
Saat Annisa sibuk memasak di dapur, Annisa begitu kaget melihat Darren bertelanjang dada dengan handuk yang melililit pinggangnya. Seketika Annisa menutup matanya.
" Kenapa? Baru lihat orang telanjang ya." Goda Darren.
" Awas lo macam-macam." Kata Annisa sambil menodongkan pisaunya. Darren pun hanya tersenyum. Tiba-tiba Darren teringat kata-kata Rio, kalau cewek seperti Annisa itu permen, terbungkus rapat&sudah pasti perawan ting-ting,masih orisinil.
" Mikir apa gue, gila." Batin Darren. Darren segera ganti baju. Annisa pun segera menyiapkan makan malam di meja makan.
" Gue mandi dulu, ya." Pamit Annisa.
" Sebentar...Sekarang kita biasain pake " aku-kamu" jangan " gue-lo". Yah gue nggak mau orang tua kita mengira kalau kita cuma main-main aja." Kata Darren.
" Iya, cowok bawel." Sahut Annisa dengan ketus. Annisa segera pergi ke kamar mandi&dia baru ingat kalau dia belum membawa baju sama sekali. Setelah mandi, Annisa panik harus pakai baju apa. Dia hanya mengenakan handuk kimono panjang selutut dan menggulung rambutnya yang basah dengan handuk. Dia takut kalau auratnya harus terlihat oleh Darren. Tapi sejenak dia berfikir bahwan dia&Darren sudah resmi menikah jadi sudah muhrim sekalipun ini perjodohan. Annisa segera keluat dan menghampiri Darren yang sedang menikmati makananya. Darren tersedak kaget saat pertama kali melihat Annisa, melihat leher Annisa&kakinya yang putih mulus karena itulah auratnya yang masih terlihat, jangan-jangan Darren pinginnya yang lebih lagi,hehehehe.
" Bener kata Rio, ini pemennya baru di kupas ujungnya, gimana kalau di kupas semua." Batin ngaco Darren.
" Eh rambutnya gimana sih, jangan-jangan brekele kribo lagi." Batin Darren lagi.
" Kok bengong sih. Gue...maksutnya aku belum bawa baju sama sekali, aku harus pakai apa." Tanya Annisa.
" Ya udah pake itu aja." Kata Darren yang kemudian beranjak dari meja makan mengahmpiri Annisa.
" Awas jangan macam-macam dan dekat-dekat." Annisa pun berjalan mundur dan masuk ke kamar, Darren pun malah semakin dekat,membuat Annisa juga mundur perlahan, sampai....BUK...Annisa terjatuh di kasur. Darren pun semakin mendekat salah satu lutunya menumpu pada bibir kasur, Darren terus menatap Annisa, reflek Annisa langsung mendorong Darren dengan keras posisinya seperti tikus terjepit.
"Aaawwwww.... sakit tau. Belum apa-apa udah KDRT." Teriak Darren.
" Emangnya lo mau ngapain, lo ingat perjanjian kita."
" Eh cewek bodoh itu handphone ku di kasur."
Annisa pun segera memberikannya dengan segera.
" Sini bantuin gue berdiri. Pinggang gue ngilu rasanya. Maksutnya... aku. Kamu kecil-kecil tenaga kayak kuda."
" Katanya nggak boleh saling nyentuh."
" Heh, cewek bodoh. Ya kali nggak boleh nyentuh di lihat kondisinya dong. Misal kalau kamu tenggelam, mau di biarin." Keluh Darren.
" Iya...iya." Jawab Annisa pasrah. Annisa pun menarik dengan, tubuh Darren yang tinggi&tubuh proporsional membuat Annisa kuwalahn. Annisa malah terjatuh di atas tubuh Darren. Annisa merasakan bidangnya dada suaminya itu. Dan handuk yang menggulung rambut Annisa terlepas, rambutnya pun tergerai lurus&panjang sehingga menutup muka Darren. Annisa pun segera berdiri&membantu Darren lagi.
" Modus ya, lo." Ketus Annisa. Darren pun terpesona melihat kecantikan Annisa tanpa hijabnya. Rambutnya sangat indah dan membuatnya semakin cantik.
" Wah benar kata Rio, kecantikan gadis seperti Annisa hanya untuk suaminya dan ketika di luar harus di tutup rapat-rapat." Gumam Darren dalam hati.
" Terpesona ya sama gue." Ledek Annisa.
" Siapa juga. Aku telpon mama dulu supya beliin kamu baju baru." Darren langsung menelepon mamanya dan Annisa kembali ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
" Mah, tolong beliin baju muslim untuk Annisa ya. Darren lupa tidak membawa baju untuk Annisa. Soalnya Annisa habis mandi dan bingung nggak ada baju." Jelas Darren. Mama Darren yang masih di rumah sakit meloudspeaker handphonenya sehingga terdengar oleh Pak Surya.
__ADS_1
" Wah... jangan-jangan mereka mau buatin kita cucu mah." Bisik Pak Surya.
" Ah papa ini. Iya mama hubungi butik langganan mama biar langsung di kirim ke rumah ya.
" Mmmm... Darren nggak di rumah mah. Darren di apartemen, kirim ke apartemen Darren ya."
" Tuh kan,mah. Mereka pasti mau bikin cucu buat kita sampek ke apartemen segala." Bisik PK Surya lagi.
" Iya sayang ,secepatnya mama kirim."
" Ok, mah. Makasih." Telpon di tutup.
" Kenapa mesti baju baru, baju aku di rumah juga banyak."
" Udah lah lagian baju kamu udah kusem warnanya, jadi ganti yang baru aja."
" Kenapa sih selalu aja hina gue."
