JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
PAPA


__ADS_3

Farah akan bercerai. Minggu depan sidangnya.


Begitu pesan mama Farah pada sang suami. Komunikasi mereka hanya sebatas keadaan Farah. Tidak ada komunikasi yang menyangkut hubungan keduanya, apalagi sampai bermesraan, tidak mungkin.


Di chat seperti juga tidak balas, rasanya mama Farah sudah mati rasa dengan sang suami. Kadang sampai berpikir, 20 tahun bukan waktu yang singkat tapi sang suami sangat sulit melepas cintanya pada sang mantan. Mama Farah sampai berpikir apa mungkin dipelet, tapi kata orang pelet tidak berefek ketika menyeberang samudra. Hah...memang terlalu cinta.


Kalau mengingat masa awal pernikahan, sang mertua sampai memberikan ancaman soal warisan. Hingga sang suami terpaksa menggaulinya, dan ketika dinyatakan hamil sejak saat itu, mama Farah tidak pernah disentuh hingga sekarang. Dulu sempat mama Farah meminta cerai karena tak sanggup dengan sikap dingin sang suami, tapi nyatanya ia lebih memilih bertahan.


Pengasuhan Farah pun tidak terlalu ikut campur, sang suami hanya sekedar pemberi nafkah saja. "Bagaimana dengan papa, Ma?" tanya Farah, khawatir sang mama lupa memberi info kepada sang papa.


Mama Farah tak menjawab hanya menunjukkan room chat dengan sang suami. Farah menghela nafas barat, menatap intens pada sang mama dengan tatapan sendu. "Kita bernasib sama ya, Ma!"


"Secara tidak langsung sih, iya!" jawab mama Fatah singkat. Saat ini menangis karena dicuekin sudah tidak waktunya, justru kalau sang suami balas dengan cepat sangat tidak wajar.


"Mama kenapa tidak mundur seperti Farah?" tanya Farah tiba-tiba. Sejak dulu ia ingin tahu alasan pasti kenapa hubungan kedua orang tuanya dingin dan datar. Baik sang mama, papa ataupun dua keluarga besar pasti jawabannya kompak papa punya bisnis di Ausie. Saat kecil mungkin Farah bisa terima, tapi sejak SMA dia sudah mulai curiga tapi belum mendapat jawaban yang memuaskan.


"Karena kamu!"


"Why me?"


"Kasihan kamu tidak mendapat figur ayah, kalau kita bercerai dulu."


Farah tersenyum miris, "Sampai saat ini pun Farah sudah merasa tidak punya ayah sejak dulu."


"Kok ngomong begitu? Papa kan selalu hadir bila kamu butuh, papa juga memberikan barang apapun sesuai keinginan kamu."


"Tapi papa tidak pernah mengajak mama dan aku berkumpul bersama. Memang papa hadir saat aku pentas, tapi mama ada arisan atau yang lain. Kalau aku jalan sama papa di mall mama gak mau ikut karena alasan yang gak masuk akal. Dan papa oke aja. Sejak saat itu Farah hanya bisa membatin whats going on with my parent? Mama sadar gak sikap dingin papa dan mama itu melukai Farah."


"Farah?" tegur mama sedikit terkejut. Tak menyangka, sang anak yang tumbuh cantik, ceria dan patuh menyimpan luka hati sebagai seorang anak.


"Kaget ya, Ma?"

__ADS_1


Sang mama mengangguk.


"Saat kecil Farah selalu merasa iri kalau teman-teman Farah di antar berdua dengan orang tuanya. Tapi Farah? Gak pernah loh Ma diantar papa dan mama."


"Saat wisuda SMA ataupun akademi keperawatan, hanya mama juga yang datang. Sampai Farah pikir mungkin aku anak yang tidak diharapkan papa. Benar gak Ma?"


Sang mama langsung memeluk Farah. Ia tak kuasa menahan tangisnya, merasa bersalah dan tak bisa memberikan keluarga yang hangat.


"Maafkan mama, Nak!"


"Mama harusnya cerita sama Farah. Farah sudah dewasa, Ma. Farah tahu perasaan mama, mencintai sendiri itu gak enak."


