Jihad Cinta

Jihad Cinta
EPISODE 13~ Annisa~


__ADS_3

#FlashBack End....


Pagi harinya, mendengar kabar Pak Surya di rawar di rumah sakit. Annisa dan orang tuanya segera pergi. Limas belas menit perjalan mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Mereka segera menuju ruang ICU dan betapa kagetnya Annisa ketika melihat Darren ada di situ. Apakah ada keluarganya yang sakit atau ada hubungan apa Darren dengan Pak Surya. Apalagi Darren dalam keadaan seperti itu. Darren tidak semenyebalkan seperti biasa. Dia tampak rapuh, lusuh, berantakan dengan mata yang sembab. Itulah yang ada di pikiran Annisa. Melihat kedatangan Pak Amir dan keluarganya. Bu Mita mencoba sekuat tenaga untuk berdiri&kemudian langsung memelu Bu Ratih dengan perasaan yang amat sedih. Sedangkan Pak Amir menghampiri Pak Rudi yang berdiri di dekat pintu ruang ICU. Menyadari kehadiran Pak Amir, Pak Rudi pun segera menjabat tangan Pak Amir.


" Bagaimana, Pak Rudi keadaan Pak Surya." Tanya Pak Amir seraya membalas jabat tangan Pak Rudi.


" Pak Surya masih belum sadar juga sadar, Pak. Dari semalam belum ada perubahan."


" Ya Allah, semoga Pak Surya segera sehat kembali." Kata Pak Amir penuh harap. Pak Rudi pun menceritkan kondisi Pak Surya pada Pak Amir, mereka terlibat dalam obrolan serius begitu juga dengan Bu Ratih yang masih mencoba menenangkan Bu Mita. Sedangkan Annisa masih diam mematung, Annisa merasa bingung dengan keadaan ini. Apalagi melihat Darren yang duduk di lantai sambil menyandarkan badannya dengan mata terpejam. Sepertinya dia sangat lelah sehingga tidak menyadari kehadiran Annisa dan keluarganya. Menyadari Annisa seperti orang linglung, Bu Mita yang mengetahui kehadiran Annisa mengajak annisa duduk di kursi ruang tunggu yang berjajar. Reflek, Annisa pun mencium tangan Bu Mita kemudian memeluk Bu Mita.


" Tante, sabar ya. Annisa yakin, Pak Surya pasti sembuh. Beliau adalah orang yang sangat baik."


" Terima kasih, sayang." Jawab Bu Mita dengan suara lirih.


" Tuan muda Darren pun sangat terpukul, dia sangat shock dengan kondisi Pak Surya." Kata Pak Rudi sambil menunjuk ke arah Darren. Pak Amir mengikuti arah jari telunjuk Pak Rudi. Pak Amir melihat kondisi Darren yang sangat kacau lalu mencoba menghampirinya dengan hati-hati.


" Nak, Darren." Sapa Pak Amir dengan membungkuk sambil menepuk pelan pundak Darren. Darren yang dari tadi memejamkan matanya pun kaget saat membuka matanya.

__ADS_1


" Bapak... Bapak... siapa." Tanya Darren dengan penuh kebingungan. Darren pun berusaha berdiri dan di bantu oleh Pak Amir karena Darren nampak lemas dan pucat. Darren pun masih belum menyadari kehadiran Annisa.


" Ini Pak Amir, tuan Darren. Beliau adalah sahabat Tuan Surya. Mungkin tuan Surya sudah menceritakan tentang perjodohan itu." Kata Pak Rudi yang mencoba menjelaskan pada Darren. Mendengar penjelasan Pak Rudi. Annisa pun sangat kaget bahwa Darren lah yang akan dia nikahi nanti. Mendengar penjelasan Pak Rudi, mata Darren melirik ke arah kiri, dimana Darren baru menyadari kehadiran Annisa yang tengah menemani Mamanya.


" Pak Amir, tentang perjodohan kami. Darren ingin menunggu Papa sadar dan pulih, ketika Papa kembali sehat. Secepatnya Darren akan menikahi dengan putri Bapak sesuai dengan yang papa saya inginkan." Kata Darren penuh dengan keyakinan. Mendengar jawaban Darren, Pak Amir tersenyum dengan senang bahwa Darren menyetujui perjodohan itu.


" Sudah lah, nak. Kita jangan memikirkan hal itu dulu. Yang terpenting kita semua fokus dulu dengan kondisi Pak Surya." Kata Pak Surya sambil mengelus punggung Darren. Annisa yang mendengar kata-kata Darren bahwa Darren menyetujui perjodohan itu, sontak membuatnya kaget, dia tidak menyangka bahwa Darren menyetujuinya.


" Apa, dia setuju. Lalu bagaimana nasibku. Jangan-jangan setelah menikah dia akan menyiksaku, kita saja tidak ada perasaan apa-apa bagaimana mau menikah." Gumam Annisa dalam hati. Darren pun menghampiri Bu Ratih&Annisa. Darren langsung memegang tangan Bu Ratih lalu menciumnya. Bu Ratih sangat kaget melihat sikap sopan Darren.


" Nak, Darren. Subhanallah, kamu tampan sekali nak." Puji Bu Ratih sambil mengelus lengan Darren. Darren pun hanya tersenyum kecil. Kemudian Darren mengulurkan tangannya pada Annisa.


" Belagu banget sih." Batin Darren dengan kesal.


"Tuan muda sebaiknya istirahat saja dulu untuk bersih-bersih, begitu juga dengan nyonya Mita."


Pinta Pak Rudi pada Darren dan Mamanya. Pak Rudi kasihan dan khawatir jika sampai mereka berdua ikut drop karena beban lelah badan&pikiran.

__ADS_1


" Iya, Bu Mita sama nak Darren pulang saja. Kebetulan taxi online yang saya tumpangi masih menunggu di luar." Tambah Pak Amir.


" Atau saya antar dulu tuan?" Kata Pak Rudi.


" Nggak usah, Pak Rudi di sini saja biar aku sama mama naik taxi online aja. Nanti takutnya kalau ada apa-apa sama papa atau dokter datang nggak ada yang jaga papa."


" Biar kami yang bantu menemani Pak Rudi disini." Imbuh Pak Amir.


" Annisa, tolong kamu ikut tante&Darren kerumah ya. Tolong temani tante." Pinta Bu Mita pada Annisa sambil memegang erat tangan Annisa.


" Tapi tante....." Kata Annisa ragu namun sebenarnya dia merasa tidak nyaman.


" Bu Ratih, Pak Amir. Boleh saya mengajak Annisa." Tanya Bu Mita.


" Iya, Bu. Nak, kamu tolong temani Bu Mita ya." Pinta Bu Ratih dengan halus pada putrinya itu.


" Ibu... kenapa sih malah ngebolehin." Gerutu Annisa dalam hati.

__ADS_1


" Tuh, tante sudah minta ijin sama orang tua kamu."


" Iya tante, Annisa mau kok temenin tante." Kata Annisa dengan senyum paksa.


__ADS_2