
Weekend ini anak keuangan janjian untuk hang out bersama, sudah lama mereka tak jalan bareng. Personil yang biasanya hanya Heni, Diva dan Sha kini bertambah dengan Arman. Sebenarnya pemuda itu tidak diajak, namun Sha sudah membuat janji untuk ngonten bareng, terpaksa Arman mengekor para ciwi tersebut.
"Bayar sendiri-sendiri loh, ya!" Arman mengingatkan sebelum pesan ke pelayan. Tujuan pertama mereka adalah makan di outlet dalam mall. Kebetulan Heni dan Arman belum sarapan, akhirnya yang lain pun ikutan meski Diva dan Sha hanya memesan jus buah.
"Jabang bayi, pelitnya masyAllah," cerocos Diva tak terima. "Makanya jomblo," lanjutnya bikin nyesek. Arman hanya mencibir, tapi tidak Heni dan Sha malah tertawa cekikikan mendengar ejekan jomblo.
"Lagian Pak Arman kenapa ikut sih, kita masih lama loh. Ngontennya habis maghrib aja," ujar Sha yang ingin menikmati hang out bersama.
"Habis ini aja lah, Sha. Mumpung wajahku masih kinclong, lagian nanti malam apa iya kamu oke, bisa jadi kecapekan gara-gara jalan-jalan."
"Eh kalian jangan panggil Pak dong. Ini di luar jam kerja loh," protes Arman pada Heni dan Sha yang tetap panggil pak ...pak...dari tadi.
"Trus panggil apa? Arman?" tebak Diva semakin jutek. Mumpung di luar kantor ia akan jutek abis pada Arman. Ada dendam kesumat saat awal bekerja dengan Arman dulu. Arman lebih dulu masuk dan usianya terpaut 2 tahun dengan Divaz tapi gayanya sok bossy, bikin ilfeel Diva hingga sekarang.
"Sembarangan, aku lebih tua dari mereka. Panggil aja, Mas!" ujar Arman sok manis. Sontak Sha dan Heni tersedak minumannya.
"Sumpah jijik gue," sambar Heni setelah mengatur nafasnya. Bahkan berpura-pura muntah.
"Lidahku muter," tambah Sha diiringi tawa.
"Emang kenapa sih ngotot banget mau ngonten?" tanya Diva penasaran. Pasalnya Arman sangat tertutup perihal percintaannya. Selama mengenal Arman ia mengaku punya pacar tapi tak pernah dikenalkan atau ditampilkan di publik atau acara kantor. Memang Arman bukan selebritis, tapi siapa pendamping pemuda tampan itu bikin penasaran juga.
"Mau konsep bagaimana?" tanya Sha karena memang ia belum punya ide untuk konten bersama Arman.
"QnA aja gimana?" Arman memberikan ide, karena ia tidak mungkin membuka cerita dulu sebelum dipancing.
"Ya memang QnA Pak Arman, tapi pertanyaan pertama apa. Malas mikir aku," jawab Sha menikmati hidangan di depan meja. Arman hanya bersedekap dengan pandangan malas pada Sha. Apaan ini, bintang tamu malah yang getol ajak konten, eh bintang tamu juga disuruh bikin pertanyaan.
__ADS_1
"Kamu niat gak sih, Sha. Bikin konten gini?" selidik Arman yang melihat ketidakseriusan Sha menjalani projek ini.
"Niat kok! Cuma lagi pada fase malas aja," jawav Sha enteng. Dia tidak marah diledek Arman seperti itu, memang kenyataannya dia lagi malas mikir aja. Buat ide menarik dan menguras emosi.
"Aku udah punya ide, buruan kita ngonten!" sewot Arman beberapa menit kemudian. Diva ngakak parah mendengar sewotnya Arman. Baru kali ini cowok datar itu terlihat kesal.
"Udah...udah, Sha. Turutin aja, kita pindah ke kursi belakang aja!" tawar Diva di akhir tawanya. Ia menyebutkan posisi aman untuk ngonten dan kayaknya gratis meski gak izin. Jangan ditiru ya guys. Sha semakin membuat Arman jengkel karena ia tidak membawa peralatan konten. Arman menghela nafas berat, "Pakai HP aja kalau gitu!"
Sha pun menuruti, ia masih belum tahu alasan Arman segetol itu ingin ngonten. Memilih kursi di pojok dan outdoor. Sha dan Arman mulai mengobrol santai, ia harus membangun chemistry agar obrolan lancar tanpa dibuat-buat.
"Sumpah?!" Sha dibuat kaget dengan pernyataan Arman. Bahkan Heni yang kebetulan memegang ponsel Sha mendadak oleng.
