
"Dia anak Iswa," jawab Arya dengan fokus menyetir mobil. Tatapannya lurus ke arah jalan tak menggubris ekspresi sang mama. Biarlah beliau penasaran pada anak perempuan itu. Toh Sha juga sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Arya, apalagi keluarga besarnya.
Tepat seperti dugaan Arya, sang mama diam. Suasana di mobil sangat hening, hanya deru mobil yang terdengar. "Kamu tahu sejak awal kehadiran anak dengan perempuan itu?" tanya mama tiba-tiba.
"Enggak, Arya pergi begitu saja kan. Tanpa tahu keadaan Iswa yang sebenarnya, pria bangsa* banget aku ya!" ucap Arya menyindir.
"Bisa jadi anak dengan laki-laki lain kan," masih saja sang mama menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Iswa. Hanya karena derajat harta membuat Nyonya Maheswari enggan bertemu dengan Iswa.
"Andai Iswa punya anak dengan laki-laki lain, kenapa mama menyebutnya mirip Farah?"
"Hanya kebetulan," jawab beliau dengan ketus.
"Mama tahu gak Farah bercerai karena apa?"
"Irsyad selingkuh!"
"Diduga selingkuh dengan mantannya," ralat Arya.
"Emang laki kurang bersyukur. Kurang apa Farah sampai diselingkuhi seperti itu," omel beliau tak terima. Arya tersenyum sinis, sembari menggelengkan kepala.
"Anggap saja karma!" balas Arya, spontan Nyonya Maheswari menoleh pada sang anak. Bagaimana tidak Farah itu anak kandungnya loh, kenapa dibilang karma.
"Maksud kamu bilang apa seperti itu, Arya!"
"Mama masih ingat video viral yang menyangkut Farah melabrak perempuan yang dianggap selingkuhan Irsyad? Dia adalah Lethisa, menantu keluarga Wira tadi."
Deg
Nyonya Maheswari terdiam sejenak, meresapi ucapan Arya! Bagaimana tidak, kedua cucunya terlibat dalam satu percintaan yang sama. Kenapa kisah Arya terulang.
"Ibu dan anak sama-sama pelakor," ucap Nyonya Maheswari penuh kesal. Tak menyangka rumah tangga anak serta cucunya hancur karena Iswa dan anaknya. Kenapa juga harus berputar pada Iswa lagi. Ceritanya pun hampir mirip.
"Bukan salah Sha atau Iswa, Ma! Yang salah itu Irsyad dan aku," ucap Arya dengan tegas. Sudah cukup kedua perempuan yang lepas dari genggamannya itu disalahkan oleh keluarganya. Bahkan sampai Iswa sudah meninggal pun masih disalahkan.
"Coba mama fikir, Farah dari kecil hidup serba berkecukupan, mewah malah. Disayang oleh keluarga besar, tapi sangat berbeda dengan Iswa dan Lethisa. Sangat bertolak belakang. Iswa tidak menikah, dia membesarkan seorang diri. Bayangkan, sebagai seorang perempuan mama sanggup tidak seperti Iswa?"
"Kenapa harus merasakan seperti Iswa kalau mama berasal dari orang kaya," ucap beliau jumawa.
__ADS_1
Arya tersenyum sinis, "Kaya tapi hati tak bahagia buat apa. Mama bisa ngomong seperti itu karena mama tak pernah mengalami terpuruknya hidup seperti Sha. Dan mama juga tak mau tahu bagaimana hati anakmu ini, Ma. Anak satu-satunya yang katanya mama banggakan, tapi aku sampai sekarang tak pernah lagi merasakan bahagia. Uangku banyak, bahkan bisa dibilang lebih banyak dari uang papa. Tapi hatiku kosong, penuh rasa sesal karena meninggalkan perempuan baik seperti Iswa."
"Salah kamu sendiri, mau aja disuruh nikahin perempuan itu, akhirnya kamu hidup dalam penyesalan."
Arya mengangguk, "Mungkin mama dengan gampang bilang seperti itu, tapi buat aku tidak. Hatiku punya cinta untuk Iswa dan tak salah pilih, dia berdiri, mandiri dalam merawat keturunan keluarga kita. Bekerj keras untuk menghidupi keturunan keluarga kita, terlihat ikhlas. Nyatanya menjadikan Lethisa anak yang baik."
"Baik katamu, tapi pelakor."
"Diduga pelakor, Ma. Tapi tidak terbukti. Irsyad yang mengejar Sha. Dia sama sekali tidak menanggapi. Asal mama tahu Irsyad begitu cinta mati karena Sha memiliki nilai diri yang baik, hasil didikan Iswa."
