Jihad Cinta

Jihad Cinta
EPISODE 82 ~ KELUARGA ~


__ADS_3

Setelah mendapat penjelasan dari dokter, Kevin pun langsung terduduk frustasi, bagaimana jika Annisa mengetahui tentang kondisi Darren. Rio dan Tori kompak memeluk Darren, mereka bertiga pun terisak dalam tangis tak terkecuali Bu Ratih, Pak Amir dan Raja. Kevin pun segera kembali ke ruang rawat Annisa. Kevin menangis melihat Annisa yang masih terbaring lemah sambil meringkuk membelakangi dirinya, menatap adiknya yang telah lama terpisah namun kini adiknya harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini di saat kondisinya tengah hamil.


" Annisa," panggil Kevin lirih. Annisa pun membalikkan badannya menghadap Kevin dan mencoba duduk.


" Operasinya sudah selesai, Kak?" tanya Annisa.


" Sudah tapi Darren masih belum sadar, kita banyak berdoa ya karena Darren sedang koma saat ini, semoga ada mukjizat," ucap Kevin yang sebenarnya bibirnya sangat berat untuk mengatakan hal buruk itu.


" Apa? koma? Annisa mau lihat Darren," Annisa melepas paksa infus di tangannya dan segera turun dari tempat tidur sambil menangis, Kevin pun segera memeluknya.


" Annisa, kamu jangan seperti ini. Ingat bayi dalam kandungan kamu, dia juga butuh kamu. Kamu boleh sedih, boleh marah, boleh menangis tetapi di perut kamu ada nyawa yang harus kamu lindungi," kata Kevin yang berusaha menenangkan Annisa. Annisa hanya bisa menangis, menangis dan menangis.


" Antar Annisa menemui Darren, Kak," ucap Annisa. Kevin pun menuntun pelan Annisa menuju ruang ICU. Tori dan Rio yang melihat Annisa, segera menghampiri Annisa.


" Annisa, kamu harus kuat untuk anak kamu," kata Tori.

__ADS_1


" Iya, Annisa kamu jangan khawatir. Kamu disini nggak sendirian, kita semua disini ada untuk kamu," imbuh Rio yang berusaha menenangkan Annisa.


" Terima kasih, Kak," balas Annisa singkat. Annisa hanya bisa melihat Darren dari balik kaca ruang ICU. Melihat tubuh suaminya penuh dengan berbagai macam selang yang menempel di tubuhnya. Sungguh sakit hati Annisa melihat keadaan suaminya seperti itu, malam itu sekaligus menjadi malam yang terburuk bagi dirinya. Annisa hanya bisa menangis dari balik kaca. Pak Amir dan Bu Ratih, segera menghampiri dan memeluk Annisa, berusaha menguatkan Annisa untuk melewati ujian ini.


Pagi pun telah tiba, mereka saling berganti jaga di luar untuk menemani Darren dan juga berjaga di dalam untuk menemani Annisa. Hingga Pak Surya dan Bu Mita datang di ikuti oleh Pak Hans dan Bu Marta, mereka berjalan dengan langkah yang cepat menyusuri koridor rumah sakit dan segera menemui Annisa terlebih dahulu. Kevin yang berada bersama Annisa sedang mencoba menyuapi Annisa sarapan karena Annisa menyuruh Pak Amir dan Bu Ratih pulang terlebih dahulu untuk bergantian jaga.


" Annisa!" Seru Pak Hans sembari memeluk putrinya itu.


" Papa? Papa sudah sembuh?"


" Kenapa kamu malah menanyakan kondisi Papa. Kondisi kamu gimana, nak?"


" Annisa, gimana Darren?" isak tangis Bu Mita sambil memeluk Annisa dengan kuat. Mereka berdua tenggelam dalam tangis.


" Maafin Annisa, Ma. Annisa nggak bisa jagain Darren," ucap Annisa tersedu-sedu pada Bu Mita.

__ADS_1


" Tidak, sayang. Jangan salahin diri kamu," imbuh Bu Mita.


" Nak, Papa yakin Darren pasti melewati ini semua. Dia anak yang kuat," kata Pak Surya dengan menitikan air matanya.


" Kevin sedang menyelidiki ini, Pa. Menurut Raja teman kecil kami sekaligus saksi mata, melihat mobil itu sebenarnya ingin menabrak Annisa namun Darren segera mendorong Annisa dan mengorbankan dirinya untuk Annisa jadi ini tabrak lari yang di sengaja. Kevin, Tori, dan Rio masih menyelidiki ini,"jelas Kevin.


" Apa, Kak? jadi ini semua sudah di rencanakan?" tanya Annisa terkejut.


" Kita tinggal melihat rekaman cctv dari jalan itu," imbuh Kevin.


" Lakukan apapun Kevin, kalau perlu hukum mati mereka yang sudah melukai anak, menantu dan cucu ku," kata Pak Hans penuh dengan amarah.


" Iya, Kevin kami semua mendukung kamu, nak" imbuh Pak Surya.


" Annisa ingat, kamu harus menjaga kandungan kamu, kami juga ingin kamu dan bayi kamu selalu sehat," kata Bu Mita mencoba mengingatkan. Setelah menjenguk Annisa, mereka semua melihat kondisi Darren namun hanya bisa melihatnya dari balik kaca. Bu Mita pun menangis di pelukan Pak Surya, suaminya. Hatinya begitu sakit melihat kondisi putra semata wayangnya itu. Darren yang biasanya kuat, bandel, pembangkang, kini hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di ruang ICU.

__ADS_1


" Surya, Mita, kalian pasti kuat. Kita harus kuat untuk Annisa dan calon cucu kita," kata Pak Hans.


" Iya, kita semua harus kuat untuk mendukung Annisa. Kita sama-sama terluka melihat kondisi anak-anak kita," kata Bu Marta yang menitikan air matanya.


__ADS_2