
CEKLEK ! Pintu rumah terbuka, lagi-lagi Darren pulang dalam keadaan mabuk sambil di papah oleh Klarissa. Klarissa tersenyum menang di hadapan Annisa.
" Gue pulang dulu ya, besok kita seneng-seneng lagi."
" Oke, sampai jumpa. Thanks ya udah hibur gue." Kata Darren. Klarissa mencium pipi Darren dengan mesra di hadapan Annisa. Seketika hati Annisa begitu hancur dan remuk. Mengingat kejadian yang menyakitkan dulu saat masih di apartemen. Darren berjalan sempoyongan melewati Annisa menuju kamarnya. Annisa menatap nanar ke arah Darren yang berjalan melewatinya begitu saja.
******
Selepas sholat subuh Annisa bergegas menyiapkan sarapan Darren beserta obat-obatannya. Mulai hari ini Annisa ingin menjalani hidupnya yang lebih semangat dan berusaha membuang jauh air matanya. Annisa mulai berdandan rapi dan segera berangkat ke butik. Sudah lama, Annisa meninggalkan urusan butiknya. Annisa pergi bersama supir Pak Gito.
Sesampainya disana, para pegawainya sudah menyapanya dengan ramah. Setumpuk laporan di meja yang belum Annisa cek. Annisa memilih fokus mengurus butiknya daripada harus berlarut. Seharian penuh Annisa mengontrol laporan butiknya hingga dia melupakan masalahnya.
" Permisi, Mbak. Saya mau pesan kemeja dan gamis." Suara seorang laki-laki tampan berkacamata menggunakan atasan kemeja putih dan celana warna coklat. Annisa yang sedari tadi sibuk menatap laptopnya, mendongakkan kepala dan melihat ke arah suara laki-laki di hadapannya.
" Dokter Satriya !" Seru Annisa.
" Annisa ? Ini butik kamu." Kata Satriya yang terkejut.
" Iya, Dokter. Ayo dokter, silahkan duduk." Kata Annisa mempersilahkan duduk Satriya di kursi tamu.
__ADS_1
" Kamu sepertinya sekarang lebih baik." Kata Satriya yang memperhatikan kondisi Annisa.
" Alhamdulillah, Dokter. Setidaknya ini demi kesehatan bayi yang sedang saya kandung." Kata Annisa sambil mengelus perutnya.
" Oh ya, saya mau pesan gamis sama kemeja buat orang tua saya. Hadiah annyversary mereka."
" Oh begitu. Saya punya desain baru, dokter." kata Annisa sambil menunjukkan ipadnya.
" Bagus-bagus semua desain kamu. Kamu hebat ya ternyata, muda dan berbakat." Puji Satriya.
" Biasa saja dokter. Saya juga masih belajar."
" Cocok aja kok, Dokter. Jaman sekarang fashion nggak menghalangi usia." Kata Dira.
" Dua minggu lagi ya saya ambil." Kata Satriya.
" Iya dokter, terima kasih."
" Kalau begitu saya pamit ya. Assalamualaikum."
__ADS_1
" Waalaikumsalam dokter."
Satriya pun segera pergi dan berpamitan namun saat Annisa mencoba berdiri, tiba-tiba Annisa merasa pandangannya kabur dan pingsan. Para pegawai pun menghampiri Annisa dengan panik, membuat Satriya yang belum jauh kembali ke butik.
" Bu Annisa, Bu Annisa, " kata para pegawai.
" Ada apa dengan Annisa?"
" Bu Annisa pingsan, Pak. Kasihan sekali, tenaga dan pikirannya terkuras karena Pak Darren sedang sakit dan hilang ingatan." Kata Lina salah satu pegawai Annisa.
" Tunggu sebentar, saya ambil peralatan saya di mobil." Satriya segera berlari ke mobil untuk mengambil perlengkapannya. Satriya mulai memasang stetoskop, mengontrol tensi darah dan perut buncit Annisa.
" Apa ada minyak kayu putih?" tanya Satriya pada para pegawai. Lina segera mengambilkan minyak dan mendekatkan pada hidung Annisa. Tak lama kemudian, Annisa tersadar.
" Tolong ambilkan air ya." Kata Satriya. Setelah Lina membawa air, Lina segera membantu Annisa untuk minum.
" Annisa, kamu pasti belum makan dan vitamin kamu jangan sampai lupa ya. Ingat anak kamu." Kata Satriya mencoba mengingatkan.
" Iya, dokter. Terima kasih ya."
__ADS_1
" Tolong ya jaga Bu Annisa. Saya permisi." kata Satriya yang kemudian pergi berlalu.