"Ulangi, Kak Arman!" pinta Sha yang tahu, olengnya Heni pasti mendapat shoot yang buruk.
"Jadi aku mau minta maaf pada seseorang yang sudah aku lukai hatinya. Aku bahkan tak mengakui anak dalam kandungannya, sangat bejat."
"Kok bisa sih?" Sha masih memijit pelipisnya yang mendadak pening.
"Jadi aku dan dia itu pacaran lama deh, dia perempuan yang aku temui saat KKN dulu. Ya anak desa setempat, kita backstreet. Karena orang tuanya tidak menyetujui hubungan kami."
"Alasannya?"
"Aku anak kota yang bisa jadi hanya cinta sesaat saja!"
"Tapi emang kenyataannya cinta sesaat kan?" tuduh Sha sewot.
"Sabar dong, wahai perempuan. Sumpah aku jatuh cinta sama dia, dia perempuan baik dan sangat perhatiab sama aku. Sampai kami melakukan hal yang tak patut, kami menyesal. Cuma setan terlalu kuat hingga kita melakukan beberapa kali."
__ADS_1
"Melakukan di mana?" tanya Sha yang langsung mendapat tonyoran dari Arman. Sungguh pertanyaan yang absurd tak patut untuk ditanyakan. Bahkan Diva dan Heni ikut terkekeh.
"Di semak-semak, Puas kamu!" ujar Arman kesal. "Ya namanya setan dan nafsu mengelabui, otak cerdas memilih tempat maksiat sangat cepat. Hotel ataupun tempat penginapan banyak cuma jauh dari tempat KKN."
"Aje gila. Niat banget buat dosa, Bang!"
"Habis enak!" sahut Arman tanpa rasa berdosa dengan sedikit tertawa nakal. Spontan bantal sofa melayang ke wajahnya. Diva dan Heni tak kuasa menahan tawa, bahkan sampai tersedak.
"Kak Arman bisa gak sih, serius," sentak Sha.
"Serius. Ya Ampun. Makanya aku bela-belain ngajak ngonten kamu, agar aku bisa bertemu dengan perempuan itu!"
"Eh maksudnya?"
"Jadi setelah aku KKN, aku balik ke kota asal. Kita masih kontek-kontekan. Dan hubungan kita masih backstreet, namun pada suatu hari aku dikabari kalau dia hamil. Bingung, gak percaya, dan frustasi. Apalagi saat itu aku lagi sibuk menyelesaikan skripsi. Aku bilang ke dia, tunggu sampai aku kelar skripsi nanti kita bahas. Tapi dia gak mau, ngotot segera dinikahi. Ya aku kalut, emosi, akhirnya saat di telpon itu aku membentaknya kamu ngoto mau dinikahi karena hamil, iya kalau itu anakku. Apalagi beberapa bulan aku sudah tidak menyentuhnya."
Sha hanya menggelengkan kepala, speechless. "Kenapa Kak Arman meragukan bayi itu?"
"Aku kalut Sha, posisiku sedang skripsi. Kamu tau kan, bagaimana rempongnya skripsi, dan dia terus meminta pertanggung jawaban, posisiku terjepit. Aku harus apa nih, sampai tercetus lah itu. Hingga akhirnya dia memberikan waktu buat menyelesaikan skripsi, dan saat itulah terakhir aku komunikasi dengannya. Sampai saat ini aku tak tahu di mana, karena setelah wisuda aku mencarinya aku ingin bertanggung jawab, tapi kata tetangga mereka pindah sekeluarga, karena sang ayah mendapat kerja di Batam."
Sha hanya menghela nafas berat, lalu menepuk pundak Arman. "Apa yang Kak Arman rasakan selama itu?"
"Hampa. Melihat perempuan lain rasanya biasa aja, mencoba berpacaran dengan yang lain juga gak ada gairah. Berpacaran agar tidak dianggap belok aja. Sungguh rasa penyesalan dalam hidupku. Aku sudah mendapatkan kegadisannya tapi aku sejahat itu tidak mengakui bayinya.Aku sangat menyesal."
Sha terdiam. "Apa yang Kak Arman sampaikan bila perempuan itu melihat video ini?"
"Aku hanya ingin minta maaf, dan bertanggung jawab sesuai kemauannya."
__ADS_1
"Begitulah Guys, cerita salah satu narasumber aku. Pesan moral untuk kita semua, jangan mencoba free ***, masa depan kita sangat berharga dibanding kenikmatan sesaat. Keep strong buat Kak Arman, dan thanks for watching. Assalamualaikum, bye!" ujar Sha menutup kontennya.