JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
OBROLAN LAKI


__ADS_3

"Makin lengket saja sama Indah nih," ledek Danu yang kebetulan malam itu diminta Pak Wira ke rumah. Ada beberapa proyek di kantor pusat yang membutuhkan perannya.


"Ngomong lagi gue tabok lo," Arsyad kesal dengan ledekan Danu. Dirinya seharian dibuat jengah karena Indah gak mau pisah darinya. Arsyad sampai bingung, nih cewek getol banget cari perhatian sama cowok.


"Kenapa? Harusnya seneng dong, ditemani ayang seharian."


"Sumpah gue heran dia nempel mulu sama gue tau, gue risih!" keluh Arsyad membayangkan Indah yang mengajaknya duduk berdampingan di sofa dengan mengerjakan tugasnya masing-masing.


Danu mendengar keluhan Arsyad malah tertawa ngakak, bisa dipastikan Arsyad ingin mengusirnya tapi tak tega. "Emang lo gak tanya dia ada kesibukkan gak?"


Arsyad menggelengkan kepala, " Aku bosnya, jadi bekerja di mana pun berada tak masalah."


"Waoooo songok banget calon bini lo ya," ledek Danu semakin menjadi.


"Calon bini pala lo peyang, amit-amit gue punya istri kayak dia. Bisa-bisa gue gak dibolehin kerja. Maunya di kamar terus, hiiii!"


Danu tertawa hingga memegang perutnya, tak menyangka Indah seperti itu. Padahal tampak luar dia sangat anggun. "Fix butuh belaian, cepat halalin bro."


Arsyad langsung menonyor kening Danu, bisa-bisanya memberikan ide bayar tunai sedangkan hati masih memilih Sha. "Halal halal, yang bener kalau ngomong!"


"Lagian kurangnya Indah apa coba, cantik, baik, pekerja keras, keluarga kalian juga kenal baik."


"Ngomong sama tangan sono!"


"Mengharap Sha juga percuma kali, Syad. Dia kayaknya beneran tolak kamu. Biasanya nih cewek kan main tarik ulur, nah tadi siang saat makan siang bareng...."


"Lo makan siang sama Sha? Berdua?" tanya Arsyad tak terima bahkan matanya hampir copot tapi Danu malah tertawa keras. Atasannya itu kebakaran jenggot kalau perempuan incarannya didekati. Bucin parah.


"Kenapa lo marah, Sha jomblo!"


"Heh sekali lagi lo bilang Sha jomblo, gue kepret!"


"Tau gak, Syad. Kasihan Sha sebenarnya."

__ADS_1


"Kasihan kenapa?" mendadak tidak emosi kalau menyangkut keadaan Sha.


"Dia lagi digosipin sama anak kantor."


"Lah kenapa?"


Danu pun mulai menceritakan pengamatannya pada sikap beberapa karyawan perempuan terhadap Sha. Dan menceritakan juga kalau Sha sebenarnya sudah tahu kalau dia tidak disukai oleh beberapa karyawan karena kedekatannya dengan pria tampan di kantor ini.


"Lo, gue, dan Arman!" Danu menyebutkan siapa pria yang diduga dekat dengan Sha. "Mereka mungkin menganggap siapa sih Sha itu, selama ini juga hanya dikenal sebagai anak keuangan saja, tapi kini..bisa-bisanya dekat dengan kita."


"Emang Sha sedekat itu sama kamu dan Arman, kalau sama aku sih dia sebatas profesional kerja," ucap Arsyad cemberut. Tak ada rasa spesial untuknya, Sha memang selalu bilang bos dan sekertaris saja. Kalau di chat pun yang dibahas juga pekerjaan, hingga Arsyad keki memulai obrolan pribadi.


"Setahu aku, hanya sebatas rekan kerja. Ngopi sama Arman juga gak pernah bahas Sha berlebihan, ya murni pekerjaan aja."


"Memang Sha itu terlalu istimewa," sahut Arsyad mengakui. Menaklukkan Sha sangat sulit kalau hanya urusan kata cinta. Dia bukan cewek yang gampang digombali. Rizekinya Irsyad saja yang mudah menaklukkan Sha tanpa usaha berlebihan.


"Trus apalagi ya lo obrolin dengan Sha waktu makan siang?" tanya Arsyad kembali ke setelan awal, sewot.


"Ada dua cerita sih, yang pertama kronologi gue menikah siri dan pandangan Sha soal cinta."


