JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
AKHIR


__ADS_3

Farah gemetar sedangkan sang mama sudah menatap angkuh ketika Irsyad dan mama mertuanya menuruni tangga. Tangannya terus memeluk lengan sang mama, sembari menunduk.


"Selamat pagi, San!" sapa mama Irsyad ramah, berusaha menampilkan senyum ramah meski sang besan berwajah angkuh. Ia yakin Farah telah mengadukan perbuatan Irsyad, wajar sangat wajar. Diperlakukan kasar oleh sang suami, tentu Farah akan mencari perlindungan di keluarganya. Andai saja mama Irsyad punya anak perempuan dan diperlakukan kasar seperti Farah, ia akan mengambil tindakan seperti mama Farah saat ini. Beliau tidak marah pada Farah karena sang anaknya lah yang bersalah.


"Selamat pagi!" jawab mama Farah tegas, sedangkan Farah sudah tidak bisa berkutik. Diam dan gemetar. Sedangkan Irsyad malah memasang wajah malas, bertemu dengan Farah dan mamanya.


"Ada yang bisa dibantu, San?" tanya mama Irsyad mencoba mencairkan suasana tegang. Ia tahu kedatangan Farah dan mamanya untuk klarifikasi sikap Irsyad. Namun sebelum pembahasan inti tentu ada pengantar yang ramah.


"Ada yang bisa dijelaskan Irsyad pada saya, Nyonya?" tanya mama Farah mengintimidasi. Tatapannya tajam pada Irsyad, sedangkan mama Irsyad hanya menelan salivanya kasar. Tak tahu harus mulai menjelaskan dari mana.


"San..."


"Biar Irsyad yang menjelaskan, Ma!" ucap Irsyad mengambil alih diskusi berat kali ini. Dia tetap menatap sang mertua, bahkan keberadaan Farah tak ia gubris sama sekali.


"Pertama saya minta maaf. Maaf sudah mengambil kegadisan Farah, meski dalam keadaan mabuk saya sadar saya telah merenggutnya. Yang kedua, saya minta maaf karena sampai saat ini saya tidak memperlakukan Farah dengan baik."


"Bisa diperjelas tidak memperlakukan dengan baik itu seperti apa?"


"Hanya menggunakan tubuh Farah sebagai pelampiasan hasrat saja, dan kemarin saya menampar serta menjambaknya."


Irsyad menjelaskan dengan sangat tegas. Tak berniat menutupi, sepertinya ia tidak ada usaha untuk pencitraan. Sang mama hanya melirik Irsyad, agak terkejut Irsyad bicara dengan lugas.


"Sekejam itu kamu, lalu tanggung jawab kamu sebagai suami apa?" mama Farah masih tenang dan tak emosi, hanya nada bicaranya ketus.


"Nyonya mau pertanggung jawaban dari saya seperti apa?" tanya Irsyad seperti menantang. Inilah yang membuat mama Farah tak kuasa menahan emosi. Teh hangat yang ada didepannya langsung disiram ke wajah Irsyad.

__ADS_1


"Ma..!" sentak Farah kaget.


Irsyad hanya menunduk sembari mengusap wajahnya, sedangkan sang mama hanya menahan nafasnya saja. Tak berkutik sama sekali. Beruntung tidak ada sang suami, entah jadinya apa siang ini kalau sampai sang suami turun tangan, anaknya dipermalukan seperti ini.


"Kenapa? Kamu masih membelanya?" umpat mama penuh emosi. Bahkan beliau sampai berdiri dan menunjuk ke arah Irsyad.


"Sekarang saya tanya, kamu mau bagaimana pernikahan ini?" tantang mama Farah.


"Cerai!" satu kata, dan Irsyad berani mengungkapkannya. "Yang saya khawatirkan Farah hamil, sampai saat ini juga tidak terjadi. Daripada anak Nyonya saya perlakukan lebih kasar lagi lebih baik pisah saja!"


"Baik, ceraikan Farah sekarang. Dan kamu urusi di pengadilan agama. Sedangkan saya akan mengurusi di kantor polisi."


"Untuk apa Besan?" tanya mama Irsyad ketar-ketir. Mengira bahwa Irsyad akan dipolisikan.


"Kita bisa bicarakan secara kekeluargaan," pinta mama Irsyad dengan menahan lengan mama Farah. Irsyad tak suka sang mama memohon pada orang lain. Tak sepatutnya mama menurunkan harga diri di depan orang lain.


"Ma!Cukup, Irsyad tahu konsekuensinya. Tak perlu mama merendahkan diri mama pada keluarga mereka!"


