
Waktu pun semakin berlalu, kini usia kandungan Annisa telah menginjak usia 7 bulan. Teror misterius itupun masih terus berlanjut dan ingatan Darren pun belum kembali pulih. Setiap kali Darren berusaha mencari peneror itu, sakit luar biasa di kepalanya selalu datang dengan bayangan-bayangan yang terlihat masih selalu buram dalam memori ingatannya. Bunga, makanan, hadiah kecil selalu di kirim untuk Annisa dengan mengatasnamakan nama Darren dan terkadang hanya inisal D. Bahkan Darren tak kuasa mengelak ketika melihat Annisa begitu bahagia setiap menerima hadiah dari seseorang yang mengatasnamakan dirinya. Darren khawatir jika itu akan menambah beban di pikiran Annisa. Darren terdiam di luar kerjanya, dia berfikir siapa sebenarnya orang itu.
Sore itu Darren sedang berada di ruang kerjanya, Darren sedang berusaha mencari teka-teki tentang semua ini.
" Aku sudah berusaha mencarinya tapi sepertinya sangat sulit. Dan orang itu setiap hari mengirim bunga ke Annisa dari toko yang berbeda-beda. Dan selalu mengatasnamakan diriku. Apa maksudnya? dia sangat cerdas sampai aku kesulitan melacaknya. Sepertinya dia tidak bekerja seorang diri, melainkan bekerja dengan bantuan tangan orang lain. Jika memang dia tertarik dengan Annisa, mengapa dia selalu mengirim hadiah pada Annisa dengan namaku? bukankah itu semakin membuat hubungan kami harmonis? atau dia sengaja melakukan itu untuk mengacaukan pikiranku?" Darren bergumam pada dirinya sendiri sambil terus berusaha menerka-nerka.
" SIAL!!!" Umpat Darren sambil menggebrak meja dengan keras.
" Tapi sebentar, kenapa tiba-tiba aku teringat dengan Dokter Satriya. Bukanya sebelum hati aku terbuka untuk Annisa, dia yang lebih memperhatikan dan mengkhawatirkan kondisi Annisa." Gumam Darren.
" Besok adalah jadwal kontrol ku pada Dokter Satriya, sekaligus kontrol kandungan Annisa. Sepertinya aku tahu bagaimana cara memancing orang itu keluar dari persembunyiannya." Saat Darren merasa kesal dengan teror yang semakin menjadi ini, tiba-tiba Raja datang menghampiri Darren yang berada di ruang kerja rumahnya.
" Kak Darren, apa Raja boleh minta bantuan?"
" Boleh saja. Kamu minta bantuan apa Raja?"tanya Darren.
" Raja mendapat tugas dari sekolah untuk membuat kolase biota laut yang di buat dari biji-bijian. Dan lusa kumpulkan."
" Oke, baik lah Raja. Ayo kita kerjakan sekarang." Ajak Darren dengan antusias.
" Terima kasih ya, Kak."
" Sama-sama Raja." Kata Darren sambil mengusap kepala Raja.
************
Saat Darren tengah sibuk membantu Raja di ruang tengah, Darren mendengar bel pintu berbunyi.
Ting... tong... ting... tong !!!
__ADS_1
" Tunggu sebentar Raja, Kakak akan membuka pintu, sepertinya ada tamu." Pamit Darren pada Raja.
" Iya, Kak." Jawab Raja. Darren segera ke depan dan membuka pintu. Lagi-lagi kiriman bunga dan kali ini bunga sudah di letakkan di depan pintu begitu saja. Darren melihat ada seseorang yang naik motor seperti sehabis keluar dari rumahnya. Dengan sigap Darren segera berlari keluar mengejar orang itu.
" Heh brengsek, berhenti kamu." Pekik Darren sembari berlari. Orang itu pun segera menyalakan motornya lalu segera mengendarai dengan kecepatan tinggi. Darren terus berlari dengan sekuat tenaga.
" Kali ini orang itu harus tertangkap. Tidak peduli siapapun orangnya. Dia harus mati." Kata Darren dalam hati. Saat Darren tiba di pertigaan jalan, BRUK tiba-tiba ada motor yang berusaha belok di pertigaan itu dan Darren tertabrak motor itu. Kepala Darren membentur lampu depan motor tersebut lalu Darren pingsan setelah memegangi kepalanya.
" DARREN !!!!" Panggil Annisa yang terbangun dari tidurnya. Annisa melihat kearah jam dinding dan telah menunjukkan pukul 5 sore.
" Astaghfirullah, aku mimpi buruk tentang Darren. Dan aku sudah terlalu lama tidur siang." Ucap Keenan dengan nafasnya yang terengah.
