
Sesampainya di toko buku. Selama mencari buku, tangan Darren tidak pernah melepaskan genggamannya pada Annisa. Semua orang di toko itu terus memperhatikan Darren dan Annisa.
" Darren, lihat tuh semua orang memperhatikan kita."
" Biarin, cuek aja."
" Aku kesana sebentar ya." Kata Annisa menuju rak buku mode.
" Jangan jauh2 ya." Pinta Darren. Saat Annisa sibuk mencari buku tiba-tiba ada suara yang mengagetkannya. ADAM.
" Annisa..." Seru Adam.
" Eh Kak Adam." Balas Annisa dengan kaget. Annisa merasa kasihan pada Adam karena wajahnya masih terlihat membiru.
" Kak Adam udah baikan?"
" Alhamdulillah, udah kok. Kamu kenapa kemarin nggak ke kampus."
" Oh, aku lagi nggak enak badan. Kak, aku kesana dulu." Kata Annisa yang ingin buru2 pergi karena takut jika Darren tau dan timbul masalah baru namun langkahnya di hentikan oleh Adam lagi.
" Tunggu Annisa. Kemarin kamu nggak kenapa2 kan? Kenapa Darren marah banget pas lihat kejadian itu? Sampai dia mukulin aku? Apa kamu punya hubungan sama dia?"
" Iya, dia istri gue." Sahut Darren yang tiba-tiba berdiri di belakang Annisa. Annisa pun kaget setengah mati, Annisa takut jika Darren terpancing emosi lagi.
" Hah... Apa? Kamu nikah sama Darren. Kamu menolak ajakan taaruf sama aku demi nikah sama dia. Sama preman ini?" Kata Adam meninggikan suaranya.
" Heh, jaga omongan lo." Kata Darren dengan penuh emosi sambil memegang kerah baju Adam. Annisa pun langsung menurunkan tangan Darren dan menggenggamnya dengan erat,mencoba meredam amarah Derren.
" Darren." Kata Annisa sambil menggelengkan kepalanya pelan.
" Aku nggak nyangka Kak Adam semudah itu menilai orang dari luarnya, preman ini memang suami aku, suami pilihan orang tua aku, permisi Kak. Assalamualaikum." Kata Annisa dengan tegas lalu pergi begitu sambil menggenggam erat tangan Darren. Melihat sikap Annisa yang membelanya, membuat Darren tersenyum bahagia, tidak menyangka bahwa istrinya itu akan tegas pada si Pangeran Arab itu. Mereka pun segera masuk mobil.
" Makasih ya kamu udah belain aku." Kata Darren.
" Hmmm siapa juga yang belain kamu. Ya aku takut aja kamu bakal kepancing emosi dan ribut lagi sampai baku hantam. Nanti kalau viral gimana?" Goda Annisa.
" Yah, seharusnya aku tau dari awal. Kalau yang kamu lakuin itu cuma buat nglindungin Adam karena kamu nggak mau dia kenapa-kenapa." Kata Darren dengan kesal. Annisa pun tersenyum kecil melihat sikap suaminya yang sedang cemburu. Annisa meraih tangan kiri Darren dan menyatukan dengan tangannya.
__ADS_1
" Seharusnya aku mau di cium kamu itu udah bisa nunjukkin bahwa aku ini istri kamu&milik kamu, bukan orang lain. Makanya kalau nikah nggak usah pakai surat perjanjian nggak penting, ujung2nya kamu pasti nyesel dan cinta sama aku." Goda Annisa.
" Iya... kamu memang menggoda sih." Tambah Darren. Merekapun tertawa.
" Kita cari makan dulu ya."
" Ok."
" Aku nggak nyangka Annisa kenapa harus Darren. Dia, begundal itu. Kamu nolak aku cuma karena dia." Gumam Adam pada dirinya sendiri yang sedari tadi masih di toko buku. PLEASE ADAM,jangan jadi JOKER 🤡👹
Darren dan Annisa pergi di salah satu cafe yang tak jauh dari appartemennya. Saat mereka sedang asyik ngobrol tiba2 ada 2 orang cewek yang menghampiri. Dela&Reva.