Sha bilang sebenarnya dia tidak percaya soal cinta. Ia sangat kecewa dengan laki-laki, terutama sang ayah yang sejak ia bayi tak pernah dilihat. Dia pun sudah dinasehati oleh sang ibu, bahwa tidak semua laki-laki seperti ayahnya. Sha tidak boleh punya pikiran begitu selamanya, akhirnya saat Irsyad PDKT, Sha pun mencoba untuk belajar. Sikap dan perhatian Irsyad pun berhasil mengubah pola pikir Sha terhadap laki-laki.


"Tapi begitu kejadian Irsyad nikah dadakan, Sha semakin trauma dan tak percaya akan kesetian laki-laki."


"Dia belum tahu kalau aku setia kali, Dan."


Danu tertawa," justru kalau kamu semakin meladeni Indah dan semakin dekat Sha semakin beranggapan tidak ada lelaki yang setia."


"Kok bisa?"


"Sekarang gue tanya, lo berapa kali menyatakan perasaan pada Sha? Lebih dari sekali kan, tapi begitu Sha bilang enggak, lo semakin dekat dengan Indah. Bisa jadi dia berpikir lo menyatakan perasaan hanya suka sesaat."


"Begonya aku!" ucap Arsyad sembari mengadahkan kepala di leher sofa. "Kenapa gue gak berpikiran ke sana! Gue terlalu spontan aja, gue pikir menerima kehadiran Indah bisa bikin dia cemburu, eh ternyata gue malah yang dites."

__ADS_1


Danu menepuk pundak Arsyad, prihatin. "Katanya teman lama, kok gak bisa menganalisis sikapnya sih. Teman abal-abal lo!" cibir Danu puas. Arsyad semakin frustasi dibuatnya. Ia telah salah langkah hingga membuat Sha semakin menjauh.


"Lalu aku harus apa?" tanya Arsyad lelah.


"Saran gue, gak usah keluar jalur. Kalau memang kamu mau menerima Indah sebagai masa depan lo, fix lo harus konsen hanya pada Indah. Tapi kalau lo tetap mengharap Sha, Indah far away dah!"


"Gitu?"


"Kalau menurutku sih iya. Sha bukan perempuan pada umumnya, dia punya trauma yang membelenggu otaknya. Kalau ada laki-laki yang suka sama dia, harus dia doang yang menjadi fokus utama laki-laki tersebut."


"Tapi gue udah ditolak, Dan. Tengsin lah berapa kali gue nyatakan cinta."


"Tengsin digedein, giliran dinikahi orang mewek kejer, bunuh diri!"


"Sembarangan kalau ngomong," sentak Arsyad tak terima. Namun kalau dipikir ulang, memang harus punya cara jitu meluluhkan Sha. Benar kata Danu, dia perempuan yang punya trauma. Treat untuk memenagkan hatinya tentu berbeda dengan perlakuan pada perempuan lain.


"Sekarang lo harus putuskan gimana sebelum jauh," saran Danu agar Arsyad bergerak cepat.


"Gak tahu. Gue pusing, gue pengen Sha istri gue. Gitu aja, titik."


"Sha? Siapa Sha?" tanya mama Arsyad tiba-tiba muncul, mengganggu obrolan kedua pria itu. Danu hanya bisa mengatupkan bibir, sedangkan Arsyad semakin menjambak rambutnya. Pusing.


Masalah kalau ketahuan mama, malah tambah panjang. Beliau memang tidak mau ikut campurz tapi tiap kali bertemu selalu tanya perkembangan masalah itu, tambah pusing lah. Nah termasuk urusan Sha ini, sebisa mungkin Arsyad tidak membocorkan identitas Sha terlebih dulu sebelum Sha benar-benar fix jadi miliknya.


"Hey, Dude! Who is Sha?"


Danu tetap diam, tapi jarinya mengarahkan pada Arsyad. Sontak mama Arsyad pun menatap sang putra dengan pandangan menuntut.


"Siapa, Syad?"


"Perempuan, Ma. Namanya Sha!"


"I know, tapi siapa dia sebenarnya? Pacar kamu? Yang benar saja, kamu kemarin udah janji mau belajar suka sama Indah."

__ADS_1


Arsyad menghela nafas berat, menatap sang mama dengan melas, "Hati aku menolak Indah, Ma!"


"Apaaaaaaa!"


__ADS_2