
" Dasar kampungan." Kata Klarissa dengan suara tinggi sambil mendorong Annisa dengan keras hingga membuat Annisa hampir terjatuh, untung saja ada Darren yang berdiri di belakang Annisa. Klarissa pun segera pergi dengan amarahnya.
" Keterlaluan kamu Klarissa." Ucap Darren dengan marah dan mengejar Klarissa namun Annisa mencegahnya.
" Wah hebat kamu Annisa, ini pertama kalinya Annisa marah. Kamu bisa marah juga. Kamu yang marahin Klarissa, aku yang takut." Celetuk Rio.
" Keterlaluan banget emang si Klarissa nggak punya perasaan." Tambah Tori.
Annisa pun duduk mencoba mengatur nafasnya yang tadi sudah marah-marah.
" Astaghfirullahal'adzim, Ya Allah ampuni Annisa. Annisa sudah marah-marah." Gumam Annisa. Darren mengambilkan Annisa segelas air minum.
" Minum dulu ya." Kata Darren.
" Makasih ya sayang. Maaf ya tadi aku udah marah-marah."
" Kamu hebat tadi, aku justru kangen kamu yang galak, pas awal-awal kita ketemu dulu."
" Gombal." Kompak Rio dan Tori yang di sambut tawa Annisa.
" Kamu kok pucat Annisa. Kamu nggak sakit kan?" Tanya Darren panik.
" Nggak apa-apa kok." Kata Annisa dengan lemas. Tiba-tiba pandangan Annisa menjadi gelap lalu pingsan dan terjatuh dari kursinya.
__ADS_1
" Annisa." Teriak Darren. Rio dan Tori pun ikut panik. Darren segera menggendong Annisa dan membawanya kerumah sakit bersama Rio dan Tori. Annisa segera di bawa ke ruang UGD. Darren hanya bisa mondar-mandir dan panik dengan menangis. Rio dan Tori pun mencoba menenangkan Darren.
" Tenang Darren, Annisa pasti baik-baik aja." Kata Tori. Tak lama kemudian dokter keluar.
" Keluarga pasien Annisa." Kata Dokter.
" Saya suaminya dok."
" Mari Pak masuk. Ikut saya." Dokter pun mengajak Darren ke ruang UGD.
" Sayang, kamu sudah siuman." Kata Darren yang melihat Annisa sudah duduk di kursi berhadapan dengan dokter.
" Silahkan duduk, Pak."
" Istri anda tidak apa-apa Pak. Bapak, Ibu selamat ya kalian berdua akan menjadi orang tua." Kata Dokter tersenyum. Darren pun berkaca-kaca seolah tidak percaya dengan hal itu begitu pula dengan Annisa.
" Berarti istri saya hamil, Dok. Saya akan jadi Papa." Seru Darren dengan bahagia.
" Iya." Jawab dokter. Darren pun segera memeluk Annisa dengat erat. Annisa sangat bahagia dan menitikan air matanya.
" Alhamdulillah sayang, akhirnya akan jadi orang tua." Imbuh Annisa.
" Jangan lupa ya buk makanannya di jaga, penuhi gizi yang seimbang. Saya tuliskan resep untuk vitamin dan pereda mual."
__ADS_1
" Oh ya, Dok. Akhir-akhir ini istri saya makan banyak sekali, hal-hal yang tidak pernah di lakukannya menjadi di lakukannya apa itu juga karena hamil Dok."
" Iya, Pak. Biasanya itu itu di sebut ngidam. Hormon dan emosional ibu hamil itu tidak seimbang dan naik turu jadi bapak harus ekstra sabar ya ketika moodnya sedang berubah-ubah." Kata Dokter.
" Iya, Dokter. Terima kasih dokter. Kami permisi." Kata Darren.
Rio dan Tori yang sedari tadi cemas menunggu pun akhirnya merasa lega saat melihat Darren dan Annisa keluar.
" Annisa kamu nggak apa?" Tanya Rio dan Tori bergantian.
" Iya, Kak Annisa nggak apa-apa. Makasih ya udah khawatirin Annisa."
" Kalian bakal punya keponakan tau nggak sih?" Seru Darren.
" Maksud lo, Annisa hamil?" Seru Tori.
" Iya, Annisa hami." Imbuh Darren sambil mengelus perut Annisa.
" Alhamdulillah akhirnya si Darren laki sejati juga." Celetuk Rio.
" Maksud lo apa? Ya udah gue mau belanja dulu ya buat asupan si dedek bayi. Kalian berdua pulang naik taxi ya. Bye." Kata Darren yang pergi berlalu meninggalkan Rio dan Tori.
" Keterlaluan emang si Darren. Giliran seneng aja kita di tinggalin." Keluh Tori.
__ADS_1
" Sabar, Bro. Kayaknya kita juga mesti cepet-cepet nikah deh." Sambung Rio.