JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
SEMAKIN BERANI


__ADS_3

Sha hanya menoleh ke kanan dan ke kiri melihat orang berpakaian serba hitam sudah berada di sekitar mobilnya. Tak menyangka kalau body guard yang dibicarakan Arsyad tadi malam sudah ready pagi ini. Lalu dia bisa apa selain menerima.


"Banyak banget, sampai tiga!" ujar Sha saat berada di dalam mobil hendak berangkat kerja bersama sang suami.


"Biar lebih aman," ucap Arsyad. Dia punya alasan tersendiri mengapa penjaga Sha sampai tiga orang. Karena dini hari saat Arsyad membuka ponsel. Ia mendapat pesan dari nomor tak dikenal, dan ia yakin pengirimnya adalah Irsyad.


Kamu masih ingat kan ancamanku saat di SMA dulu.


Arsyad tidak takut bila berhadapan dengan Irsyad, tapi ia sangat takut bila yang diserang adalah Sha. Sungguh tak bisa dibayangkan bila Sha sampai diperkosa atau diculik oleh Irsyad. Tidak ada yang bisa menjamin semua orang itu baik, apalagi ini mantan yang belum move on pasti bisa melakukan hal yang tidak diinginkan. Dan Arsyad tidak mau itu terjadi.


"Kamu pernah melihat sisi buruk Irsyad?" tanya Arsyad saat dalam perjalanan menuju kantor. Sha menoleh, kenapa jadi bahas Irsyad?


Sha menggeleng, "Selama kita bersama dia tidak pernah menampakka sisi buruknya kecuali pengkhianatan hingga dia menikah."


"Baik banget dong ya?" sindir Arsyad yang mendadak cemburu. Sha tertawa mendengar nada ucapan Arsyad, bisa ditebak lelakinya ini sedang cemburu.


"Percuma sih," ucap Sha setelah menghentikan tawanya.


"Percuma kenapa?"


"Ya percuma. Selama ini dia membangun citra baik sama aku, tapi di akhir hubungan melukai aku begitu dalam. Jadi dalam otakku hanya mengenang sakitnya, kenangan indah 7 tahun tertutup dengan ucapannya besok aku mau menikah."


"Masih sakit?"


Sha menggeleng, "Dulu iya, sekarang mah enggak. Udah gak pengen mengingat dia, karena kalau masih mengingat dia, aku akan hidup dengan cinta lama dan aku tidak bahagia. Aku tidak bisa membiarkan cinta tulus berlalu begitu saja dong," ujar Sha sambil menatap penuh cinta pada sang suami.


"Siapa yang punya cinta tulus ke kamu?" tanya Arsyad dengan fokus menyetir. Sha berdecak. Gak peka. Lalu tanpa aba-aba langsung mencium pipi Arsyad.


"Kamu!"


Arsyad bersemu merah, tak disangka juga bisa salting dikasih ucapan manis sama istrinya ini. "Jangan cium-cium sekarang dong sayang, lagi nyetir nih," protesnya pura-pura marah. Padahal dalam hati berbunga.


"Dih....sok-sok an nolak," sindir Sha tak terima.


*


*


*


Sha aku ingin bertemu sama kamu


Bisa tidak.


Aku gak terima kamu nikah sama Arsyad. Sumpah.


Aku bahkan tak pernah membuka hati untuk Farah demi menjaga perasaan aku ke kamu.

__ADS_1


Sha hanya menahan tawa, "Stress nih orang," ujarnya lalu fokus pada pekerjaannya. Arsyad meminta Sha untuk masuk ruangannya saja. Ia bisa bekerja dengan fokus kalau Sha ada di hadapannya.


"Bi....aku balik ke mejaku ya, khawatir ada yang butuh bantuanku loh," pinta Sha yang sudah bosen di ruangan Arsyad. Pasalnya kalau di mejanya ia bisa main ponsel sebentar, lah di sini setiap pegang ponsel Arsyad selalu tanya kirim chat sama siapa. Kekhawatirannya terlalu berlebihan. Tapi wajar sih, apalagi kalau dia baca chat Irsyad barusan.


"Gak usah, Sayang. Toh pintu juga dibuka, kalau ada yang perlu sama aku pasti juga langsung kelihatan kamu di sini."


Ting


Arsyad melirik ponsel Sha, ia mengerutkan dahi ketika di pop up layar tertera nomor tak dikenal dan pesannya Sha sayang.


"Ini Irsyad Sayang?" tanya Arsyad saat Sha baru saja mengambil air mineral dalam kulkas mini.


"WA lagi?"


"Tadi WA?"


Sha mengangguk, "Coba baca chat atasnya!"


