JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
KU TUNGGU JANDAMU


__ADS_3

Ehhhhrrr**gggg


Arsyad menggeliat, badanya terasa pegal. Ia melirik jam dinding sudah cukup siang, mendekati dhuhur. Ia tersenyum melihat perempuan di sampinya yang masih tidur pulas dan damai. Entah mereka mencoba pengalaman pertama ini hingga berapa kali, yang jelas pundak mulus Sha pun tercetak beberapa tanda cinta Arsyad.


Gak nyangka punya istri kamu, Sha. Berawal dari sebangku di SMA berlanjut seranjang, hehehe. Batin Arsyad masih asyik menatap wajah sang istri.


"Malessss, bangunnn!" ucap Arsyad sembari mencium pipi Sha. Perempuan itu sudah mulai terusik, mencoba mengerjapkan mata dan mengumpulkan kesadaran. "Bangun udah jam setengah 12."


Sha pun menggeliat, hingga selimutnya melorot. "Mau menggoda!" seru Arsyad dengan senyum mesumnya. Sha langsung menutup wajah Arsyad, baru sadar kalau Sha masih polos.


"CK..capek. Lagian masih sakit tahu," seru Sha kesal.


Arsyad tertawa, kemudian mencoel dagu sang istri. "Udah gak sakit tuh, yang terakhir kamu teriak enak kok!" Sha langsung membungkam mulut ember Arsyad, bisa-bisanya dia bicara vulgar banget. Gak punya malu.


Sambil merapatkan selimut Sha menatap Arsyad curiga, "Kenapa?" tanya Arsyad heran.


"Jujur aja, ini bukan pengalaman kamu yang pertama kan?"


"Kok tanya gitu?"


"Kelihatan kamu udah pro banget," sindir Sha yang sangat kuwalahan dengan tingkah Arsyad beberapa jam lalu. Dirinya dibolak-balik sesuai permintaan sang suami.


"Aku emang udah gak perjaka sejak umur berapa ya?" goda Arsyad pura-pura mikir, dan menahan tawa apalagi melihat Sha yang sudah melotot, tak terima.


"Ih.....dapat second dong gue!" sebal Sha yang sudah menyerahkan kegadisannya untuk sang suami, eh malah Arsyad ternyata udah pengalaman. Pantas saja begitu lihai seluk beluk tubuh Sha. Arsyad tertawa, ia berusaha memeluk sang istri namun ditepis.


"Aku gak perjaka karena begini," ucap Arsyad sembari meletakkan tangan Sha di tubuh bawahnya. Sontak Sha melotot, ingin menarik tangannya namun ditahan. Seringai mesum Arsyad muncul, bahaya bagi Sha.


"Kok bisa?" pertanyaan yang salah dari Sha, ia pun langsung mendapat pembelajaran dari suhu Arsyad, kurang ajar. Karena terlalu menikmati ritual malam pengantin kesekian kalinya pun terulang kembali, baik di ranjang maupun berlanjut di kamar mandi. Mantap.


Kruk...kruk..kruk...


Bunyi perut Sha terdengar nyaring saat keduanya sedang bersiap menuju rumah sakit. Keduanya sudah bersuci dan melaksanakan sholat dhuhur berjamaah. "Lapar ya?" tebak Arsyad, dan Sha yang sedang menyisir rambut pun mengangguk.

__ADS_1


"Lapar, capek, sakit," ucap Sha sebal. Dirinya sudah menguatkan diri karena kehabisan tenaga. Arsyad seperti anak kecil yang mendapat mainan baru hingga tak mau melepas barang sebentar.


"Gak usah sewot gitu, kamu juga menikmati sampai teriak gitu kok," ledek Arsyad dengan mencoel dagu sang istri.


"Hish....gak usah dibahas kenapa sih, udah sana-sana!" usir Sha semakin sebal dengan kelakuan sang suami, tak pernah disangka Arsyad begitu ganas, dipikir Sha dia adalah cowok kalem, eh ternyata mesum.


Sha memanaskan sayur lodeh pemberian Bu Lamijo, sembari menunggu ia memotong lontongnya ke dalam piring untuknya dan Arsyad, tak lupa Sha menggoreng kembali Bandeng Juwana.


"Kebanyakan Sayang," ucap Arsyad saat melihat potongan lontong di piringnya.


"Ya Ampun, ini tuh lontong doang, Bi. Gak akan kenyang," ucap Sha menyamakan kebiasaannya yang hobi makan lontong sayur. "Kalau gak habis nanti aku habiskan deh, segini cukup?" ujar Sha yang menuangkan sayur lodeh ke dalam piring.


