JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
PENGGAGAS MISI


__ADS_3

"Kapanpun kamu mau mencari ayah kamu, libatkan aku ya, Sha." Sebuah tawaran di akhir pertemuan Arsyad dan Sha malam itu. Sha yang hendak keluar mobil hanya menoleh pada Arsyad dengan mata sembapnya.


"InsyaAllah, punya teman berkuasa harus dimanfaatkan."


"Gak pa-pa, asal jadi istriku nanti."


Sha tertawa, "Dah ah..ati-ati pulangnya, salam ke nenek ya. Makasih," ucap Sha tulus dan diangguki oleh Arsyad.


Pria ganteng itu menatap gadis pujaanya hingga masuk rumah kemudian menjalankan mobilnya untuk pulang.


Saat baru sampai di rumah, sang nenek langsung menyambutnya. "Mana Lethisa?" todong beliau. Arsyad mendengus kesal. Baru juga sampai, tidak ditanya apa kabar, atau sekedar ditanya capek atau enggak. Eh...malah anak orang yang ditanya. Anak orang tapi calon istri sih, he..he..


"Pulang!" jawab Arsyad sembari menyalami sang nenek. Beliau langsung menepuk lengan Arsyad, kecewa karena sang cucu tidak berhasil membawa calon cucu menantu. Baik orang tua Arsyad dan neneknya sering mendapat kabar kedekatan Arsyad dan Sha lewat Danu. Mereka setuju, karena Sha termasuk perempuan gak neko-neko. Cantik pula.


"Lagian kenapa sih, tiba-tiba ingin bertemu Sha?" tanya Arsyad curiga. Sang nenek hanya tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Pengen bertemu cucu mantu lah. Eh..Syad, masa' kamu ditolak sih. Bukannya kamu tiap hari ajak dia kencan atau makan siang ya, belum lagi kamu sering nyamperin dia ke meja kerja hem..tatapan gitu kan? Kok masih gagal?" ledek nenek super centil. Arsyad sampai mengerutkan dahi, kenapa sang nenek bisa sedetail itu menceritakan kebiasaanya di kantor.


"Nenek dikasih tahu siapa?" tanya Arsyad penuh curiga. Sontak sang nenek gelagapan, bersama sang menantu ia mengorek tentang Lethisa pada Danu, eh malam ini malah beliau keceplosan. Mana detail lagi. Memang ya faktor U tidak bisa dibohongi.


"Ha...oh...he..he...Nenek kamu kan semi dukun, Cad!" elak beliau dengan tertawa sumbang. Arsyad hanya berdecak sebal, mana bisa ia dibohongi semi dukun, bisa terawang, lah emang Arsyad anak kecil.


"Eh anak mama, gagal ya bawa Sha?" ledek Mama yang sudah tahu Sha tidak jadi ke sini. "Tapi mama punya rencana, Syad!"


Si bungsu hanya mendengus sebal, apalagi nih yang akan direncanakan oleh ibu dan neneknya. Heran deh, dulu percintaan kedua kakak Arsyad gak pernah tuh dicampuri, terserah mereka bagaimana prosesnya yang penting calonnya baik. Nah untuk urusan Arsyad, baik mama, nenek, dan ya ampun sang papa pun ikut campur.


"Papa setuju, Syad. Apa perlu papa turun tangan kalau kamu gagal terus?" sahut papa sembari membawa secangkir kopi ke ruang tengah.


Nenek, mama dan papa tertawa bahagia melihat Arsyad frustasi. Biasa tingkah anak bontot itu apappun terlihat menggemaskan. "Makanya, mau dibantu gak?" tawar papa.


"Enggak. Percuma papa mau turun tangan, dia mah masih trauma dengan cinta."

__ADS_1


Mama dan nenek saling pandang, tidak menyangka kalau alasan si bungsu ditolak karena Lethisa memiliki trauma. "Kenapa?" tanya nenek. Sedangkan sang papa gak mau tahu urusan receh itu, apalagi Arsyad juga sudah menolak tawaran. Lebih baik berkutat dengan portofolio saham saja.


"Ada dua alasan Sha enggan berhubungan lebih dengan Arsyad. Satu ayahnya dua sang mantan."


"Lalu?" kali ini sang mama yang bertanya.


"Sha ditinggal pergi oleh sang ayah sejak dalam kandungan. Seumur hidupnya tak pernah merasakan kasih sayang ayahnya. Dia hidup bersama dengan sang ibu saja. Sedangkan sang mantan, berpacaran hingga 7 tahun malah menikahi wanita lain. Dan yang membuat Sha trauma, dua laki-laki itu berasal dari anak orang kaya plus ganteng."


"Waduh, berat juga masalahnya," ucap sang ibu prihatin. "Makanya kok menolak kamu, padahal anak mama kan mendekati sempurna!"


"Hush...gak ada orang yang sempurna," elak Nenek sembari menepuk lengan sang menantu.


"Makanya Arsyad bilang enggak usah dibantu apa-apa, biarkan waktu yang menjawab Sha akan menjadi istri Arsyad atau tidak." Pemuda itu pun pamit ke atas, hendak bersih-bersih diri. Mama dan Nenek pun terdiam.


"Tetap, kita harus bantu. Ibu punya cara," ucap sang nenek dan mama Arsyad.

__ADS_1


"Apa, Bu?" tanya mama Arsyad pada sang mertua. Sedangkan suami yang melihat gelagat aneh ibunya mendadak tak suka, setiap rencanyanya pasti ekstrem, khawatir Arsyad dan Sha semakin jauh.


"Emak-emak plis gak usah bertingkah," saran papa sebelum naik ke ruang kerjanya.


__ADS_2