
Annisa segera menyeka wajah suaminya dengan air hangat yang dia bawa. Di pandangnya wajah suaminya itu, berharap ketika suaminya bangun bisa mengingat kembali. Sesekali Annisa mengusap perutnya yang semakin hari semakin membesar.
" Sayang, kita doain papa ya, semoga papa cepat sehat dan pulih kembali. Supaya nanti saat kamu lahir, papa sudah kembali bersama kita," ucap Annisa sambil mengelus perutnya.
" Aku kangen kamu sayang, kangen banget. Aku kangen kamu peluk." Kata Annisa dengan mata berkaca-kaca. Annisa merebahkan kepalanya di dada suaminya itu. Air matanya pun menetes. Darren yang tanpa sadar, tangannya tiba-tiba melingkar di tubuh Annisa. Annisa begitu kaget melihat respon suaminya itu. Annisa sangat bahagia sekalipun Darren melakukannya karena pengaruh alkohol. Annisa membaringkan tubuhnya di samping Darren, lalu membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya, hingga mereka tidur dengan saling berpelukan.
Mereka berdua tidur hingga menjelang sore, tiba-tiba mata Darren terbuka dan mengucek matanya, melihat tangan kanannya melingkar memeluk tubuh Annisa dan Annisa sangat nyaman berada di pelukan Darren. Darren menarik nafas panjang menyadari apa yang sedang dia lakukan. Darren memandangi wajah Annisa yang sedang tertidur itu, mencoba mengingat apa benar wanita yang ada di sampingnya itu adalah istrinya. Darren mencoba membelai wajah Annisa dengan lembut, lalu meraba dan mengelus perut Annisa yang buncit. Ada sesuatu yang beda yang di rasakan oleh hatinya. Saat Darren tenggelam dalam rasa itu tiba-tiba Annisa terbangun dan Darren langsung menarik tangannya dan pelukannya pada tubuh Annisa.
" Kamu sudah bangun?" tanya Annisa sambil mengucek matanya. Darren hanya diam terduduk sambil melipat tangannya dan memalingkan wajahnya.
" Maaf aku ketiduran disini," Annisa pun segera beranjak bangun dan pergi menuju dapur membuatkan susu untuk Darren. Tak lama kemudian Annisa kembali ke kamar dan melihat Darren masih berada di posisi yang sama
" Ini kamu cepat minum susunya," kata Annisa sambil menyodorkan segelas susu.
" Ngapain kamu ngasih aku susu, aku nggak suka. Aku eneg tiap kali nyium bau susu. Aku nggak suka, buang sana." Ketus Darren.
" Lho, bukanya selama ini kamu suka susu ya, setiap kali aku buatin, kamu selalu meminumnya sampai habis." Kata Annisa dengan bingung.
" Nggak, aku nggak pernah suka. Udah buang sana"
" Kamu cobain aja, kamu itu suka," kata Annisa yang mendekatkan gelas susu pada Darren. Dengan kesal, Darren menampik tangan Annisa dan membuat gelas terlepas dari tangannya.
PYYYAAARRR !
__ADS_1
Gelas pun jatuh ke lantai dan pecah. Annisa benar-benar terkejut dengan sikap Darren.
" Keterlaluan kamu, Darren. Aku tau kamu hilang ingatan, aku tau kamu sakit, aku tau kamu nggak ingat aku, nggak ingat semua kenangan tentang kita. Bahkan kami pergi bersama wanita lain yang bukan muhrim kamu, aku masih bisa tahan karena sebagian memori kamu tentang aku hilang tapi setidaknya kami masih punya hari nurani kan, Darren," kata Annisa yang meluapkan kemarahannya pada Darren dengan deraian air mata yang membasahi pipinya. Darren pun tetap diam tak bergeming mencoba mencerna apa yang Annisa katakan. Annisa pun segera memungut pecahan kaca di lantai sambil terisak dalam tangisnya. Hatinya begitu sakit, sampai kapan hal ini akan berhenti dan suaminya segera kembali.
Awwwwww !