"Udah cukup, oke nanti kalau gak habis kamu habiskan, sepiring berdua deh sekarang gimana?"


"Idih....ngajakin romantis?" ledek Sha sembari tertawa, "Mau bandeng?"


"Digoreng lagi?"


"Ya deh mau, aslinya kayak gini diangetin di microwave Sayang biar gak ada minyak berlebih," saran Arsyad yang diangguki Sha. Ouh iya Sha lupa kalau Arsyad memang kurang suka dengan masakan digoreng.


"Iya," jawab Sha sembarang saja agar lebih cepat makan. Urusan perut sudah beres, Sha membawa kotak bandeng juwana untuk dibawa ke rumah sakit, meski Arsyad mengomel jangan dikasihkan ibu, sayangi jantung ibu, dan berbagai kalimat kewaspadaan lainnya.


Sha pun mampir ke toko roti, untuk membeli beberapa roti dan kripik sebagai camilan menunggu ibu. "Berapa, Mbak?" tanya Sha sembari membuka dompet, namun tangannya ditarik. Arsyad memberinya sebuah ATM DEBET.


"Pakai ini!" ujarnya.


"Pakai cash aja, Bi. Cuma seratus ribu loh," ujar Sha yang kemudian menyerahkan uang lembaran merah tersebut.


"ATM itu bawa aja, buat nafkah kamu."


Sha menatap Arsyad haru, istilahnya dia baru aja sehari menjadi istri Arsyad kenapa sebahagia ini, dikasih ATM bos lagi. Tetap ya, cewek kalau urusan duit matanya langsung berbinar.


"Ada isinya?" goda Sha sambil memasukkan kartu itu.

__ADS_1


"Ada lah Sayang, gimana sih!" cicit Arsyad gemas, mencubit pipi sang istri itu. Dan Sha pun terkekeh.


"Makasih, aku terima!"


"Itu gaji aku dari kantor papa, kalau pemasukkan dari kantor aku sendiri ada di ATM MAN*IRI. Mau kamu bawa sekalian?"


Sha menoleh, "Buat?"


"Ya kan biasanya istri punya prinsip, uang suami ya uang istri!" ucap Arsyad menirukan prinsip emak-emak di luar sana, Sha tak sanggup menahan tawa. Giliran Arsyad sekarang dicubit pipinya. Terlalu gemas.


"Gak perlu, Bi. Gaji kamu sebagai bos, kamu kasihkan ke aku semua itu sudah sangat mencukupi. Jangan manjakan aku nanti aku ngelunjak, pengen beli apa-apa tau."


Tangan bebas Arsyad mengelus pipi sang istri, "Nikmati aja hasil kerja kerasku, Sayang."


"Hasil kerja keras yang mana ini?" goda Sha diiringi tawa ngakak.


"Gak usah mancing, kalau kepengen di rumah sakit gawat tau!" jawab Arsyad yang tahu arah ledekan Sha barusan.


Tak lama keduanya sudah di loby rumah sakit, saat mau naik lift, tangan Sha ditahan oleh seseorang. Sontak Sha kaget, begitupun dengan Arsyad.


"Lepas, Syad!" pinta Sha sembari menghempaskan cekalan sang mantan. Karena di tempat umum, Irsyad pun melepaskan.


"Boleh aku bicara sama kamu?" pinta Irsyad tanpa melihat Arsyad sama sekali.


Sha menghela nafas kasar, "Kayaknya gak ada lagi yang perlu dibicarakan sama aku deh, Syad!" tolak Sha yang langsung menggenggam tangan Arsyad, buat peringatan aja bagi sang mantan kalau dirinya sudah bersuami.


"Oke, Syad. Boleh gue bicara sama Sha?" tanya Irsyad meminta bantuan pada Arsyad agar membujuk Sha untuk bicara dengannya.


"Sori, Bro. Istri gue gak mau ngomong. Kita lanjut dulu, ya!" ujar Arsyad tegas. Ia menepuk pundak Irsyad lalu bergandengan tangan dengan Sha memasuki lift. Irsyad masih berdiri terpaku, tangannya menahan pintu lift.


"Oke kalau kamu gak mau bicara sekarang, aku akan menunggu kamu Sha, tak apa kalau sampai menunggu kamu jadi janda," tegas Irsyad kemudian berlalu.


Brengsekkkk. Batin Arsyad.

__ADS_1


__ADS_2