" Kak, Kak Annisa." Panggil Raja tiba-tiba sambil menggedor pintu kamar Annisa dengan menggebu-gebu. Annisa segera membuka pintu dan melihat Raja sudah menangis.
" Ada apa Raja?" tanya Annisa dengan wajah khawatir.
" Kak Darren, Kak. Kak Darren kecelakaan tertabrak motor di ujung jalan. Dan sekarang di bawa ke rumah sakit sama warga." Kata Raja sambil tersedu-sedu.
" Ayo, Kak kita segera ke rumah sakit."
" Iya Raja."
Raja dan Annisa segera menuju rumah sakit dimana para warga membawa Darren. Di dalam taksi, Annisa begitu khawatir sambil meremas tangannya.
" Kak, Kakak tenang ya. Kak Darren itu kuat pasti Kak Darren akan selamat." Kata Raja berusaha menenangkan Annisa.
" Iya, Raja." Jawab Annisa singkat.
" Nak, semoga Papa baik-baik aja ya. Kelahiran kamu sebentar lagi jadi kita harus mendoakan Papa." Kata Annisa dalam hati sambil mengusap perutnya yang kian membesar.
__ADS_1
Akhirnya Annisa sampai di rumah sakit dan segera bertanya pada resepsionis.
" Mbak barusan ada pasien korban kecelakaan motor dimana ya?"
" Di UGD, Bu."
" Terima kasih." Jawab Annisa sambil berlari kecil menuju ruang UGD dengan wajah yang cemas dengan air mata yang tak hentinya mengalir. Sesampainya di ruang UGD, Annisa melihat kondisi Darren yang ternyata baik-baik saja hanya saja kepala Darren di perban.
" Darren !" seru Annisa sambil berlari ke arah Darren dan memeluknya. Darren yang duduk di ranjang dengan kaki menggantung terkejut tiba-tiba Annisa datang dan memeluknya dengan erat.
" Darren, kamu nggak apa-apa kan?"
" Annisa, aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja. Tadi bapak ini nggak sengaja nabrak aku. Dan aku juga yang salah karena jalan nggak hati-hati." Kata Darren sambil menunjuk ke arah bapak-bapak yang telah menabraknya.
" Maaf ya, Mbak. Saya benar-benar tidak sengaja. Kata dokter suami Mbak tidak ada luka yang serius."
" Terima kasih ya, Pak. Bapak sudah bertanggung jawab."
" Kalau begitu, saya permisi ya, Mbak. Saya sudah meninggalkan nomor telepon kalau ada apa-apa dengan suami, Mbak."
" Iya, Pak terima kasih ya."
Bapak-bapak itupun segera pergi setelah berpamitan. Raja pun langsung memeluk Darren.
" Kak, syukurlah Kak Darren baik-baik saja. Raja takut, Raja khawatir kalau Kak Darren seperti dulu. Sudah cukup Raja melihat Kak Darren terkapar tak berdaya saat itu. Raja tidak ingin kehilangan Kak Darren." Kata Raja dengan sesenggukan sambil terus memeluk Raja.
" Tenang Raja. Kakak ini kuat sekali." Jawab Darren sambil tersenyum. Raja pun melepaskan pelukannya.
" Annisa, aku merindukanmu. Merindukan semua tentang kita. Rindu pertama kali kita bertemu saat di perpustakaan, saat aku jahilin sepeda kamu, saat kamu bantu bawa motor aku ke bengkel dan makan nasi goreng di warungnya Abah. Sampai pernikahan kita yang harus di lakukan di rumah sakit di hadapan Papa." Cerita Darren dengan begitu lengkap. Annisa pun kembali menangis.
__ADS_1
" Kamu sudah ingat? kamu sudah ingat semuanya?" Annisa kembali memeluk Darren. Mereka saling berpelukan dengan sangat kuat.
" Iya, aku telah mengingat semuanya Annisa. Maafkan perlakuan kasarku disaat aku tidak mengingatmu. Maafkan aku Annisa. Maaf aku sudah membuatmu menderita. Maaf kalau kamu harus melalui kehamilan kamu dengan penuh kesedihan. Maafin aku Annisa. Aku sangat merindukan dan sangat mencintaimu. Terima kasih kamu selalu sabar mendampingi aku sekalipun aku pernah melupakanmu." Darren pun menangis. Menangisi semua kejadian yang telah ia lewati selama ini. Yang membuat Annisa terluka dan tersiksa. Kini semua memori Darren telah kembali. Raja ikut terharu dan bahagia melihat akhirnya Darren ingat kembali. Raja pun kemudian ikut memeluk Darren bersamaan dengan Annisa.