu Pak Hans duduk di kursi rodanya. Annisa duduk berlutut meletakkan kepalanya di pangkuan ayahnya lalu di susul Kevin dan Bu Marta, mereka saling berpelukan bersama. Kerinduan dan perpisahan selama dua puluh tahun kini terpecahkan sudah. Mereka semua yang ada di sana menangis haru, sekalipun itu Darren. Bu Marta pun memeluk erat Bu Ratih dan mengucapkan terima kasih.
" Pak Amir, Bu Ratih. Terima kasih telah menjaga dan merawat anak saya. Kami tidak tau apa yang harus kami katakan dan ucapan selain itu. Terima kasih." Kata Bu Marta sambil menangis. Dan saat akan berlutut mengucapkan terima kasih, Bu Ratih menahan Bu Marta.
" Tidak Bu Marta jangan lakukan itu. Kami mencintai dan merawat Annisa tulus seperti anak kami sendiri."
Pak Hans pun mencoba berdiri di bantu Kevin lalu memeluk Pak Amir.
" Pak Amir terima kasih. Terima kasih telah menjaga dan merawat putri kami. Kami tidak bisa membayangkan jika bukan bapak yang menemukan anak kami. Ya Allah terima kasih." Ucap Pak Hans.
__ADS_1
" Pa, mama bahagia sekali." Bisik Bu Mita pada Pak Surya yang sedari tadi sudah menangis terharu.
" Iya, Ma. Papa pun amat sangat bahagia." Imbuh Pak Surya.