
Kehadiran Sha membuat nenek akhirnya mau tinggal lebih lama di rumah Wira. Setiap hari, sepulang kerja nenek selalu mengajak Sha menonton tv atau membuat kue bersama. Arsyad sampai kesal karena mereka berdua kompak bercerita ini itu, sampai bingung ada saja topik pembicaraan.
"Arsyad di atas, Pak Danu. Di ruang kerja papa!" ucap Sha saat Danu datang, memang keduanya ada kepentingan kerja malam ini. Tak dibahas di kantor karena pekerjaan lain masih menumpuk.
"Kamu itu Danu, gak nikah-nikah. Kasihan tunangan kamu gak pernah kamu apeli. Malam begini masih saja sama Arsyad atau Wira," celetuk nenek yang dijawab senyuman oleh Danu.
"Dia juga sibuk, nek! Jadi kami masih fokus karier masing-masing," jawab Danu sopan, merasa bahagia diperhatikan oleh ibu dari Pak Wira.
"Nanti kalau sudah menikah jangan terlalu sibuk istrimu," saran nenek yang kembali dijawab Danu dengan jawaban singkat baik.
"Pak Danu juga gak punya keluarga ya, Nek?" tanya Sha heran, karena setahu Sha, Danu sangat sibuk di kantor. Apalagi waktu kantor dipimpin Pak Anwar, hampir setiap hari Pak Danu overload terhadap pekerjaan.
"Punya cuma di luar kota, mau menikah juga masih tunangan saja. Dia itu anak baik, pekerja keras tapi sepertinya enggan untuk menikah. Apalagi melihat calon istrinya sesibuk itu."
Sha mengangguk paham, "Mungkin Pak Danu punya trauma tentang keluarga, sehingga harus menyiapkan mental yang lebih untuk menjalani sebuah pernikahan dan rumah tangga."
"Mungkin," jawab asal nenek namun tak lama kemudian beliau menoleh pada Sha. "Kalau kamu? Nenek dengar kamu punya masalah dengan keluarga Maheswari. Kamu masih ingat kan, teman nenek itu?" pancing nenek yang sebenarnya sudah tahu dari Arsyad.
"Sebenarnya Sha juga gak merasa punya masalah dengan Nyonya Maheswari Nek, ibu Sha yang sebenarnya bermasalah dengan keluarga beliau." Sha tetap berbicara santun, meski sangat jengkel bila membahasa keluarga Tuan Arya.
"Masalah apa?"
__ADS_1
"Sha dari kecil tidak tahu siapa ayah, Sha." Sha menahan tangis memulai cerita tentang masa lalunya yang tidak pernah mengenal sosok ayah. Sejak lahir hingga usia 24 tahun hidupnya hanya dengan sang ibu. Meski sang ibu selalu mengatakan bahwa Sha punya ayah kandung. Sha terlahir dari hubungan yang sah, buka anak haram atau anak dari ibu simpanan.
"Keluarga Tuan Arya tidak menyukai ibu, Nek. Ya otomatis juga tidak menyukai Sha."
Nenek hanya mengangguk paham, sejauh ceeuta Sha memang sesuai dengan apa yang diceritakan Arsyad. "Lalu? Hubungan kamu dengan Arya bagaimana?"
"Sha memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan Tuan Arya," jawab Sha jujur. Dan untuk masalah ini memang hanya Sha dan Arsyad yang tahu. Nenek pun kaget.
"Maksudnya?"
"Sha ingin hidup bahagia, Nek. Selama ini Sha sudah sangat bahagia hidup dengan Ibu tanpa gangguan Tuan Arya, saat dia hadir kembali. Masalah datang dan membuat hidup Sha kacau. Sha pernah bertengkar dengan ibu gara-gara pria itu. Ibu juga pernah didatangi istri Tuan Arya dan Nyonya Maheswari sampai akhirnya ibu mungkin memendam sakit hati pada keluarga Tuan Arya hingga menderita serangan jantung itu. Sha gak mau, Nek. Di kehidupan hari ini dan nanti Sha gak mau terlibat dengan keluarga pria itu. Sha ingin memutus benang merah agar bisa hidup aman dan damai bersama Arsyad dan keluarga Arsyad saja."
