JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
KELUARGA


__ADS_3

Mbak Marni diminta pulang oleh Sha, tak lupa Sha memberi 2 lembar uang merah sebagai bekal Mbak Marni pulang. Tak lupa, besok diminta ke rumah sakit lagi, membawa baju ganti untuk Sha dan ibu.


Arsyad masih menemani dengan mengerjakan urusan kantor lewat ponselnya, meski Sha sudah menyuruh Arsyad untuk pulang.


"Nanti kalau ibu sudah sadar aku pulang, Sha!" Jawab Arsyad.


Sha duduk di samping bosnya sembari mengamati bankar sang ibu. Kata suster saat dipindahkan ke kamar inap tadi kondisi ibu sudah stabil, dan meski alat bantu pernafasan masih terpasang.


"Ibu kok gak sadar-sadar ya, Syad?" Tanya Sha dengan nada pilu. Matanya sampai sembab karena kebanyakan menangis.


"Makanya aku tungguin kamu, biar ada temannya."


"Kamu baik banget," ujar Sha yang sekarang menatap bos sekaligus teman SMA nya. "Mau minta balasan apaa dari aku?"


"Cukup jadikan suami dan jadilah ibu dari anak-anakku."


Sha hanya tersenyum, mencolek lengan Arsyad. "Ibu masih sakit juga, masa' kita nikah."


Arsyad tertawa, "Ya tunggu ibu sembuh lah."


Sha kemudian beranjak, mendekati bankar sang ibu. Menggenggam tangan beliau, menahan air mata yang hendak keluar melihat kondisi beliau yang pucat dan lemah.


"Kasihan beliau, sejak dulu gak pernah merasakan bahagia. Ditelantarkan suami, kerja keras menghidupi anaknya. Tak pernah egois, beli baju buat pengajian aja perlu pertimbangan nanti aku bisa beli beras gak, uang saku Sha cukup gak, selalu saja menomor satukan aku."


Arsyad meletakkan ponselnya, mendekati Sha. Menumpukan tangan di kedua pundak Sha, "Kita akan membuat ibu bahagia, Sha. Karena kebahagian ibu hanya satu yaitu melihat kamu bahagia."


Sha mengangguk. "Makasih, Syad!"


Hingga jam 10 malam, Ibu belum juga sadar, Sha semakin cemas namun suster jaga bilang kondisi ibu stabil. Ditunggu saja. Arsyad pun pamit pulang karena Sha yang meminta, tak enak juga sekamar dengan laki-laki yang bukan muhrim.


Menunggu pagi tentu Sha juga akan tidur di sofa, oleh sebab itu Arsyad pun mengiyakan untuk pulang, bos ganteng itu sempat berpesan kalau ada apa-apa langsung telpon saja. Sha pun mengangguk, karena kehadiran Arsyad di saat ini memang sangat diperlukan. Meyakinkan Sha bahwa masih banyak orang yang menyayanginya.


Arsyad sampai rumah sekitar pukul 22.45, rumahnya masih terang benderang karena kakaknya yang tentara memang datang bersama keluarganya.

__ADS_1


"Bontot, ke mana aja lo. Pacaran mulu!" sapa Akbar, kakak Arsyad yang menjadi tentara. Di luar, abdi negara itu tampak garang tapi kalau bersama keluarga hilang sudah taringnya. Pelawak sekali.


"Apaan sih. Berisik," Arsyad menyalami sang abang dan segera menyandarkan dirinya di sofa. Membuka lengan kemeja hingga siku. Tampak lelah.


"Dari mana kamu, tadi Danu ke sini bawa berkas. Mama suruh taruh kamar kamu," selidik mama dengan tatapan curiga. Arsyad berdecak sebal, dirinya sudah lelah tapi pertanyaan dari keluarganya membuat kepalanya semakin pusing. Curiga mulu.


"Ibunya Sha masuk rumah sakit, mama!" ucap Arsyad manja, gelendotan di lengan sang mama.


"Eh sakit apa?" tanya beliau penuh perhatian.


"Serangan jantung."


"Eh...apa karena video itu ya?" celetuk mama. Arsyad yang sempat memejamkan mata, spontan mendelik.


"Eh kok mama tahu video itu, dapat dari mana? Masa' teman arisan mama bahas video receh begitu."