"Trus kamu mau mrmbandingkan Sha dan Farah begitu?"
"Secara tidak langsung iya. Sha hidup hanya dengan sang ibu, tapi Farah hidup dalam keluarga yang kaya dan perhatian sama dia. Tapi ternyata, Farah tak bisa membuat suaminya sendiri jatuh cinta, karena apa. Farah terlalu obsesi memiliki Irsyad. Sejak kecil ia minta apa selalu dituruti, hingga terbawa saat dia dewasa. Dan itu yang membedakan Sha dan Farah. Lihat sekarang, Farah hancur. Sha hidup disayang oleh keluarga mertuanya. Apakah Farah mendapatkan perhatian seperti itu, aku rasa tidak."
"Kamu ngomong banyak gini seakan membela Lethisa dan menyalahkan didikan mama Farah. Bapak macam apa kamu," sentak Nyonya Maheswari geram.
"Dari awal aku sudah mengaku, Bapak Bangsa*. Makanya aku lebih timpang pada Sha ketimbang Farah, padahal mereka darah dagingku."
"Sinting."
*
*
*
"Sini!" panggil Arsyad yang duduk di kursi kebesarannya. Mata Sha terlihat merah, ia yakin pasti ada sesuatu hal yang terjadi meski senyum manis masih menghiasi wajah cantiknya.
"Di kantor," tolak Sha saat Arsyad menarik tangan hingga dirinya duduk di pangkuan sang suami.
"Pintu sudah otomatis terkunci, password pintu juga sudah aku ganti. Jadi aman Sayang!" ucap Arsyad segera memeluk sang istri. Menempelkan pipinya di pundak Sha.
"Ada apa?" tanya Arsyad dengan mengeratkan pelukan. Terasa Sha menggeleng, namun Arsyad tak kurang akal. Dengan jahil ia menggelitiki pinggang Sha.
"Ayo ngomong ada apa."
"Gak ada yang perlu diomongin, aku kenyang aja habis makan. Ah udah dong, geli tau!" protes Sha dengan menepuk tangan Aryad.
__ADS_1
"Aku tahu dari mata kamu, Sayang!"
Sha diam, lalu menoleh pada sang suami. "Emang dijidatku kelihatan kalau aku lagi menyimpan sesuatu?"
Arsyad mengangguk. "Kita sehati, dan sefrekuensi. Aku sangat peka akan hal itu."
Sha menghela nafas pendek, mengelus pipi Arsyad. Mereka sekarang berhadapan dengan Sha masih di pangkuan Arsyad. "Tadi bertemu Tuan Arya."
"Ouh."
"Kok cuma Ouh?"
"Ya kan sudah bisa memprediksi kalau kamu bertemu dengan beliau, pasti diam. Hanya mengangguk dan bersalaman lalu mengabaikan."
Sha tertawa, "Kok bisa tahu, sih?"
"Karena aku suamimu," jawab Arsyad sok gombal.
"Kalau bertemu Tuan Arya sih, hatiku bisa terkondisi. Tapi kalau sama Nyonya Maheswari.."
"Nyonya Maheswari? Siapa?" tanya Arsyad memastikan. Setahunya Sha tak mengenal keluarga dari Tuan Arya. Tapi kok tahu nama itu."
"Teman nenek, jadi nenekku adalah teman nenek kamu," ujar Sha. "Tapi aku gak merasa diakui cucunya sih," lanjut Sha kecewa. Mau sebenci apa dengan Tuan Arya, percayalah sudut hati Sha bahagia karena ternyata punya ayah, dan sekarang bertemu neneknya.
"Tapi beliau tahu, kamu cucunya?"
Sha menggeleng. Tuan Arya aja gak tahu aku lahir, apalagi Nyonya Maheswari."
Arsyad mencoba memahami perasaan Sha. "Gak usah sedih, belajar berdamai dengan masa lalu. Kalau mau bertemu dengan Nyonya Maheswari akan aku antar."
Sha mengangguk, lalu memeluk leher Arsyad. "Kadang hatiku tuh marah dengan Tuan Arya, tapi kadang aku ingin dekat dengan beliau. Galau banget. Rasa kecewa dan benciku masih memimpin."
Arsyad mengelus rambut Sha, "Gak pa-pa. Pelan-pelan."
"Semoga saja aku bisa segera memaafkan mereka," ucap Sha tulus. "Aku gak suka punya dendam, tapi aku juga gak mau disakiti."
Arsyad tiba-tiba diam, teringat harta Sha yang diberikan oleh sang ayah. Tiba-tiba Arsyad jadi takut bila Sha kecewa dia telah menyembunyikan harta itu.
__ADS_1
"Sayang..."