
Kesan Anita terhadap Sha sangat membekas dalam ingatan Nyonya Wira. Setelah menemui perempuan itu, Nyonya Wira kembali naik ke lantai di mana ruangan sang anak berada. Tampak gadis manis duduk di depan komputer, Nyonya Wira melihat sejenak, tapi saat akan mendekat, gadis itu berdiri membawa beberapa map ke ruangan Arsyad.
Fix, dia Lethisa. Cantik kok, masa' perempuan gak bener sih.
Perang batin dalam diri Nyonya Wira, kemudian ia memutuskan menunggu di sofa depan meja sekertaris. Cukup lama Sha masuk di dalam ruangan Arsyad, hingga pikiran kotor mama Arsyad berkeliaran.
"Jangan-jangan..." praduga beliau langsung beranjak menuju ruangan Arsyad, pintunya terbuka lebar. Tampak jelas Lethisa duduk di depan meja kerja Arsyad sedangkan Arsyad juga tampak serius melihat dokumen tersebut.
"Model yang ditawarkan untuk couple begini, Pak?" ucap Sha menyodorkan design fix projek baju couple kerja sama dengan Indah.
"Menurut kamu gimana?" tanya Arsyad balik. Kalau menurutnya sebagai pimpinan perusahaa design sudah oke, sesuai dengan motif arahan Indah dan beberapa warna yang diinginkan.
"Oke sih, Pak. Hanya saja, saya kurang puas dengan detail di lengan. Bentuknya agak menggelembung kasihan emak-emak yang punya berat badan oversize, tentu daerah lengan akan semakin tampak besar."
"Solusinya?"
"Aksen rendanya gak pa-pa seperti ini, tapi tidak usah dibentuk seperti balon. Biarkan seperti lengan pada umumnya karena size disediakan sampai lingkar dada 120 cm."
Arsyad mengangguk paham, apa yang diucapkan Sha tentu masuk akal, apalagi Sha sedikit tahu urusan fashion wanita. "Tidak masalah kalau diubah, permintaan Indah bagaimana?"
"Kalau Bu Indah, soal lengan tidak begitu mempermasalahkan yang penting bisa fleksible untuk wudhu."
Cerdas, puji Nyonya Wira. Mendengar jawaban Sha yang cekatan dengan nada bicara lugas tanpa berbelit-belit menandakan kalau gadis ini memang cerdas, kesan pertama yang dilihat oleh Nyonya Wira sih sangat mengesankan. Karena Nyonya Wira tipe perempuan yang mandiri, dan cerdas, beliau sangat menyukai karakter perempuan yang mirip dengan beliau. Tapi lagi-lagi omongan Anita membuat beliau menarik pujiannya.
"Syad," panggil Nyonya Wira. Diskusi keduanya pun berhenti, Sha dan Arsyad menoleh ke sumber suara. Arsyad langsung berdiri kaget, sedangkan Sha pun kaget siapa perempuan ini, karena selama Sha kerja di sini belum pernah bertemu langsung dengan Nyonya Wira.
"Mama!" saat Arsyad memanggil mama, barulah Sha berdiri dan menganggukkan kepala tanda hormat. "Ngapain?" tanya Arsyad tak sopan. Nyonya Wira hanya melengos begitu saja dan langsung duduk di sofa, Sha pun bersalaman dengan istri pemilik perusahaan, lalu pamit akan membuatkan minum di pantry.
__ADS_1
Arsyad duduk di depan mama dengan wajah kesal, ia sudah tahu betul niatan sang mama sidak ke kantor. "Jadi gadis itu yang kalian bicarakan tadi malam?"
"Mama kenapa sih, kepo banget. Dia itu gak penting, hanya sebatas sekertaris Arsyad doang. Wajar kita bicarakan karena memang dia berhubungan dengan pekerjaan Arsyad dan Danu." Arsyad terpaksa tidak mengakui siapa Sha sebenarnya, karena belum tepat. Khawatir Sha tidak nyaman dengan tingkah pola sang mama bila mengetahuib gadis pujaan bungsunya. Arsyad bisa membayangkan kalau seandainya mama tahu, pasti tiap hari Sha akan diajak keluar dengan berbagai alasan. Dan melimpahkan pekerjaan Sha dengan bilang Cari sekertaris baru kan gampang. Dih....Arsyad yang membayangkan saja menolak tegas.
Mama Arsyad tertawa lebar, seraya menjentikkan kepala, "Mama tidak sebodoh itu sayang. Dengan kalimat kamu yang menolak terus, menggebu dan seolah menolak dirinya, pasti dia istimewa. Kalau dia bukan orang spesial tentu kamu akan menjelaskan biasa aja dan langsung, tanpa menunggu beberapa hari begini. Hiiiiii mama kan gemes!"
