JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
RUMAH SAKIT


__ADS_3

Sepeninggal Arya, Bu Rahmi pun hanya merenung, air matanya menetes. Kalau ia menerima sebenarnya juga tidak ada masalah, Sha punya hak. Tapi ia sudah bertekad untuk memutus segala macam hubungan dengan Arya. Ia pun berniat akan meninggalkan rumah ini, dan mencari rumah hasil jerih payahnya. Khawatir kalau suatu saat keluarga Arya mengusut rumah ini juga.


"Bu. Warungnya sudah bisa tutup?" tanya Marni membuyarkan lamunan Rahmi. Beliau pun mengangguk sembari mengusap air matanya. Kemudian, ia meninggalkan Marni berniat ke toilet untuk cuci muka.


Mbak Marni sudah lelah menghubungi Sha, ia pun melanjutkan acara beres-beres warung. Begitu selesai, sisa lauk pun sudah dimasukkan ke dalam wadah, Mbak Marni yang akan ke kamar mandi dikejutkan dengan posisi Bu Rahmi yang duduk di lantai kamar mandi, bersender di dinding dan dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Astaghfirullah ibuuuu!" ucap Marni kaget. Menepuk pelan pipi sang majikan, mencoba menyadarkan. Bahkan ia dengan sengaja mengambil gayung dan mencipratkan pada wajah sang majikan. Tetap tidak bangun. Marni langsung keluar rumah, memanggil siapa pun tetangga yang bisa dimintai tolong.


"Bu Rahmi pingsan, tolong bantu bawa ke rumah sakit, Bu Agus!" pinta Marni dengan paniknya. Beruntung suami Bu Agus mau keluar, hingga Bu Rahmi langsung ditolong. Marni membawa ponsel dan mengunci rumah. Sepanjang perjalanan Marni terus menghubungi Sha namun tak kunjung diangkat. Mengirim pesan entah sampai berapa kali.


Bu Rahmi langsung masuk UGD dan ditangani oleh dokter. Marni menunggu bersama Bu Agus sembari menghubungi Sha. Sungguh Marni sangat kesal karena Sha tak kunjung menghubungi, barulah tepat jam setengah 1 Sha mengangkat telpon Marni.


"Iya, Mbak. Ada apa?" tanya Sha yang baru kembali ke ruangannya setelah menemani Arsyad meeting.


"Mbak, Ibu di rumah sakit X. Ibu pingsan!"


"Astaghfirullah, Mbak. Kenapa?" tanya Sha seketika panik. Ia segera memasukkan dompet, dan mematikan ponsel. Segera pamit pada Arsyad yang mengajaknya makan siang.


"Aku antar, Sha!" jawab Arsyad, ia tak tega melihat Sha yang pamit dengan lelehan air mata. Arsyad langsung menarik tangan Sha, masuk lift bergegas pergi ke rumah sakit.


"Tenang, Sayang!" ujar Arsyad menenangkan gadis pujaannya. Ia harus tetap konsentrasi di jalan karena kondisinya padat saat makan siang.


"Aku udah feeling, Syad. Pasti karena pria itu lagi. Benar banget kan kalau dia datang tadi pagi," ucap Sha sembari sesenggukan membaca beberapa chat Mbak Marni.


"Dia tuh kenapa sih masih ganggu kita, padahal aku dan ibu udah gak mau berhubungan lagi sama dia. Kalau ada apa-apa sama ibu, aku gak akan memaafkan dia, bahkan menambah kebencianku sama dia."

__ADS_1


"Iya...iya, Sayang!" jalan terbaik Arsyad adalah mengiyakan apa yang diucapkan Sha. Perempuan kalau lagi ngoceh mending diam dan mengiyakan.


"Kalau ibu kenapa-kenapa, aku nanti sama siapa, Syad. Hu...hu..!"


Tak perlu banyak kata, Arsyad langsung menarik tangan Sha, memeluknya dengan tangan bebasnya. Ia tahu gadis itu sedang terpuruk karena keadaan sang ibu. Selama ini Sha hanya hidup berdua dengan ibu, tentu hatinya akan hancur bila terjadi sesuatu pada ibu.


"Tenang ya. Ibu akan baik-baik saja," ujar Arsyad sembari merasakan air mata Sha yang tembus di kemejanya. Sungguh kalau dia tidak menyetir, ia akan memeluk erat gadis pujaannya.


