JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
KAMU


__ADS_3

"Udah ngambeknya?" tanya Arsyad saat panggilan telponnya diangkat oleh Sha. Sejak pagi tadi chatnya tidak dibalas dan permintaan izin Sha membuat Arsyad kepikiran pada gadis itu. Berapa kali Arsyad telpon dan chat tapi tak kunjung dibalas, akhirnya bos ganteng itu memberikan waktu pada Sha untuk menyendiri. Mungkin Sha masih shock dengan video viralnya.


"Dih...siapa yang ngambek. Gue gak ngambek kali," jawabnya jutek seperti biasa. Arsyad tersenyum, sudah kembali ke mode cerewet berarti Sha baik-baik saja.


"Bisa gak sih panggilannya aku kamu," pinta Arsyad, mereka sudah berumur mendekati dewasa tak baik kalau berlagak seperti anak muda.


"Iya...nanti gue eh aku biasakan. Mama juga protes kalau kita telponan pakai gue elo gitu."


"Emang kamu telpon sama aku di samping ibu?"


Sha tertawa, "Kadang. Tapi kalau video call di kamar."


"Eh kita udah kayak orang pacaran gak sih, Syad. Hampir tiap kita telpon kayak gini," ucap Sha tiba-tiba, entah karena mereka sudah menjadi teman sejak dulu hingga Sha bisa ceplas-ceplos atau karena Sha sudah mulai menerima perhatian Arsyad.


"Enggak ya, kita gak kayak orang pacaran. Kamu bukan pacarki juga," jawab Arsyad tegas.


Deg


Senyum Sha yang tercetak sejak panggilan telpon Arsyad mendadak hilang. Ucapan ibu seketika melintas. Apa mungkin batas sabar Arsyad menunggu perasaannya dibalas sudah berakhir, mendadak Sha takut. Dalam hatinya dia sudah nyaman berkomunikasi atau bahkan tukar pikiran dengan Arsyad.


"Sha kok diam?" tegur Arsyad tak mendengar suara Sha lagi.


"Eh...iya gak pa-pa."


"Kenapa? Kamu kepikiran apa?"

__ADS_1


"Kita telponan gini gak ada yang marah," Sha mencoba memancing Arsyad. Siapa tahu beberapa hari ini di Singapura, Arsyad bertemu dengan klien cantik, jatuh cinta pada pandangan pertama lalu melupakan perasaannya pada Sha. Sangat mungkin bukan?


"Marah? Kenapa harus marah?"


"Ya siapa tahu ada yang marah kalau kita telponan." Terdengar Sha sewot dan membuat Arsyad berpikir kalau emosi karena bukan pacar Arsyad.


"Enggak ada, Sha. Kenapa harus ada yang marah, orang aku telpon sama calon istri," jawab Arsyad meluruskan ucapannya tadi.


Sontak pipi Sha pun merona, meski Arsyad tak melihatnya tapi ia yakin Sha begitu. "Sha!" panggil Arsyad, "I love you," lanjut Arsyad mengungkapkan sekali lagi perasaannya.


"Gak aku jawab. Dulu aku sering jawab i love you too kepada seseorang, ditinggal nikah."


Arsyad tertawa, "Lama juga jagain jodoh orang," lanjut Arsyad berniat meledek. Sha ikut tertawa, kalau dipikir bodohnya dia dulu begitu bucin hingga teman laki-laki tak ada. Hari-harinya hanya diisi dengan Irsyad saja, eh di akhir acara malah ditinggal nikah. Nyesek banget.


Sha terdiam seketika. Meresapi setiap ungkapan perasan Arsyad selalu tulus dan penuh harap. Sha pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Kalau aku menerima perasaan kamu. Apa yang kamu lakukan?" tanya Sha tiba-tiba.


"Pulang ...langsung ajak kamu ke KUA."


"Ngebet banget."


"Daripada pacaran lama tapi gak dinikahi," jawab Arsyad tegas. Bukan menyindir hubungan Irsyad dan Sha dulu.


"Nyindir gue?" sentak Sha tak terima.

__ADS_1


"Aku kamu!" ralat Arsyad. "Gak lah, ngapain nyindir. Tapi emang aku gak berniat menjadikan kamu pacar kok."


"Entahlah Syad, aku belum memikirkan soal nikah. Traumaku belum sembuh, misal sekarang aku terima kamu, tapi alam bawah sadarku masih terbersit jangan-jangan Arsyad ninggalin aku kayak Irsyad dan ayah. Nanti aku sedih banget pasti, gak bisa bayangin betapa hancurnya apalagi udah nikah jiwa raga sudah kukasihkan ke kamu, nyesek banget itu mah!"


"Wajar lah, Sha. Aku berusaha membuat kamu bahagia, tidak ada tangisan, itu janjiku."


"Gombal banget omongan laki!"


"Nah kan....makanya ayo nikah, biar kamu tahu aku gak gombal."


Sha tertawa, "Sumpah deh, Syad. Kamu tuh ngebet banget tau. Lucu."


"Kok lucu sih. Sekarang gantian aku yang tanya."


"Apa?"


"Misal saat aku pulang kamu diminta menikah oleh ibu, siapa yang akan kamu pilih?" tanya Arsyad, mendadak serius. Degupan jantung Arsyad semakin cepat, pertanyaan itu keluar dari hatinya begitu saja.


Sha tertawa menanggapinya, "Apaan. Kenapa ibu harus menyuruh aku menikah."


"Jawab aja kenapa sih sayang! Aku dari tadi jawab pertanyaan kamu jelas, tegas, dan cepat."


Sha terdiam. "Aku tunggu jawaban kamu! Semoga jawaban kamu menjadi pengantar tidur buat aku!"


Sha terdiam lalu menghela nafas pelan. "Kamu!"

__ADS_1


__ADS_2