JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
MASIH USAHA


__ADS_3

Viralnya video pertengkaran Sha ternyata tak berlanjut lama. Para tetangga menganggap angin lalu karena nyatanya warung Bu Rahmi tetap ramai dan tidak ada yang membahasnya. Beberapa orang yang di depan rumahnya punya CCTV juga sadar kok kalau ada pria necis mendatangi warung Bu Rahmi. Mereka pun berpikir bahwa Bu Rahmi yang dikejar oleh pria itu, dan dituduh pelakor oleh istri sahnya. Namun masih ada suara sumbang yang menyudutkan Bu Rahmi.


Begitu pun dengan Sha. Sehari libur menenangkan diri, kini ia sudah bekerja. Ruangan yang hanya dihuni Danu dan dirinya membuatnya aman dari cibiran para penjulid. Ia hanya menyiapkan mental saat pulang maupun berangkat, untuk makan siang kadang ia membawa bekal atau menyuruh OB mengambil jatah makan di kantin.


Arsyad pun tadi malam sudah mendarat dengan selamat, ia sadar kehadiran Sha di kantor memancing kejulidan karyawan yang sedari awal tidak suka dengan Sha. Ia pun sengaja mempercepat urusan di Singapura.


"Aku sudah di depan rumah kamu, boleh gak turun. Tapi kayaknya sudah ramai pengunjung!" ucap Arsyad di panggilan bersama Sha pagi ini.


"Ck...gak capek, baru nyampe tadi malam langsung kerja paginya."


"Udah buruan aku turun atau tetap di mobil?" Arsyad tak menyahuti omelan Sha, ia sudah kangen dengan gadis itu. Tak lupa sudah ada oleh-oleh.


"Tetap di mobil aja, tunggu 10 menit!"


"Beres sayang!" jawab Arsyad kemudian mematikan panggilannya. Sha hanya mencebikkan bibirnya. Segera menyelesaikan urusan make up, dia pun menenteng heels dan segera pamit ke ibu.


"Sha dijemput siapa, Bu Rahmi. Mobilnya buagus!" ucap Jeng Netti, saat mau memesan nasi uduk.


Bu Rahmi hanya tersenyum, beliau tahu karena saat Sha pamit, ia bilang dijemput Arsyad. "Alhamdulillah, calon mantu."


"Alhamdulillah, kapan nih menikahnya?" begini lah warga +62, selalu ingin tahu kelanjutan cerita hidup tetangganya.


"Doakan saja secepatnya!" balas Bu Rahmi sembari menyelesaikan orderan para pengunjung.


Di dalam mobil senyum Arsyad terus berkembang, beberapa kali melirik ke arah samping, melihat betapa mempesonanya Sha.


"Eh Tuan Arsyad, kita tiap hari video call loh, kayak gak ketemu setahun aja!" decak Sha sebal.


Arsyad hanya tertawa, "Namanya juga kangen, sayang."


"Syad, ah geli tahu dengar sayang. Awas keceplosan di kantor. Aku gak mau ya kalau orang kantor semakin nyinyir ke aku."

__ADS_1


"Kenapa sih, kalau keceplosan minggu depan langsung aku nikahin deh," ucapnya sembari mengacak pucuk kepala Sha, namun ditepis gadis itu. Begitu keluar portal perumahan Sha melihat mobil yang berlawanan arah dengan mobil Arsyad, sekilas pria yang mengendarainya adalah pria yang berada di foto bersama ibu nya.


Deg


Spontan Sha terdiam, berpikir keras. Sontak ia menoleh ke belakang. Mencoba menebak ke mana arah mobil itu.


"Kenapa sayang?" tanya Arsyad, aneh saja melihat gelagat Sha yang menatap ke belakang.


"Mobil itu...kayaknya mobil tuan mantan suami," jawabnya lirih dengan masih menatap ke belakang. Arsyad hanya melirik spion atas dan kembali ke arah jalan.


"Hanya perasaan kamu aja kali. Mana mungkin ayah kamu berani menemui ibu di saat ramai. Apalagi habis video viral itu."


Sha terdiam, mengangguk pelan membenarkan apa kata Arsyad, namun hati tetap saja gelisah. Ia pun mengirim pesan pada Mbak Marni.


Mbak, kalau ada apa-apa sama ibu langsung telpon aku ya. Makasih.


Tak mendapat balasan dari Mbak Marni, Sha pun mencoba berpikir positif. Ia melanjutkan aktivitas di kantor dengan penuh profesional.


