
Malam harinya Darren mengajak Annisa makan bersama dengan Bad Boys dan disana juga ada Rachel. Rachel tidak menyukai Annisa karena Kevin pernah membandingkannya dengan Annisa dan berharap Rachel bisa seperti Annisa. Seperti biasa Rachel bersikap agresif pada Kevin. Ya seolah dunia milik berdua. Annisa hanya merasa heran saja, kenapa ada seorang wanita yang begitu merendahkan dirinya, seharusnya bisa menjaga apa yang dia punya, ya maklum karena teman2 Annisa belum ada yang seperti Rachel, gaya hidup Rachel dan berpakaiannya memang kebarat-baratan. Annisa juga khawatir jika Darren mencuri pandang dengan tubuh Rachel yang seksi.
" Annisa, gimana kuliah kamu?" Tanya Kevin mencoba mengubah ketegangan.
" Mmm baik kok, Kak. Oh ya majalah kampus udah terbit, besok mungkin baru di terbitkan. Artikel kamu pasti bakal booming. Ya apalagi sesuai dengan kisah kamu." Kata Kevin sambil tertawa.
" Emangnya kamu buat artikel apa?" Tanya Darren penasaran.
" Jihad Cinta, itu juga sebelum kita kenal dan nikah." Sahut Annisa.
" Kebetulan banget ya sama kisah kamu sama Darren." Tambah Kevin. Annisa pun hanya tersenyum.
" Lagian si Darren mau-mau aja sih nikah sama kamu. Banyak lho cewek bule2 yang cantik dan seksi ngapain kamu milih dia. Jangan2 dia cuma mau morotin kamu dengan kedok jilbab." Ketus Rachel.
" Astagfirullah, Kak. Aku nggak seperti itu." Kata Annisa.
" Jaga ucapan kamu Rachel." Bentak Kevin.
" Annisa baik lagi, gue aja pingin suatu saat bisa dapat istri kayak Annisa." Sahut Rio.
" Iya gue juga. Sebrengsek brengseknya cowok, pasti mereka pingin dapat jodoh yang baik pula."
" Udah lah Rachel lo jangan menghina Annisa di depan gue. Dia ini terbaik buat gue. Dia bisa ngerubah gue jadi manusia lebih baik."
" Apaan? Mereka semua itu munafik. Hanya kedok saja pura2 lugu dan polos tapi brengsek." Kata Rachel dengan penuh emosi.
" Stop Rachel, Annisa tidak pernah menyakiti kamu bahkan kalian baru kenal tapi kenapa kamu tega." Bentak Kevin dengan nada tinggi membuat semua teman-temannya takut. Karena selama ini Kevin terkenal paling kalem.
" Lo urus cewek lo, gue cabut. Gue nggak bisa lihat istri gue di maki-maki. Daripada gue harus ribut sama cewek." Kata Darren penuh dengan amarah lalu mengajak Annisa pergi.
" Kita juga ikutan pamit." Tambah Rio sambil menepuk bahu Tori, kode untuk mengajaknya pergi.
" Dar, kita nebeng mobil lo ya." Kata Tori.
" Ok." Jawab Darren singkat. Kebetulan tadi Tori&Rio nebeng mobil Kevin jadi daripada suasana sama2 tidak nyaman lebih baik pergi.
__ADS_1
" Sayang kita mampir masjid ya, waktu sholat isya' udah lewat." Ajak Annisa.
" Iya sayang."
" Hmmmm yang sayang2an kita kayak kambing congek aja nih." Gurau Tori.
" Kak Tori sama Kak Rio ikut juga, ya." Ajak Annisa.
" Iya deh, kan kita nebeng jadi ngikut aja." Sahut Rio.
" Annisa kamu nggak marah sama kata2 Rachel."
" Tidak. Tidak ada gunanya marah dan sakit hati dengan Kak Rachel. Aku yakin Kak Rachel ada sesuatu yang membuatnya seperti itu, justru aku ingin berteman sama Kak Rachel. Ya sama seperti aku sama Darren, dulu kita juga benci karena alasan pernikahan ini, perjodohan tanpa kehendak kita tapi akhirnya ya kita mengerti dan sekarng kita bisa salinh sayang. Semua kejadian dan peristiwa pasti ada sebab akibatnya kan."
" Wao...sungguh luar biasa kamu Annisa. Ya Tuhan berikan aku satu saja seperti Annisa." Kata Rio dengan entengnya.
" Iya aku juga ingin seperti itu. Sahut Tori.
" Hei... kalian lupa kalau ada suaminya disini." Kata Darren dengan ketus sambil mengepalkan tangannya.
Mereka pun ikut sampai di masjid. Mereka segera mengambil air wudhu, tentunya mereka di tempat berbeda. Rio dan Tori menjadi makmum untuk Darren. Setelah selesai sholat, mereka duduk di teras masjid.
" Iya, sama. Gue juga." Sahut Tori. Mendengar reaksi Rio dan Tori, Annisa merasa senang.
" Makasih ya Annisa. Berkat kamu aku merasakan kedamaian yang sudah lama tidak aku dapatkan." Kata Rio pada Annisa.
" Maksud lo apa, Rio." Kata Darren.
" Udah, Darren. Kamu harus hati2 kalau aku punya banyak fans." Goda Annisa. Rio dan Tori hanya terkekeh melihat sikap Darren.
Saat mereka sedang asyik ngobrol tiba2 ada anak laki-laki usia 12 tahun sedang berjualan jagung keliling yang di taruh di kranjang dan dia letakkan di boncengan sepedanya yang terlihat usang.
" Kak, jagungnya Kak." Kata Anak itu. Rio, Tori dan Darren hanya melambaikan tangannya tanda tidak ingin membeli. Lalu tiba2 Annisa memanggil anak itu.
" Dek, tunggu. Kakak mau beli." Kata Annisa. Membuat tiga cowok itu menoleh ke arah Annisa. Annisa pun menghampiri anak itu.
__ADS_1
" Berapa 1?"
" 3000, Kak."
" Itu masih ada berapa?"
" Kebetulan ini dagangan saya dari tadi belum laku dari tadi. Ini masih utuh ada 30 biji. Dan Ibu di rumah sedang sakit."
" Ayah kamu?"
" Ayah sudah meninggal, Kak."
" Ya Allah. Kamu sudah makan?"
Anak laki-laki itu hanya menggeleng dengan wajah yang lesu.
" Kakak beli semuanya ya."
" Beneran, Kak?" Kata Anak itu dengan gembira.
" Iya, Kakak beli semua." Annisa mengeluarkan uang 200ribu untuk anak itu.
" Kebanyakan, Kak."
" Kakak beli sama keranjangnya aja ya."
" Iya, Kak. Makasih ya kak. Kakak baik sekali."
" Besok kamu jualan lagi ya, besok kakak kesini lagi. Okey."
" Baik, Kak. Makasih, Kak. Saya pergi dulu kak, ibu pasti senang."
" Oh, ya. Ini kamu bawa pulang buat makan di rumah." Kata Annisa sambil memberikan 5 biji jagung pada anak itu.
" Sekali lagi terima kasih, Kak."
__ADS_1
" Iya." Kata Annisa sambil mengelus lembut kepala anak itu.
" Tolongin dong." Kata Annisa yang tidak bisa mengangkat keranjang itu. Spontan ketiga cowok itu berdiri dan mengangkatnya. Darren pun melirik tajam ke arah Tori dan Rio, yang suaminya juga siapa, yang orang lain siapa. Melihat sikap ke tiga cowok itu, Annisa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.