Jihad Cinta

Jihad Cinta
EPISODE 86 ~ the power of love ~


__ADS_3

Malam harinya, Darren sudah bersiap-siap berangkat ke klub malam. Suara klakson mobil Klarissa yang sudah menunggu Darren di luar pagar berbunyi berkali-kali. Annisa yang baru selesai sholat isya' langsung menegur Darren.


" Kamu mau kemana?"


" Biasa lah, aku kan tiap malam suka pergi ke klub malam sama Klarissa," kata Darren dengan entengnya.


" Emangnya apa hubungan kamu sama Klarissa?" tanya Annisa penasaran sembari menahan perih di hatinya.


" Cuma temen aja sih. Dia anaknya asyik di ajak hang out dan nggak ngebosenin kayak kamu," jawab Darren yang kemudian berlalu pergi.


" Setidaknya aku tahu, bahwa saat kamu masih mengingtaku, kamu jujur bahwa hubungan kalian ternyata hanya sebatas teman," kata Annisa dengan air mata yang telah mengalir membasahi pipinya.


Darren dan Klarissa pun pergi ke klub malam bersama, mereka minum, dansa dan tertawa bahagia. Darren sungguh berubah, benar-benar bukan Darren yang di kenal oleh Annisa. Sedangkan Klarissa justru memanfaatkan moment tersebut untuk mencuci otak Darren dan merebut Darren dari Annisa.


Annisa segera turun menuju meja makan karena mertuanya sudah menunggu.


" Sayang ayo makan, obat nya sudah mama siapkan," ajak Bu Mita.


" Papa llihat, Darren barusan keluar, kemana dia, nak?"

__ADS_1


" Pergi ke klub Pa, bersama Klarissa," kata Annisa dengan nada sedih.


" Sayang, kamu sabar ya." Kata Pak Surya berusaha menguatkan Dira.


" Insya Allah, Dira akan berusaha sabar."


" Sayang, mama mohon sesuai janji kamu dulu, tolong jangan tinggalkan Darren ya."


" Tidak Ma, Annisa tidak akan pernah meninggalkan Darren. Annisa akan berjuang untuk Darren," kata Annisa sembari menggenggam erat tangan Bu Mita.


" Nak, kondisi perusahaan kita sepertinya kurang kondusif dan Papa sama Mama terpaksa malam ini harus pergi ke Jerman lagi dan Papa ada kontrol jantung rutin juga disana." Kata Pak Surya dengan sedih yang tidak tega meninggalkan menantunya sendiri.


" Kalau ada apa-apa segera hubungi kami ya, sayang," imbuh Bu Mita.


" Iya, Ma. Doakan kami ya, Ma-Pa."


" Pasti, nak." Kata Pak Surya dengan yakin. Mereka segera menyelesaikan makan malam dan Pak Surya serta Bu Mita segera berkemas dan berangkat ke Jerman. Berat bagi mereka berdua meninggalkan Annisa dan Darren, begitu pula dengan Annisa, sangat berat melepas kepergian mertuanya. Mereka saling berpelukan dengan erat dan meneteskan air mata yang berderai membasahi pipi.


Annisa kini di rumah sendiri. Annisa menuju kamarnya sambil membaca Al Qur'an dengan duduk berselonjor di sofa. Malam pun semakin larut, Annisa berkali-kali menengok kearah jendela kamarnya, melihat keluar berharap Darren segera pulang namun Darren tak kunjung pulang hingga membuat Annisa tertidur. Adzan subuh berkumandang, membangunkan Annisa dari tidurnya.

__ADS_1


" Ya Allah aku tertidur rupanya," ucap Annisa sambil mengucek matanya. Matanya berkeliling sudut kamar namun dia tidak menemukan Darren hingga Annisa mendengar suara mobil dari luar. Annisa menengok kearah luar jendela dan mendapati Darren turun dari mobil Klarissa dalam keadaan mabuk. Annisa menahan rasa sakit dan perih luar biasa namun dia harus kuat demi mendapatkan cinta Darren kembali.


CEKLEK !


Suara Darren membuka pintu dengan keadaan mabuk dan sempoyongan, namun Annisa masih memalingkan wajahnya ke arah jendela.


" Kamu kenapa baru pulang? ini sudah waktu subuh. Tidak baik seorang suami pergi bersama wanita lain hingga menjelang pagi," kata Annisa yang masih memalingkan wajahnya, Annisa berusaha menutupi air mata yang sedari tadi sudah menetes di pipinya.


" Udah lah kamu nggak usah cerewet yang penting aku pulang," jawab Darren seenaknya sembari membanting tubuhnya di atas kasur. Annisa pun hanya diam mengalah ketika dia mengingat bahwa suaminya masih belum ingat apapun. Seketika Darren langsung tertidur. Annisa melepaskan jaket dan sepatu Darren. Setelah itu Annisa menuju dapur mengambil air hangat untuk membasuh wajah Darren dengan handuk kecil untuk wajah.


" Non, yang kuat ya," ucap Bi Inah yang sedari tadi melihat Annisa berkali-kali menyeka air matanya. Annisa pun langsung memeluk Bi Inah.


" Sabar ya, Non. Mas Darren pasti segera pulih. Tetap kuat demi anak yang non Annisa kandung," kata Bi Inah yang ikut menangis.


" Iya, Bi. Doain Annisa supaya Annisa selalu kuat dan sabar," kata Annisa.


" Iya, non. Pasti Bibi doain."


" Ya sudah, Bi. Annisa ke atas dulu ya," kata Annisa sambil membawa baskom berisi air hangat.

__ADS_1


__ADS_2