Sesampainya di parkiran, Sha ingin berlari menuju UGD namun ditahan oleh Arsyad. "Tenang, aku temani. Kita ke sana bersama."


Sha mengangguk, ia menerima genggaman Arsyad, sangat membutuhkan sandaran. Begitu di depan pintu UGD, Mbak Marni duduk sendiri, Bu Agus sudah pulang. Sha langsung mengintrogasi kronologi pingsannya sang ibu.


"Mbak Sha dihubungi gak diangkat!" ujar Marni setelah menutup cerita terjadinya ibu pingsan. Sha duduk lemas rasanya, ia merasa bersalah ponsel tak dibawa rapat.


"Kok dokter belum kelar ya, Syad?" tanya Sha cemas, menatap pintu UGD yang belum terbuka dan memanggil keluarga Bu Rahmi.


"Sabar, minum dulu!" jawab Arsyad penuh kesabaran menenangkan Sha. Mbak Marni yang belum ngeh dengan kehadiran Arsyad hanya diam sembari melirik lelaki itu, apalagi tadi Mbak Sha memanggil Syad, kok mirip dengan panggilan dengan mantan Sha.


"Syad, tapi ini udah lebih dari setengah jam loh!"


"Ya dokter kan butuh ketelitian buat diagnosa sayang," ujar Arsyad lagi, sangat telaten menghadapi Sha.


Mbak Marni semakin penasaran dengan hubungan Sha dan Syad, apa mungkin pacaran. Si cowok udah berani panggil sayang-sayang.


Mbak Sha pinter banget nyari laki. Dibuang Mas Irsyad eh dapat Syad yang lain. Mana ganteng juga, rizeki anak sholehah memang.

__ADS_1


Arsyad menghubungi Danu untuk menghandle kantor, karena dirinya dan Sha ada di rumah sakit. Baru selesai telpon Danu. Pintu ruang UGD terbuka, seorang perawat memanggil keluarga Bu Rahmi. Sha masuk bersama Arsyad, ya lelaki itu tidak akan meninggalkan Sha. Ia sadar, Sha sangat membutuhkan dukungan dari orang terdekatnya.


"Dengan keluarga Bu Rahmi? Silahkan duduk!" ujar dokter Wahyu.


"Iya dokter. Saya putrinya," jawab Sha lirih. Tangannya sangat dingin, sangat cemas dengan hasil diagnosa sang ibu.


"Sebelumnya apa Bu Rahmi pernah mengeluhkan sakit di sekitar dada?" tanya dokter Wahyu dengan membaca rekam medis Bu Rahmi terkait tekanan darah serta tes darah yang baru saja keluar.


Sha menggeleng, "Tidak dokter. Ibu saya selama ini tidak pernah mengeluhkan apapun."


"Begini, ibu Rahmi mengalami serangan jantung ringan. Disebabkan oleh tekanan darah tinggi. Apa selama ini Bu Rahmi pernah general check up?"


Sha menggeleng. Ibu nya selama ini sehat-sehat saja, soal makanan juga beliau mengontrolnya."


"Baik. Bu Rahmi harus rawat inap dulu, kita lihat perkembangan selanjutnya. Keluarga bisa menemui Bu Rahmi setelah dipindahkan ke kamar inap.


Sha mengangguk. Dirinya cukup lemas mendengar kenyataan akan riwayat sakit sang ibu. Keluar dari ruang dokter Sha langsung memeluk lengan Arsyad. Ia menangis sesenggukan. Arsyad hanya diam, membiarkan Sha menangis. Sungguh tak tega, ia pun membalikkan badan dan memeluk gadis pujaannya erat.


"Sabar. Ibu pasti sehat, kita sholat dulu ya. Biar kamu tenang." Sha mengangguk, dan mengajak Marni sholat serta makan siang.


Mereka bertiga berjalan beriringan, Sha berada di tengah dengan genggaman tangan erat pada Arsyad. Menuju musholla dengan perasaan campur aduk. Bahkan sholat pun masih kepikiran kesehatan sang ibu. Untuk makan pun harus dipaksa Arsyad dulu dengan berbagai bujukan.


Kamu harus kuat. Nanti kamu yang menjaga ibu, kalau kamu sakit siapa yang akan menjaga beliau. Tenang aja aku temani kamu.


Begitulah bujukan Arsyad agar Sha mau makan.

__ADS_1


__ADS_2