Mama hanya mengangguk, "Memang. Mencintai sendiri sangat berat."


"Papa kenapa seperti itu?" tanya Farah penasaran. Semoga saat ini mama mau cerita yang sebenarnya. Alasan di balik sang papa tidak mencintai mama.


"Sama kayak kamu, karena mantan."


"Beliau sangat memujanya, hingga mencintai perempuan itu sangat dalam. Mama gak tahu perempuan itu siapa tapi yang jelas papa kamu pernah bilang begini Maaf aku tidak akan bisa mencintai kamu, karena hatiku sudah milik Iswa. Sejak itu mama mencari tahu siapa Rahmi, tapi Papa kamu sangat rapat menyimpan keberadaan perempuan itu. Pernah mama tanya pada oma dan opa, beliau tidak tahu."


"Yakin Opa gak tahu?" Farah tidak percaya dengan kekayaan sang Opa tidak bisa mencari siapa Iswa.


"Mama sih gak percaya saat itu, mama pun minta bantuan Uti mencari siapa Iswa, dan memang perempuan itu tidak tersentuh hingga sekarang mama gak tahu."


"Foto?"


Mama menggeleng. "Kamu tahu kan bagaimana papa sikapnya terhadap mama, bahkan lemari pun minta terpisah. Mama curiga papa punya sebuah rumah atau apartemen digunakan untuk menyimpan rahasia sang mantan."


"Mama gak pernah meminta papa untuk melupakan sang mantan?" Farah sangat penasaran bagaimana sang papa hidup dalam bayangan mantan. Irsyad juga begitu tapi kalau sudah berhasrat tetap mencari dirinya.


"Bagaimana meminta kalau dari awal papamu memberikan ultimatum, kalau tidak tahan dengan sikapnya silahkan mundur."

__ADS_1


"Papa sekejam itu, Ma!" meski bilang seperti itu, tetap saja Ia tak sampai hati marah pada sang papa. "Pasti ada rahasia di balik ini semua, Ma."


"Pasti. Dan sampai saat ini mama gagal mengorek rahasia itu."


Farah terdiam. Rumah tangganya sudah hancur, proses persidangan akan berjalan. Yang ia inginkan dia ditemani oleh kedua orang tuanya. Mau bagaimana pun sandaran terkuat seorang anak adalah orang tua.


"Farah mau ada papa di sini saat persidangan berjalan, Ma!"


Mama Farah hanya mengangguk, "Coba hubungi saja, ya. Mama gak bisa bantu."


Farah pun segera mengirim pesan kepada sang papa. Ia tak peduli mau dibalas atau tidak. Selain persidangan, ia ingin kejelasan dalam rumah tangga mama dan papanya. Sekarang beliau sudah memasuki usia kepala 4 mendekati tua. Apa mau seperti ini terus, bagaimana dengan hari tuanya. Karena bagaimana pun seseorang akan lebih bahagia dan nyaman bila di usia senjanya menjalani dengan orang terkasih.


Kalau toh papa akhirnya bertemu si mantan, dan memilih untuk hidup bersamanya, tidak apa-apa juga. Selama ini beliau pasti hidup dengan siksa batin yang luar biasa. Tak perlu menyalakan satu pihak karena cinta datang sebagai anugerah, dan hati tak bisa dipaksa.


Pa....Farah lagi sedih nih.


Adu Farah pada sang papa. Meski dirinya juga jarang di manja tapi sang mama berusaha memberikan perhatian padanya. Chatnya selalu dibalas meski menunggu beberapa jam atau di hari berikutnya.


Kenapa?


Farah takjub lantaran sepersekian detik sang papa membalas. Ia melirik mama, ponsel sang mama juga tak ada balasan sepertinya, karena benda itu diletakkan di meja.


*Farah sudah berpisah dengan Irsyad. Mungkin dalam waktu dekat Farah menjalani proses sidang. Papa datang ya.


Oke*


Farah tersenyum. Ia menunjukkan room chat pada sang mama. Wanita cantik itu hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Meski cuek sama mama, papa merupakan ayah yang baik buat kamu!"


"Iya, Ma!"

__ADS_1


__ADS_2