" Annisa.... Oppa..." Kata mereka berdua dengan kompak. Mereka menepuk pipi mereka lalu saling cubit dan nyata.
" Kamu ngapain sama oppa." Tanya Reva kaget.
" Udah kalian duduk aja dulu. Biar aku jelasin." Kata Annisa.
" Kenapa ya hari ini kok temanya terbongkarnya rahasia." Gumam Darren heran.
" Kita udah nikah, Annisa istri gue. Puas." Sahut Darren.
" Hussss..... ngaco kamu. Jadi gini ya ceritanya.........." Annisa mulai menceritakannya. Dela dan Reva sungguh shock mendengar cerita Annisa sedangkan Darren masih sibuk menikmati makanannya.
" Pantes aja dari mulai cincin, barang branded,handphone, semua dari oppa." Kata Reva sambil melirik ke arah Darren.
" Kenapa sih manggil oppa mulu."
" Biarin ah, mereka kalau panggil temen2 kamu itu oppa artinya Kakak kalau bahasa koreanya." Jelas Annisa.
" Iya tau kali. Aku kan juga ada darah Korea nya." Timpal Darren.
" Jujur sih, aku nggak rela kalau kamu sama oppa. Setujunya sama pangeran Arab." Celetuk Dela yang mengundang tatapan tajam Darren.
" Hehehe kalian juga cocok kok." Ralat Dela karena takut melihat tatapan tajam Darren.
" Ya udah kan sekarang kalian udah tau. Gue traktir makan sepuasnya, mau bungkus juga boleh." Kata Darren.
__ADS_1
" Beneran nih?" Tanya Reva memastikan.
" Iya cepetan." Tambah Annisa. Dela dan Reva pun segera memesan makanan yang mereka suka dan yang paling mahal. Sekaligus kesempatan untuk merampok Darren.
" Sekalian aja gue mau bungkus buat pembantu dan sopir gue, mereka kan pasti seneng, kebetulan ada kenponakan gue tadi main kerumah." Celetuk Dela yang sibuk memilih menu.
" Iya, bener juga tuh, Del. Aku juga ah kebetulan di ruma ada sepupu gue main dari Bandung, Sekalian aja nebeng makanan. Hehehe" Tambah Reva, mereka pun saling bisik2 supaya Darren dan Annisa tidak mendengar.
" Makanan kita di bungkus aja ya, An. Takut kemaleman." Kata Dela.
" Terserah kalian aja."
Tak lama kemudian terlihat pelayan cafe membawa banyak box makanan yang terbungkus dalam 6 kresek. Annisa hanya bisa melongo melihat itu.
" Kalian ini ngrampok ya." Celetuk Annisa.
" Nggak kok. Tadi kan oppa yang nyruh pesen sepuasnya."
" Kalian ini bikin malu aku aja."
" Ya udah nggak apa2 kan, berkah buat kalian berdua ya. Oppa, makasih ya." Kata Dela dengan genit.
" Makasih oppa, kita pamit ya." Tambah Dela. Mereka pun pergi gitu aja. Melihat sikap teman-teman Annisa, Darren hanya bisa terseyum dan menggeleng gelengkan kepalanya.
" Maaf ya temen aku tadi udah keterlaluan." Kata Annisa.
" Nggak apa2 kok. Mbak..." Kata Darren melambaikan tangan pada pelayan.
" Bill nya mbk."
" Ini, mas." Kata pelayan itu sambil tak berkedip melihat Darren.
" Mbak... mbak..." Kata Darren sambil memberikan kartunya.
" Eh ... iya mas. Maaf habis mas nya ganteng." Celetuk pelayan. Annisa pun hanya tersenyum melihat suaminya begitu di kagumi para kaum hawa.
" Ini mas tadi totalnya 1juta. Ini kartunya mas, terima kasih."
__ADS_1
" 1 juta cuma buat makan." Batin Annisa.
" Sama-sama."