
Annisa yang sedang di butik, di kagetkan dengan kehadiran Kevin dan Rachel.
" Annisa !" seru Rachel yang menghampiri Annisa di ruangannya karena ruangan Annisa memang terbuka supaya mudah untuk mengontrol pekerjaan para pegawainya dan para customer bisa konsultasi langsung dengannya.
" Hai, Kak Rachel. Ya Allah kita udah lama banget nggak ketemu." Sahut Annisa seraya memeluk Rachel.
" Gimana Annisa kabar kamu? wah perut kamu udah semakin besar ya?" sambung Rachel sambil mengusap perut buncit Annisa.
" Alhamdulillah sehat, kok. Kak Rachel sendiri gimana? dan kapan datang?"
" Aku juga baik, kok. Aku baru aja nyampai terus aku ngajak Kevin mampir kesini."
" Gimana Darren Annisa? apa ada perkembangan?" tanya Kevin.
" Meskipun belum mengingat sepenuhnya tapi hati Darren sudah melunak dan bisa menerima Annisa, Kak."
" Syukurlah, Kakak seneng dengernya. Kakak jadi lega. Kakak selalu sedih kalau lihat kamu sedih apalagi kamu sekarang sedang hamil."
Di sela-sela obrolan mereka, ada kurir datang mengirimkan buket bunga.
" Permisi." Sapa kurir. Annisa segera menghampiri kurir tersebut.
" Iya, Pak."
" Dengan Ibu Annisa. Ini ada buket bunga untuk Ibu Annisa."
" Dari siapa, Pak?"
" Dari Pak Darren." Jawab kurir itu.
__ADS_1
" Iya, Pak terima kasih."
" Baik, saya permisi."
Sejenak Annisa mencium aroma bunga mawar putih itu. Lalu meletakannya di meja.
" Dapat bunga dari siapa Annisa?" tanya Kevin
" Siapa lagi kalau bukan Darren, Kak."
" Ah syukurlah Darren sudah kembali hatinya untuk kamu." Imbuh Annisa.
" Aku turut sedih atas apa yang terjadi sama kamu ya Annisa. Kevin sudah cerita semuanya. Kamu benar-benar tegar hadapi ini semua. Kamu lebih dewasa di banding usia kamu. Aku malu sama kamu. Aku juga malu dulu pernah jahat sama kamu. Dan aku pun pasrah kalau kamu nggak merestui hubungan ku dengan Kevin."
" Kak Rachel, itu semua sudah masa lalu. Aku tidak ada masalah kok dengan hubungan kalian. Kalau Mama sama Papa sudah setuju, aku menolak pun percuma." Jawab Annisa sambil tersenyum.
" Kak Rachel terlalu berlebihan." Sahut Rachel.
" Eh udah waktunya makan siang, gimana kalau kita makan bareng." Ajak Kevin dengan semangat.
" Sebentar ya, Kak. Darren juga mau kesini ngajak makan siang. Sekalian jemput Raja katanya."
" Oke kita tunggu." Kata Kevin. Tak menunggu lama, Darren pun akhirnya datang bersama Raja.
" Hei, Vin. Eh Rachel, elo disini juga. Udah berapa tahun ya kita nggak ketemu sejak kita lulus SMA." Mendengar Darren menyapanya, membuat Rachel bingung, bukan kah baru beberapa bulan lalu kita ketemu. Darren pun langsung memeluk Rachel, pelukan seorang teman. Namun Rachel merasa iba karena Darren bahkan tidak mengingat kejadian beberapa bulan lalu.
" Eh iya, hehehe. Dan sekarang elo udah nikah aja tanpa kasih kabar." Sahut Rachel yang mencoba memahami ingatan Darren yang belum pulih.
" Ya sorry deh. Gue aja nggak ingat kapan gue nikah dan tiba-tiba udah mau punya anak." Celetuk Darren.
__ADS_1
" Semoga seiring berjalannya waktu, elo bisa pulih Dar." Imbuh Kevin.
" Hai, Raja. Baru pulang ya?" sapa Kevin.
" Iya, Kak." Jawab Raja sambil mencium punggung tangan Kevin dan Rachel.
" Eh sebentar, bukanya ini anak kecil penjual jagung waktu itu ya. Kok sama kalian sekarang?" tanya Rachel.
" Iya, Kak. Aku adopsi Raja. Sekarang dia yatim piatu. Aku kasihan sama dia. Jadi dia tinggal sama aku." Jawab Annisa sambil merangkul Raja.
" Ya ampun Annisa. Aku semakin kagum sama kamu. Tuh kan bener, kamu memang berhati malaikat. Aku benar-benar menyesal pernah nyakitin kamu waktu itu. Aku harus banyak belajar dari kamu." Kata Rachel dengan wajah sedih penuh sesal.
" Emang, kamu pernah ngapain Annisa?" tanya Darren penuh dengan selidik.
" Udah nggak apa-apa kok. Ayo kita makan siang sama-sama." Sahut Annisa mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Oke, ayo. Pakai mobil gue aja." Kata Kevin. Tiba-tiba mata Darren tertuju pada bunga di atas meja.
" Bunga itu." Sahut Darren tiba-tiba.
" Oh ya aku lupa bilang makasih sama kamu. Makasih kamu udah ngirimin aku bunga. Padahal kan kita tiap hari ketemu, kamu pakai acara kirim bunga." Kata Annisa. Darren pun merasa bingung dengan ucapan Annisa, karena Darren merasa tidak pernah mengirim bunga tersebut.
" Oh, iya maaf. Aku lupa." Sahut Darren sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Sekarang orang itu mengatas namakan aku sebagai pengirim untuk menutupi ini semua. Sial siapa dia? aku harus ikuti permainannya." Kata Darren dalam hati.
Mereka pun segera berangkat untuk makan siang bersama. Di dalam mobil, pikiran Darren kemana-mana. Memikirkan siapa orang misterius itu, susah sekali untuk menerka-nerka.
Maafkan author yang telat upload yaaaaa..... semoga kalian tetap setia 😍😍😍
__ADS_1