Annisa mengaduh sakit. Membuat Darren spontan berdiri dan bangun dari tempat tidurnya dan melihat keadaan Annisa. Darren melihat tangan Annisa berdarah, membuat Darren melihat gambar yang mengingtkan akan pecahan kaca dan luka pada tubuh seseorang, bayangan hitam yang tidak jelas dalam pikirannya. Membuat Darren memegang kepalanya dengan kuat karena berusaha mengingat sesuatu. Annisa yang panik memegang tubuh Darren hingga tak terasa kakinya terkena pecahan gelas. Darren pun akhirnya terjatuh di ranjangnya dan pingsan.
"Darren, bangun Darren," kata Annisa sambil menepuk pipi suaminya itu. Annisa meraih handphonenya lalu menelepon dokter Satriya.
" Assalamualaikum dokter Satriya. Tolong segera kerumah, Dok. Darren tadi memegangi kepalanya lalu tak sadarkan diri," ucap Annisa dengan suara yang gemetar.
" Waalaikumsalam Annisa, iya saya kesana. Kamu jangan panik, ya." Kata Dokter Satriya.
" Waalaikumsalam."
Annisa menutup telponnya dan segera memanggil Bi Inah untuk membantu membereska pecahan gelas. Bi Inah yang masuk ke kamar pun kaget melihat kaki Annisa berdarah dan Darren yang tak sadarkan diri.
" Ya Allah, Non Annisa. Non kenapa?" ucap Bi Inah yang kemudian menangis melihat kondisi Annisa.
" Udah nggak apa-apa, Bi. Annisa sudah telpon dokter untuk datang ke rumah." kata Annisa sambil menahan sakit mencabut pecahan gelas yang menancap di kakinya.
Tak lama kemudian, dokter Satriya datang dan segera masuk ke kamar.
__ADS_1
" Assalamualaikum, Annisa." Sapa Dokter Satriya.
" Waalaikumsalam, Dokter. Mari dokter, suami saya masih pingsan dan belum sadar." Kata Annisa dengan panik. Dokter Satriya melirik ke arah kaki Annisa yang berdarah.
" Apa kamu tahu Annisa, kalau kamu juga terluka?"
" Oh ini, ini bukan apa-apa dokter." Imbuh Annisa. Dokter Satriya hanya menggeleng heran. Dokter Satriya pun segera memeriksa kondisi Darren. Setelah itu dokter melihat luka Annisa.
" Tolong ya kamu duduk, sekalian saya obati luka kamu," kata Dokter Satriya. Annisa pun menurut.
" Kamu sedang hamil Annisa, kamu harus bisa jaga diri kamu untuk bayi kamu. Kasihan bayi yang sedang kamu kandung," kata Dokter Satriya sembari membersihkan luka lalu membalut luka Annisa dengan kasa.
" Sebenarnya tadi apa yang terjadi?" tanya dokter Satriya.
" Tadi Darren menepis tangan saya dokter karena saya berusaha membuatnya meminum susu tapi dia marah dan bilang tidak suka, padahal sebelum dia lupa ingatan, setiap kali saya membuatkannya dia selalu menghabiskan. Namun tadi dia menepis tangan saya sampai gelasnya jatuh dan pecah. Dan saat dia ingin berusaha melihat kondisi saya, yang mana tangan saya terkena pecahan gelas, tiba-tiba dia memegangi kepalanya dan merasakan sakit lalu pingsan." Cerita Annisa.
" Berarti di masa lalunya, dia memang tidak menyukai susu dan bisa saja saat dia bersama kamu, dia mulai menyukainya. Mungkin saja dia mengingat sebuah kejadian di dalam otaknya. Yang jelas jangan paksa dia, perlahan saja Annisa. Saya khawatir jika di paksakan akan berakibat fatal," jelas dokter Satriya.
" Iya, Dok terima kasih."
" Kamu yang sabar ya, sekalian ini obat buat kamu. Kalau ada apa-apa segera hubungi saya kembali. Ingat, jaga kondisi anak kamu. Saya pamit, assalamualaikum."
" Waalaikumsalam, terima kasih banyak dokter." Balas Annisa. Dokter Satriya pun segera berpamitan dan pergi.
__ADS_1