"Syad!" tegur mama. Mau bagaimana pun di posisi ini Irsyad yang salah, beliau tidak mau membela anaknya berlebihan tapi tak tega bila Irsyad berurusan dengan polisi.


"Lihat lah, Farah. Betapa angkuhnya suamimu ini. Terus bela saja hingga dirimu sendiri yang sengsara!" tak kalah sengit mama Farah membuka hati dan pikiran Farah bahwa Irsyad bukan lelaki baik untuknya.


"Saya angkuh karena tidak respect dengan putri Anda!" Irsyad juga tak mau kalah. Baginya pantang direndahkan. Ia akan baik pada seseorang yang membuatnya nyaman.


"Farah? Tidak respect sama kamu?Heh...gak salah. Dia tidak pernah sekalipun bercerita rumah tangganya, tapi tidak untuk kali ini. Dia sampai bercerita kepada saya karena kamu sudah keterlaluan."

__ADS_1


"Tanyakan pada anak Anda, sikap dia juga sangat keterlaluan." Irsyad tak mau dihina juga, kalau saja Farah tidak mengusik Sha mungkin ia hanya mengacuhkan saja tidak sampai KDRT.


Mama Farah diam seketika, ia luput menanyakan kenapa Irsyad sampai bersikap seperti itu. "Kenapa Anda diam? Kenapa tidak tanya apa yang telah dilakukan Farah? Jangan sok polos kamu!"


"Jelaskan pada mama yang sebenarnya Farah!"


"Sudah Ma, sudah ayo kita pulang!"


"Lihat, putri Anda mengalihkan pembicaraan. Buka mata Anda. .siapa yang menimbulkan gara-gara!"


"Syad!" mama Irsyad menegurnya, agar tetap berlaku sopan. "Bicaralah baik-baik, Nak. Mau bagaimana pun juga dia masih mertua kamu!"


"Farah!" tegas mama Farah tak tahan sang putri diam terus. "Bilang sama mama, perilaku buruk apa yang telah kamu buat!"


Farah semakin menunduk, sudah kepalang tanggung ia harus menuntaskan masalah ini. Pernikahan yang sejatinya menciptakan kebahagian ternyata tak bisa diharapkan. "Farah mengusik Sha. Farah jengkel, kecewa, dan cemburu kala Irsyad berbicara berdua dengan Sha, si mantan! Irsyad tidak pernah menghargai aku, Ma. Setiap kita berhubungan intim yang disebut Sha, Ma. Mama bisa merasakan betapa sakitnya aku, badanku yang dipakai untuk fantasi liarnya!" Farah menangis, tak tahan batin dan fisiknya dikecewakan oleh Irsyad. Sudah cukup dalam beberapa bulan ini hanya dianggap boneka. Ia berhak bahagia, benar kata mama kalau sudah tak bisa lebih baik mundur.


Jangan pernah hidup dengan mengemis cinta orang lain, karena pada dasarnya berumah tangga adalah prinsip ibadah yang seimbang. Porsi kewajiban suami dan istri ada, begitu juga haknya. Tidak boleh timpang apalagi sampai merendahkan.


"Tenang saya Mas Irsyad, aku akan menyetujui gugatan Mas Irsyad, aku tunggu. Dan satu lagi, aku sangat berterima kasih dengan mama, karena sebagai mertua beliau memperlakukan aku dengan baik." Farah pun menangis, "Bolehkah Farah memeluk mama terakhir kali?" pintanya menatap mama Irsyad dengan linangan air mata. Seorang wanita cantik inilah yang membuat Farah bertahan sejauh ini.


"Sini, Nak!" ucap Mama Irsyad dengan merentangkan tangannya. Meski mama sayang dengan Sha, tapi beliau juga berusaha bersikap baik dan belajar menyanyangi Farah. Perempuan muda ini hadir di keluarga karena kesalahan sang putra. Beliau tidak bisa menyalahkan Farah begitu saja.


Hati memang tidak bisa dipaksa, mau seberapa besar usaha Farah merebut hati Irsyad kalau dokter muda itu tak membuka hatinya juga tidak akan mendapat hasil yang Farah inginkan. Farah juga tidak sealim itu, hingga tidak mengambil jalan langit agar Irsyad luluh. Sudah, hatinya sudah cukup dipermainkan. Kini saatnya menyerah. Tidak apa-apa, daripada dipaksakan tentu berakibat tidak baik nantinya.


"Farah pamit ya, Ma. Sekali lagi terimakasih dan mohon maaf!" peluk Farah sebelum menyusul sang mama. Kepada Irsyad hanya melirik dan tak mengucapkan sepatah kata pun. Berakhir sudah semuanya, semoga ini jalan yang terbaik.

__ADS_1


__ADS_2