Sedangkan di warung, benar pria itu datang. Tapi menyamar menjadi pembeli, Marni yang melayani tak menamatkan secara jelas. Namun Bu Rahmi menyadari kehadiran mantan suaminya itu. Berusaha tidak gugup, dan melayani pelanggan sesuai catatan Marni.


Dan benar saja, saat pelanggan sudah banyak yang bubar, lelaki itu mendekat. Hendak membayar, namun Marni langsung terpaku. "Bu!" panggil Marni dengan tetap menatap pria itu, tapi tangannya menarik baju Bu Rahmi yang sedang menunduk, berniat menghitung hasil penjualannya.


"A.." giliran Bu Rahmi yang terpaku. Pria itu tersenyum tipis, dan menyapa Iswa.


"Apa saja pesanannya?" tanya Bu Rahmi berusaha bersikap biasa.


"Nasi uduk dan teh hangat, krupuk 2 bungkus!" jawabnya mendikte pesanannya.


"20 ribu," jawab Bu Rahmi tanpa melihat pria itu. Menyibukkan diri dengan kalkulator. Marni hanya diam mengamati, mau ke dapur mengambil ponselnya yang di letakkan di atas kulkas.


"Iswa, boleh aku bicara."

__ADS_1


"Silahkan, Anda mau bicara apa?" Bu Rahmi pun mengizinkan dan menyuruh beliau duduk di kursi pelanggan. Marni buru-buru masuk.


"Bu Rahmi mau beli nasi uduk," ucap salah satu pelanggan yang baru saja datang. Bu Rahmi pun melayani pelanggannya terlebih dulu, Arya pun paham. Mau bagaimana pun, mantan istrinya bisa bertahan hidup karena warung ini. Beliau pun duduk menunggu hingga urusan Rahmi selesai.


"Siapa itu, Bu?" tanya pelanggan itu.


"Pelanggan. Mau pesan nasi box, tapi mau saya tolak. Pesannya hampir 200 box."


"Loh...jangan ditolak, rizeki."


"Iya ini mau deal-dealan dulu. Silahkan, minumannya nanti saya antar!" ujar Bu Rahmi ramah sembari menyodorkan sepiring nasi uduk sesuai pesanan.


Tak berhenti di situ, ternyata pengunjung warung masih banyak yang datang. Arya tetap menunggu, dan Rahmi mengabaikannya saja. Dia harus bersikap seperti tak kenal pria itu agar tak ada gosip lagi.


Setelah dirasa tidak ada lagi yang datang, Bu Rahmi mulai mengobrol dengan Arya. Pria itu menyodorkan beberapa berkas akta tanah dan aset kepemilikan saham. Bu Rahmi sontak kaget.


"Maksudnya?" tanya beliau tak tahu apa ini semua. Sedangkan Marni menghubungi Sha belum juga diangkat.


"Untuk Lethisa!"


"Maaf, mewakili Sha. Saya menolaknya."


"Wa, tolong beri kesempatan saya menebus kesalahan meninggkan kalian. Aset ini adalah hak untuk Lethisa."


Bu Rahmi menggeleng. "Kami ingin hidup bahagia. Kami ingin hidup aman tanpa ada orang yang sakit hati. Pulanglah, tolong jangan temui kami lagi. Ibu dan Istri serta keluarga Anda tentu belum bisa menerima kami, kami tak mau mereka semakin membenci kami. Seperti permintaan saya sejak awal. Bukan harta atau pengakuan, saya hanya meminta Anda menjadi wali nikah Sha nanti itu saja."


Arya terdiam, menatap perempuan yang masih ayu di matanya. Ada rasa sesak dalam dada, begitu jahatnya ia meninggalkan wanita sebaik ini. Sungguh kalau ia tahu punya anak dari Iswa, tentu akan melakukan segala cara agar mengirimi nafkah sejak dulu.


"Maaf!"


"Sudah tak apa, kami menerima kenyataan. Untuk itu kami harap Anda juga menghargai kami, agar tidak ada gangguan dalam hidup kami. Terutama gangguan dari keluarga Anda."

__ADS_1


"Baik. Sekali lagi maaf, kalau ada apa-apa tolong beritahu kami." Arya kembali menyodorkan karu namanya, namun ditolak Bu Rahmi.


Arya pun membereskan berkas aset dan bertolak meninggalkan rumah Rahmi dengan perasaan bersalah. Sangat. Lelaki pengecut yang hanya bisa menelantarkan anak istrinya. Astaghfirullah.


__ADS_2