JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
PAGI PERTAMA


__ADS_3

Keduanya tak segera turun, Arsyad sengaja mengunci pintu mobil ia melirik rumah Sha kemudian menatap Sha.


Gadis itu mengernyit heran, "Kenapa sih?" tanya Sha.


"Sayang, di rumah kamu kan sepi, cuma ada kita berdua?"


Sha mengangguk, masih belum bisa menerka jalan pikiran Arsyad. "Trus?"


"Gak pa-pa!" ucap Arsyad dengan senyum mereka.


"Bi, kemeja kamu taruh sini aja, siapa tahu harus menginap di sini, biar punya baju ganti," ucap Sha sembari membuka pintu mobil.


Arsyad mengambil kemeja di yang sengaja diletakkan di bagasi. Sha menunggu di samping mobil. Tiba-tiba ada Bu Lamijo, tetangga Sha yang teman ibu pengajian. "Sha," panggil beliau dengan cetar membahana ala beliau. Selalu begitu, keras dan powernya ituloh seperti orang yang tinggal di pegunungan.


"Haduh maafin bu Lamijo ya, sumpah ibu gak tau kalau bu Rahmi masuk rumah sakit. Mana Ibu lagi ke Semarang kemarin. Ini sebagai permintaan maaf ibu, saya bawain bandeng Juwana, dan lontong sayur buatan ibu sendiri," ujar beliau menyodorkan paper bag berisi bandeng dan rantang berisi lontong sayur.


"Bu Lamijo terimakasih banyak, nanti saya sampaikan ke ibu," ujar Sha ramah.


"Eh..katanya kamu udah nikah ya, mana suami kamu?" tanya Bu Lamijo penasaran. Beliau bahkan sudah celingak-celinguk mencari sosok pria suami Sha.


Arsyad membawa paper bag kemejanya, menghampiri Sha dan dikenalkan kepada Bu Lamijo. Namanya emak-emak, ekspresinya tak bisa dikondisikan. Begitu takjub dengan penampilan Arsyad. Sha dan Arsyad pun mengerutkan dahi karena Bu Lamijo tak kunjung membalas jabatan tangan Arsyad.


"Bu Lami, ini suami saya!" ujar Sha membuyarkan lamunan beliau. Sontak Bu Lamijo meringis malu.


"He'em pintar sekali kamu cari suami, Sha. Ya Allah Gusti kok cakep bener. Coba kalau ketemu Bu Lami dulu bisa jadi rebutan kali ya, he..he!" Arsyad menatap Sha dengan tatapan aneh, sedangkan Sha hanya menahan tawa. Bu Lamijo terus mengoceh memuji Arsyad. Yang bentuk badan, yang gaya rambut bahkan kulit sawo mateng Arsyad tak luput dipuji, sungguh Sha sebagai istri kalah dalam memuji Arsyad.


"Oke, kalau nanti ibu longgar, ibu ke rumah sakit jenguk ibu kamu ya!" ucap beliau sebelum pamit.


"Kamu tuh suami digoda perempuan kok ketawa sih, gak cemburu?" protes Arsyad ketika Sha meminta tolong membuka pintu rumah.


"Kan Bu Lamijo udah tua, gak mungkin kalau kamu tergoda!"


"Berarti kalau masih muda, kamu marah?" tantang Arsyad dengan menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Jelaslah, kamu tuh udah hak paten punya aku doang!" ucap Sha tak terima. Arsyad tertawa lalu mendekati Sha dan mengecup bibirnya sekilas.


"Bersiaplah!" bisik Arsyad kemudian menuju kamar yang ditunjuk Sha sebagai kamar gadis itu. Sha mengerutkan dahi, tak paham dengan ucapan Arsyad. Bersiap kenapa? Sha mengedikkan bahu. Meletakkan pemberian Bu Lamijo di atas meja makan.


Sha pun mengunci pintu rumah dan menyusul sang suami. Tampak paper bag Arsyad diletakkan di meja rias Sha, sedangkan Arsyad merebahkan tubuhnya di kasur, kaki jenjangnya dibiarkan menjuntai.


Sha berjalan mendekati korden hendak membukanya. "Gak usah dibuka sayang, nyalakan AC nya aja!" pinta Arsyad dan diangguki Sha.


"Kamu mau mandi jam berapa? Di sini gak ada air hangat, kalau mau mandi pakai air hangat harus masak dulu."


"Gak usah, sini!" ucap Arsyad sambil menepuk kasur di sampingnya. Berdua di kamar dengan lawan jenis, tentu membuat jantung Sha berdetak lebih cepat. Canggung cuy...


"Sayang?" ucap Arsyad yang belum merasakan tubuh Sha di sampingnya.


"Aku..aku mau ke dapur aja!"


"Ngapain?" tanya Arsyad yang kini sudah duduk. Menarik pelan tangan Sha, "Yuk!" ajak Arsyad ambigu.