"Permisi!" ucap Sha menghentikan obrolan ibu dan anak itu. Dia pun segera menyodorkan dua cangkir teh hangat. Saat menyodorkan teh tersebut, mama Arsyad tak lepas melihatnya, Arsyad pun sebal. Ia tahu sang mama sedang menilai Sha nya.
"Hem....Lethisa, ya?" Arsyad melotot, sang mama sudah memancing obrolan dengan Sha.
Sha yang berdiri dengan membawa namoan tersenyum mengangguk, "Iya, Nyonya saya Lethisa, sekertaris Pak Arsyad."
Nyonya Wira hanya membalas dengan senyum dan mengangguk saja, dan tak lama kemudia Sha pun keluar. "Cantik, cerdas, dan sopan. Mama suka."
Arsyad mendengus kesal. "Terserah mama."
"Gak usah aneh-aneh kenapa sih, Ma. Lagian mama datang-datang langsung jodohin orang."
Zonk, jawaban Arsyad datar, meski melarangnya. Tapi bukan ini reaksi yang diinginkan Nyonya Wira, si bungsu benar-benar apik menyembunyikan sosok Sha dalam hidupnya.
"Dia emang baik gitu ya, Syad?"
"Baik!" jawab Arsyad singkat dan ketus.
"Idih...anak Pak Wira jutek amat. Hanya saja banyak yang gak suka kayaknya sama dia," sorot mata Arsyad langsung menatap sang mama seolah menuntut penjelasan lebih. Nyonya Wira tersenyum akan hal itu.
"Maksudnya?"
__ADS_1
"Mama sempat dengar kalau Lethisa dekat sama kamu, Arman dan Danu. Karena kamu dekat sama Indah sekarang, dia pun memilih dengan pria lain. Benar gak sih?" mulai deh, mencari kebenaran ucapan Anita dengan penilaian Arsyad.
"Ya biarin aja, setiap orang bukannya ada yang suka ada yang tidak ya. Lagian suka-suka Sha sih mau dekat sama siapa, bukan urusan Arsyad juga!"
Tadinya Nyonya Wira menemukan signal dari sorot mata si bungsu, tapi dipatahkan dengan kalimat enggak mau tahu Arsyad kepada Sha membuat Nyonya Wira jadi berpikir kalau Sha memang bukan gadis pujaan sang putra.
"Kamu gak asyik, jutek terus sama mama!"
"Ya mama ganggu kerja Arsyad saja, gini kalau gak ngobrol sama mama mungkin Arsyad sudah dapat hasil diskusi dengan Sha lebih banyak."
Nyonya Wira hanya nyengir dengan wajah tanpa dosa, apa yang diucapkan sang putra memang benar juga. Setelah minum teh, Nyonya Arsyad langsung mendekati sang putra dan mencubit lengannya, "Gak usah sewot terus sama mama, ini mama pulang!"
"Di luar gak usah ngomong macam-macam sama Sha," Arsyad memberi warning. Namun hanya ditanggapi dengan acungan jempol.
Begitu sampai di depan ruangan, Sha langsung berdiri ketika Nyonya Wira keluar. "Nyonya mau pulang sekarang? Mari saya antar," tawar Sha ramah. Berpikir sesaat, Mama Arsyad pun mengiyakan. Kini keduanya masuk ke lift petinggi perusahaan.
"Bagaimana sikap Arsyad, Lethisa?" tanya mama Arsyad secara umum. Main halus tidak langsung mengintrogasi.
"Alhamdulillah, Pak Arsyad baik Nyonya."
Nyonya Wira hanya mencibir, "Aslinya dia cerewet dan menyebalkan." Sha pun tertawa mendengar ucapan mama Arsyad, dalam hati Sha pun mengakui sifat asli Arsyad itu. Namun ia juga memperhatikan siapa yang sedang berbicara dengannya, tak mungkin menjelekkan anak beliau juga.
"Kamu yang sabar ya kerja sama Arsyad, kalau diajak lembur terus jangan mau. Tubuh harus ada waktu untuk istirahat, jangan lupa makan. Karena kebiasaan Arsyad tuh kalau sudah sibuk lupa makan, bahkan untuk sarapan dia selalu melewatkan, bilangnya sarapan di kantor sama calon istri. Kamu tau gak siapa yang dimaksud?"
Deg
Sha menegang seketika.
__ADS_1