" Eh kok gue-lo"
" Udah ah susah gue,mau aku-kamu, di coba pelan-pelan aja."
" Terserah deh. Tuh cepetan makan."
Annisa yang masih mengenakan handuk kimono menuju meja makan. Tak lama kemudian karyawan butik langganan Bu Mita datang mengrimkan baju yang lumyan banyk. Darren segera membawanya ke kamar. Annisa pun menyusulnya.
" Ya Allah bagus banget... Makasih ya Darren, sampein makasih juga buat mama."
" Assalamualaikum, Annisa. Kamu nggak apa-apakan"
" Nggak kok, aku baik-baik aja."
" Aku khawatir lihat Darren menarik-narik kamu. Beneran nggak apa-apa."
" Iya, Kak. Nggak usah khawatir, aku baik-baik aja."
" Ya sudah, aku tutup dulu telponnya. Baik-baik ya Annisa. Asslamualaikum."
" Walaikumsalam." Rupanya Darren daritDi menguping
" Sama Adam aja bisa pake aku-kamu, sama suami aja kasar." Protes Darren. Seketika Annisa sadar, jika dia sudah menikah&mempunyai suami.
" Iya...iya maaf."
"Oh ya, besok sore tolong anter ke rumah ibu ya, aku mau ngajar ngaji anak-anak disana." Lanjut Annisa.
" Oke."
" Dan tolong kamu keluar, aku mau ganti baju."
__ADS_1
" Kan udah suami istri, nggak apa-apa dong."
" Darren...." Kata Annisa.
" Iya, iya." Darren pun segera keluar dan menutup pintunya.
" Gue mau keluar." Pamit Darren.
" Kemana?"
" Ya suka-suka gue, lagian juga ngapain di rumah toh kita juga nggak saling cinta, gue gabut." Kata Darren dengan cuek. Darren mengambil jaket kemudian pergi
" Lo mending tidur aja." Tambah Darren singkat.
" Hmmmm sabar. Dimanapun itu, semoga Allah selalu melindungi kamu." Gumam Annisa.
Annisa hanya bisa pasrah dengan semua keadaan ini. Annisa pun segera tidur dan memejamkan matanya. Namun tiba-tiba handphonenya berbunyi.MAMA MITA. Annisa segera mengangkatnya.
" Assalamualaikum Annisa. Maaf ya mama ganggu, gimana Darren" Tanya Bu Mita memastikan bahwa Darren bersama Annisa
" Walaikumsalam, Ma. Darren baik kok mah, Darren lagi tidur kok." Annisa terpaksa berbohong karena tidak mau menambah pikiran mertuanya.
" Papa gimana mah?"
" Papa semakin baik kondisinya, malam ini mama tidur di rumah sakit."
" Maaf ya,ma. Annisa nggak bisa temenin."
" Nggak apa-apa kok. Mama kan paham kalian pengantin baru." Goda Bu Mita.
" Ya udah selamat istirahat ya, sayang. Assalamualaikum." Sambung Bu Mita
" Iya, mama juga ya. Waalaikumsalam."
" Maafin Annisa mah. Maafin Annisa Ya Allah." Batin Annisa dengan sedih. Malam itu Annisa mencoba memejamkan matanya, namun terasa sangat sulit. Annisa memikirkan Darren, kemana Darren pergi.
Darren rupanya berada di sebuah club malam bersama teman-temannya. Darren pun minum sangat banyak, sehingga membuat teman-temannya terheran-heran.
" Jangan banyak-banyak, Dar. Lo nyetir sendiri bahaya tau." Tegur Tori.
" Udah lah, semabuk apapun gue. Gue pasti nyampek rumah. Ayo kita turun." Ajak Darren pada teman-temannya menuju lantai dansa.
Lantai dansa diskotik buat"jeb...ajeb...ajeb...ajeb...ajeb.." hahahahahaha.
" Tumben-tumbenan ni anak ngajak ngedance" Heran Rio. Mereka bertiga pun menuruti kemauan Darren. Di apartemen Annisa selalu melihat jam, jam menunjukkan pukul 02.00 pagi. Annisa mondar-mondir khawatir dengan Darren. Kalau ada apa-apa gimana. Annisa merasa kepikiran dengan janjinya pada Bu Mita. Sampai pada akhirnya terdengar adzan subuh. Annisa segera mengambil air wudhu dan segera melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai sholat subuh, belum sempat Annisa melepas mukenanya, Annisa mendengar pintun apartemen terbuka. Annisa segera melihatnya dan ternyata Darren pulang dengan keadaan mabuk berat. Hingga membuatnya terjatuh di depan pintu. Annisa segera membopong Darren. Setengah sadar, Darren melihat ke arah Annisa.
" Heh ngapain lo bantuin gue, gue nggak butuh bantuan lo." Racau Darren. Annisa pun tidak peduli dengan ocehan Darren dan tetap membantunya ke kamar. Tubuh Darren sangat berat, Annisa merasa kuwalahan. Annisa membantu Darren berbaring di kasur namun Annisa malah ikut terjatuh di atas tubuh Darren. Saat Annisa berusaha bangun, kedua tangan Darren justru memeluk Annisa dengan eratnya, membuat Annisa tidak bisa bergerak. Annisa pun takut, takut jika Darren lepas kendali. Karena ini adalah pertama kalinya Annisa di sentuh oleh laki-laki.
" Ini guling gue kan." Oceh Darren tanpa sadar. Annisa mencoba mengamati wajah Darren.
__ADS_1
" Darren, hmmm orang tua mana yang nggak marah melihat anaknya kayak gini." Batin Annisa. Saat Darren sudah tenang. Annisa perlahan melepaskan tubuhnya dari Darren.