"Ngapain?" tanya Sha yang sebenarnya sudah memprediksi ritual pengantin baru.


Sha berusaha mendorong pundak Arsyad, saking gugupnya mendapat serangan kemesuman seperti ini. "Bi, belum mandi!" ucap Sha dengan mendorong tubuh Arsyad.


"Gak usah, nanti aja mandinya," tolak Arsyad yang kembali mengecup bibir Sha. "Kita manfaatin waktu berdua, karena kata Danu, meeting dibatalkan."


"Kamu ya yang batalin?" tanya Sha menatap curiga. Arsyad tersenyum lalu menarik hidung mancung Sha.


"Enggaklah, yuk ah!"


Sha beranjak menutup pintu kamar, biarpun hanya mereka yang di rumah, tetap saja lebih afdol kalau pintu kamar di tutup.


"Siap kan?" tanya Arsyad mengelus pipi Sha. Ia tahu sang istri tegang, terlihat jelas kalau ini adalah pengalaman Sha pertama. "Rileks ya?" pinta Arsyad dengan suara sensual. Sha menggigit bibir bawahnya, suara lirih Arsyad semakin membuatnya gugup.


Keduanya duduk berhadapan, Arsyad membisikkan doa di telinga kanan Sha. Kemudian memulai ritual pengantin baru dengan mencium bibir Sha lembut, berlanjut hingga Sha mengeluarkan *******. Tangan Arsyad bermain aktif di bagian dada Sha. Gadis itu hanya memejamkan mata, menikmati sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasakan.

__ADS_1


Arsyad merebahkan tubuh Sha pelan, melanjutkan foreplay ke bagian sensitif lainnya. Sha sekuat tenaga menahan suaranya. "Rileks sayang. Aku suamimu, akan aku buat kamu bahagia dengan ibadah ini," ujar Arsyad sok puitis. Sha hanya mengangguk, ia memeluk pinggang Arsyad. Suaminya itu begitu aktif hingga bagian tubuhnya terasa di paha Sha.


"Bi.." ucap Sha dengan tatapan sayu.


"I love you," ucap Arsyad dengan tatapan penuh cinta. Ia melanjutkan aktivitas penuh kenikmatan ini, hingga baju keduanya sudah lepas. "Pegang ya? Kenalan!" cetus Arsyad dengan terkekeh. Wajah Sha merah merona. Dituntunnya tangan Sha pada bagian tubuh Arsyad yang menjulang kokoh.


"Bi..kok?" tanya Sha ragu untuk memegangnya.


"Kenapa?"


"Takut!"


"Gak pa-pa, pegangnya pelan aja," ucap Arsyad yang sudah berhasil meletakkan tangannya Sha.


"Bi!" Sha mendongak melihat mata Arsyad. "Aku takut, sekeras ini!"


Arsyad tertawa pelan, mencium kening Sha lalu ******* bibir istrinya dengan penuh gairah. Tangan Sha tetap di sana, hingga Arsyad bermain di bagian bawah tubuh Sha. Semakin meracau saja Sha.


"Bi...Bi..." terus saja Sha menyebut nama panggilan sang suami. Sungguh Arsyad sangat lihai membuat Sha terlena.


"I love you, Sayang!" ucap Arsyad agar Sha rileks. Arsyad mengarahkan bagian tubuhnya pada Sha, gadis itu mengintip takut.


"Pelan, Bi!" ujar Sha waspada. Arsyad mengangguk. Hingga ringisan Sha membuat Arsyad takut melanjutkan.


"Gimana? Gaspol yah? Sakit bentar Sayang!"


Sha menggeleng, "Sakit bentar apanya, ini mah perih dan panas," ujarnya sewot sembari memukul lengan Arsyad.


"Ayolah Sayang, udah tanggung nih!"


"Besok lagi ya?" tawar Sha memelas. Namun Arsyad menggeleng.


"Coba sekali ya, habis itu kalau gak bisa ditunda besok!" oke Sha memberikan kesempatan. Arsyad mengangguk, meski tak yakin akan berhasil. Namun Arsyad akan memaksa lebih keras lagi, oke kali ini ia akan egois, sedikit saja tak mengabaikan kesakitan Sha. Toh..mumpung ada kesempatan longgar juga.

__ADS_1


"Sakiiit!" rintih Sha, namun Arsyad langsung ******* habis bibir Sha, agar Sha rileks. Sedangkan tubuh bawahnya terus mendorong. Hingga kuku Sha mencengkram erat punggung Arsyad. Dan ia melepas pagutan mesra di bibir Sha. Arsyad diam sebentar.


"Udah berhasil!" ucap Arsyad dengan ngos-ngosan lalu bergerak sesuai naluri. Menggenggam tangan Sha agar keduanya bisa menikmati surga dunia ini.


__ADS_2