"Sembarangan!" ujar beliau sembari menonyor pipi si bungsu. "Dari Indah."


"Perempuan itu lagi!" kesal Arsyad bila menyangkut perempuan itu. Terlalu agresif. Apalagi pernah menuduh Sha menggoda Arsyad, jelas saja ia tak terima. Sampai sekarang saja Sha masih belum mengiyakan perasaannya, apanya yang menggoda.


"Betul itu. Mama kan udah pernah keluar sama Sha, bisa menilai sendiri kan. Membandingkan dengan apa yang diucapkan Indah."


Mama mengangguk, "Terus-terus, video itu benar apa rekayasa?"


"Benar. Tapi Sha dan ibunya yang dituduh pelakor itu yang salah."


"Lah kenapa kok sampai disebut pelakor?" mungkin mama Arsyad memegang prinsip gak ada asap kalau gak ada api.


"Perempuan itu bernama Farah, istrinya Irsyad. Irsyad itu mantannya Sha yang masih mengejar Sha, padahal Sha menolak untuk kembali. Belum move on lah si Irsyad itu. Sedangkan perempuan satunya adalah ibu Farah, istri dan mantan suami ibunya Sha."


"Waduh. Jadi Farah dan Sha ini sebenarnya saudara."


"Iya, saudara sebapak."

__ADS_1


"Rumit."


"Rumit banget, mungkin ibu Sha kepikiran terus karena mantan suaminya itu juga mengejar ibunya Sha terus."


"Lo kok tahu detailnya, Tot?" sindir Akbar dengan senyum meledek.


"Namanya juga calon suami yang baik hati, rajin menabung dan ganteng harus tahu hidupnya sekalian dong!" ujar Arsyad sombong.


Kembali sang mama menonyor pipi si bontot, "Lagakmu, Tot. Kayak udah diterima Sha aja," sindir mama yang membuat Arsyad berdecak sebal. "Besok mama anterin jenguk ya!" lanjut beliau sebelum masuk kamar.


Paginya, sang mama sudah heboh. Berkali-kali menggedor kamar Arsyad untuk segera bangun, tak tanggung-tanggung mulai adzan shubuh berkumandang sampai jam setengah 6 pagi, entah berapa kali beliau mengusik kenyamanan tidur Arsyad.


"Kebiasan kamu tuh, Syad. Habis sholat tidur lagi, makanya jodoh kamu dipatok ayam," ujar beliau sembari menyiapkan sarapan, dan tak lupa mengisi beberapa kotak makanan untuk dibawa saat ke rumah sakit.


"Apaan dipatok ayam, orang sehat bugar dan cantik," balas Arsyad dengan mata masih ingin merem.


"Ke rumah sakit bawa segitu banyaknya, Ma?" tanya Pak Wira melihat istrinya sudah beres dengan bekal dua rantang 3 susun tupper*are.


"Eh...biar Sha gak repot mencari makan, Pa. Gimana sih, kan kasihan juga mana menjaga ibunya sendiri."


"Nanti Arsyad juga ke sana kali, Ma."


"Jangan fokus ke rumah sakit aja, Syad. Kantor udah kamu tinggal kemarin," ujar Pak Wira tegas.


"Iya-iya, Pa. Kantor milik Arsyad aja setengah hati perhatiannya, tapi Arsyad harus fokus sama kantornya papa," protesnya pada Pak Wira.


Sedangkan Akbar hanya diam, kalau urusan kantor ia tak mau meledek sang adik karena ia sendiri juga tidak bisa membantu. Ia masih fokus dengan tugas negara.


"Om Acad, emang punya kantor apa, bukannya pengangguran," celetuk Rafly, putra pertama Akbar. Anak berusia 6 tahun itu begitu kritis dan julid.


Sontak Arsyad tak terima, ia langsung mencubit pipi anak ganteng itu, "Pengangguran, pengangguran, enak aja. Papa lo tuh yang pengangguran."


"Eh...papa kerja ya, angkat senjata, malah naik tank juga. Keren ah pokoknya papa itu. Gagah juga."

__ADS_1


"Heleh....papa kamu tuh gak bisa naik tank, papa kamu cuma bisa naikin mama kamu," ujar Arsyad menyindir sang kakak yang punya anak tiap 2 tahun sekali.


"Bontotttttttt!" sentak semua orang yang paham dengan ucapan Arsyad.


__ADS_2