"Wah gak bisa dibiarin ini," ujar Arsyad sembari menahan amarah ketika membaca chat Irsyad yang tak pernah dibalas oleh sang istri.


Sha hanya diam, dalam hati juga risih diteror seperti itu. Kalau dulu sebelum Sha nikah, Irsyad gak seseram ini karena mungkin dia yakin Sha akan kembali padanya saat dia sudah bercerai.


"Aku mau ajak dia ketemuan saja, Sayang!"


"Gak boleh," ujar Arsyad langsung. Tak akan pernah ia menyetujui Sha bertemu dengan sang mantan. Bukan takut Sha akan kembali pada Irsyad, tapi takut kalau Sha dilecehkan atau diperlakukan kejam oleh Irsyad. Ouh shitt. Tidak akan.


"Jangan sekarang, aku masih belum siap."


"Lalu kapan, Bi. Aku sangat tahu sifat Irsyad, dia tidak akan berhenti sebelum apa yang ia inginkan didapat."


"Tapi.."


"Percaya sama aku. Lagian kita bertemu nanti di cafe, ramai, body guard kamu juga ada."


Arsyad masih diam. Ia belum bisa menerka jalan pikiran sang istri. "Apa yang ingin kamu lakukan?"


"Hanya ingin bicara sama dia, untuk tidak menganggu kita."


"Dia bisa berubah?"


Sha mengedikkan bahu. "Yang jelas aku tahu kelemahan Irsyad untuk tidak menganggu aku lagi."


"Apa?"


"Hubungan darah antara aku dan Farah."


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Ya ini cuma pemikiranku aja sih. Dia belum tahu kan kalau aku dan Farah saudara, aku akan memainkan emosinya agar berhenti mengganggu kita."


"Memainkan emosi gimana Sayang?" tanya Arsyad penasaran. Dan Sha tertawa melihat ekspresi suaminya.


"Ada deh,"


"Jangan bikin penasaran dong Sayang!"


"Aku juga gak tahu, Bi. Aku baru bisa memainkan emosi lawan saat berhadapan dengan dia. Toh kamu juga ada di sana nanti!"


Arsyad diam, tapi penasaran namun akhirnya ia yang mengetikkan ayo kita bertemu di Cafe Soul and Me pada Irsyad.


Oke. Kapan Sayang!


"Dih...dia panggil kamu Sayang, sayang. Gak sadar diri banget kalau sudah jadi mantan."


Sha tertawa, "Kadang seseorang perlu ditabok kenyataan dulu biar sadar bahwa apa yang diharapkan tak mungkin tergapai."


Arsyad menatap sang istri. "Kamu kok bisa berubah cepat dengan Irsyad Sayang?"


"Karena kecewa. Luka yang ia berikan terlalu menganga, dan membuatku trauma. Jadi untuk apa mengulang kisah masa depan dengan orang yang sama."


"Cewek bisa begitu ya?"


"Tergantung sih, ada kok cewek yang mau menerima pasangan meski sudah disakiti berkali-kali. Tapi tidak denganku. Aku tipe orang yang susah memaafkan, karena pada dasarnya aku berusaha semaksimal mungkin untuk tidak melukai hati pasangan. Jadi kalau kita sudah berusaha baik, lalu dikhianati udah lah gak usah berjuang lagi. Lupakan dan lepaskan, meski diawal sakit, meski diawal nangis juga."


"Dan aku juga berusaha untuk selalu membahagiakan kamu," lanjut Arsyad sembari memegang tangan Sha.


"Harus!"


Ting


Keromantisan pasangan dibuyarkan dengan balasan Irsyad yang membuat mereka mendelik bersama.


Aku sudah di loby kantor kamu, usahakan tak usah Arsyad. Hanya kita saja. Apa aku jemput kamu ke ruangan kamu Sayang?


Pergi. Kita bertemu langsung di Cafe atau tidak sama sekali. Balas Arsyad kesal.


"Kamu balas apa, Bi?" tanya Sha yang ponselnya masih dipegang sang suami. Tak menjawab, Arsyad langsung menunjukkan room chat dengan Irsyad.


"Benarkan apa kata aku, Irsyad tidak akan diam sebelum dia mendapatkan keinginannya!"


"Kita langsung ke sana?" tanya Arsyad.


Sha melirik jam tangannya, menjelang makan siang memang. "Boleh. Tapi kita sholat berjamaah dulu, biar dia menunggu!"


"Atau kita bercinta dulu?"

__ADS_1


"Boleh. Setelah sholat," jawab Sha tegas dan berhasil membuat Arsyad melongo. Sejak kapan sang istri tidak menolak diajak bercinta di kantor. Aneh.


__ADS_2