
" Apa mungkin ketiduran di kantor." Gumam Annisa lagi.
" Ya sudah aku mandi aja dulu sekalian aku panasin masakannya." Gumam Annisa lagi.
Setelah selesai mandi dan berganti baju, Annisa mendengar pintu terbuka. Annisa segera keluar dan melihat Darren sangat lusuh. Wajahnya lebam dan tangannya berdarah. Annisa pun khawatir.
" Darren, kamu kenapa? Kenapa jadi gini? Kamu mabuk lagi?" Tanya Annisa sambil mencium baju Darren. Darren pun hanya diam tak bergeming, dia berjalan begitu saja melewati Annisa. Darren segera masuk kamar dan langsung tidur. Annisa pun hanya bisa menangis.
" Kenapa kamu, Darren? Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu cuekin aku? Aku punya salah apa?"
Annisa pun menyusul Darren dan membersihkan lukanya. Namun Darren menolaknya dan menampik tangan Annisa yang memegang kain kompres. Annisa pun sangat kaget dengan sikap Darren yang kasar.
" Kamu kenapa Darren? Apa yang salah sama aku?" Tanya Annisa perlahan.
" Kita kan baik-baik saja tapi kenapa kamu pulang dengan keadaan seperti ini." Kata Annisa dengan matanya yang berkaca-kaca. Namun Darren tidak menjawab. Sesekali Annisa menyeka air matanya yang tidak bisa dia tahan. Annisa pun memilih pergi dan mencoba membuat susu untuk Darren. Tak lama kemudian Annisa membawa susu dan mencoba membujuk Darren.
" Sayang, kamu minum dulu susunya. Aku udah buatin kamu." Kata Annisa sambil menepuk bahu Darren yang tidur membelakanginya. Darren pun marah dan menampik gelas susu yang di bawa Annisa hingga terjatuh dan pecah. Annisa pun sangat terkejut.
__ADS_1
" Darren kamu kenapa? Aku salah apa?" Kata Annisa lirih. Annisa pun segera membersihkan pecahan gelas itu.
" Auw." Annisa mengaduh pelan karena serpihan gekas itu mengenai tangannya dan membuat tangannya berdarah. Darren pun tetap tidak peduli. Annisa pun membersihkannya lalu mengepelnya dan segera memplester lukanya.
" Aku mau ke kampus, silahkan kalau kamu sudah siap bicara, aku akan dengerin. Dan aku minta maaf Darren. Assalamualaikum."
Annisa segera pamit dan berangkat ke kampus karena hari ini dia ada kuis. Annisa memilih naik taxi supaya segera sampai kampus. Sesampainya di kampus dan masuk kelas. Reva dan Dela melihat Annisa sedih, matanya sembab.
" Annisa, kamu nggak apa-apa?" Tanya Dela.
" Nggak kok. Aku semalaman belajar jadi begadang dan Darren juga lembur di kantor." Kata Annisa bukan yang sejujurnya.
" Oh, gitu. Syukurlah kalau gitu." Kata Reva. Tak lama kemudian Dosen datang dan segera memulai kuis. Selesai kuis, Annisa memilih pergi ke perpustakaan. Namun lagi-lagi dia bertemu Adam dan diam-diam paparazi Rachel sudah siap dengan handphonya. Adam menghampiri Annisa yang duduk sambil membaca buku tapi sebenarnya Annisa terbenam dalam lamunannya.
" Annisa." Suara Adam mengagetkan Darren.
" Eh Kak Adam." Kata Annisa yang bangun dari lamunannya.
__ADS_1
" Kamu kenapa? Tadi aku lihat dari jauh kayak sedih gitu, mata kamu sembab Annisa dan tangan kamu kenapa." Kata Adam yang reflek memegang tangan Annisa yang terluka. Sungguh adegan yang di tunggu-tunggu Rachel dan membuat Rachel segera memotretnya.
" Maaf Kak." Kata Annisa sambil melepaskan tangannya dari genggaman Adam.
" Maaf Annisa. Jujur aku khawatir. Apa Darren melukai kamu?" Tanya Adam. Tanpa di sadari air mata Annisa menetes.
" Nggak, kok. Maaf Kak. Aku permisi dulu. Assalamualaikum." Kata Annisa yang buru-buru pergi. Hati Adam sungguh sedih melihat keadaan Annisa. Secepat kilat Rachel pun mengirimkan foto-foto itu pada Darren. Darren yang masih berbaring di tempat tidur sambil melamun melihat handphonenya dan melihat pesan foto dari Rachel. Darren semakin tersulut emosi. Saat melihat tangan Annisa yang luka di pegang oleh Adam. Darren tersenyum sinis lalu membanting handphone nya di lantai hingga membuat layarnya pecah. Darren segera bangun dan menuju meja makan, terlihat Annisa sudah menyiapkan sarapan yang sudah dari pagi Annisa siapkan dan ada pesan di kertas.
" Cepat sarapan suamiku, love you." Isi tulisan itu. Darren pun merobeknya dan menyingkirkan makanan yang sudah di sajikan di meja sehingga membuatnya berantakan di lantai dan piring-piring pun menjadi pecah.
" Nggak usah pura-pura aku muak." Teriak Darren sambil membuat rumah menjadi berantakan dan membuat benda yang terbuat dari kaca menjadi pecah. Darren pun pergi ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya yang masih terbalut baju di bawah shower.
Setelah kuliah selesai, Annisa begitu kaget ketika pulang melihat semua berantakan, semua pecah.
" Apa ada maling atau rampok." Pikir Annisa. Annisa segera ke kamar, melihat handphone Darren hancur. Darren pun tidak ada di kamar. Annisa mendengar suara di kamar mandi. Annisa pun mengetuknya namun tidak ada jawaban. Annisa segera masuk dan melihat Darren pingsan di kamar mandi dengan posisi shower masih menyala dan Annisa segera membantu Darren bangun dan membopongnya ke kasur. Dengan menangis, Annisa mengganti pakaian Darren. Dan Annisa pun juga segera mengganti bajunya. Annisa menyelimuti Darren dan membiarkannya tidur. Annisa pun segera memungut handphone Darren yang rusak. Membersihkan rumahnya yang sudah penuh dengan pecahan kaca, entah berapa kali tangan Annisa berdarah dan entah berapa luka yang tergores di tangan Annisa. Dengan terisak dalam tangisnya, Annisa membersihkan rumahnya dengan pikiran dan hati yang kacau kenapa suaminya tiba-tiba berubah. Sehingga menghancurkan perabot rumah, membuang makanan dan handphone pun menjadi korbannya. Tiba-tiba ada pecahan kaca yang cukup besar tidak sengaja terinjak mengenai telapak Annisa, membuat Annisa teriak dan meringis kesakitan. Annisa pun segera mencabutnya.
" Kenapa kamu nggak mau berbagi kesedihan denganku, kenapa Darren? Aku istri kamu? Kamu kenapa? Apa yang terjadi? Harus sampai kapan kamu begini?" Kata Annisa dalam hati sambil mengobati lukanya.
__ADS_1