"Saya juga gak pernah menuntut bertemu ayah, atau meminta perhatian ayah. Bahkan untuk wali nikah sejak awal Sha hanya memikirkan wali nikah saja, tapi ibu akhirnya tetap memilih Tuan Arya sebagai wali nikah saya kemarin."
"Yah..dia memang berhak menjadi wali nikah kamu, Nak!"
Sha mengangguk, memang untuk menjalai rumah tangga tentu sangat baik bila mendapat restu dari kedua orang tua, sehingga masalah wali nikah masih bisa Sha terima.
"Iya, Nek. Sha paham, dan Sha pun tidak berontak. Sha manut apa kata ibu."
"Anak baik."
__ADS_1
"Dan kemarin kami sempat bermasalah karena harta."
"Eh...kenapa?"
Sha pun menceritakan kronologi warisan yang akan ia dapat dari pihak Ayahnya namun ia tolak. "Sha gak mau di akhir acara nanti ada pihak yang tak setuju, meski harta yang akan diberikan oleh Tuan Arya adalah harta pribadi beliau. Namun Sha gak mau menerima. Sha gak layak. Sha gak pernah berbakti pada beliau, tak seharusnya Sha menerima itu semua. Lagian hati Sha tak mengakui dia ayah Sha."
"Hei itu tidak baik, Nak!"
Sha mengangguk, "Sha tahu, Nek. Dan ibu sudah beberapa kali mengingatkan Sha, hanya saja Sha tak bisa legowo lalu memaafkan beliau. Sha tidak bisa. Oleh sebab itu, cara terbaik adalah memutus hubungan saja. Seperti sebelumnya saat Sha tidak tahu siapa ayah Sha. Di masa dulu, Sha tidak mengenal ayah dan hidup bersama ibu. Di masa sekarang dan nanti Sha tidak mengenal ayah dan hidup bersama suami dan anak Sha. Keadaan yang baik untuk semua pihak."
Nenek hanya menghela nafas pelan, sebenarnya beliau tak setuju dengan keputusan Sha. Tapi beliau juga kasihan dengan luka batin Sha sebagai anak. Nenek hanya bisa menasehati saat ini Sha boleh bersikap seperti ini karena kehadiran sang ayah yang tiba-tiba, dan menggangu tatanan hidup Sha, namun nanti Sha bisa memaafkan beliau dan melanjutkan hubunagan ayah dan anak.
"Kamu anak baik, insyaAllah suatu saat nanti kamu akan diberi hidayah untuk memaafkan ayah kamu," nasehat nenek begitu hangat, dan Sha hanya mengangguk. Ia hanya menjalani hidup sesuai hati nuraninya, tapi tidak tahu bagaimana keadaan hatinya nanti untuk sang ayah.
"Nenek gak menyesalkan punya menantu seperti saya?" tanya Sha khawatir. Karena di satu sisi ia begitu egois dan menunjukkan sikap pendendam.
Nenek menggeleng dan tersenyum, "Keluarga kami mengajarkan, bahwa antar anggota keluarga memiliki pandangan dan keinginan ataupun masalaha tertentu. Tapi tidak berhak ikut campur. Sikap peduli kita tunjukkan dengan menasehati dan membantu bila dimintai tolong, kamu ingat betulkan peringai Anwar seperti apa. Tapi Wira tak juga bertindak, hingga akhirnya pihaj berwajiblah yang menangani. Seperti halnya keputusan kamu. Hidup kamu tergantung pada keputusan kamu dan Arsyad. Bukan pada keluarga besar. Baik buruknnya nanti hanya Arsyad dan kamu yang tahu, keluarga hanya bisa mendukung, menasehati dan membantu bila butuh bantuan. Tapi untuk menjalaninya apa kata kamu dan Arsyad."
Sha mengangguk, sembari mengusap air mata yang menetes. Obrolan dengan nenek sangat berarti bagi Sha. Sangat menghormati keputusan yang diambil Sha tanpa menggurui dan memaksa, tapi nasehat tetap ada. Mungkin ini adalah jawaban doa Sha selama ini. Mendapat keluarga yang baik dan menerimanya, syukur tak terkira.
"Terimakasih, Nek!" jawab Sha sembari membalas pelukan nenek yang penuh kehangatan dan kasih sayang.
__ADS_1