JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
SEMAKIN BENCI


__ADS_3

Pertemuan dengan sang mantan suami sudah terjadi tiga hari yang lalu. Ibu menutup rapat pertemuan dengan ayah Sha. Bahkan beliau meminta Marni untuk tidak bilang apa-apa, dan beruntung Sha tidak suka nongkrong dengan anak tetangga hingga dia tidak tahu kalau sang ibu menjadi topik obrolan para tetangga julid.


Mbak Sha gak bikin konten lagi. Aku mau dong jadi bintang tamu. Mimi mengirim pesan pada jam 9 malam. Sha baru saja selesai meeting dengan Arsyad yang sengaja mengajak Sha masuk dalam proyek cloting line di Singapura.


Gue capek, Mi. Balas Sha sebelum memejamkan mata. Ia tahu anak belia itu, kalau diabaikan pasti meneror.


Gimana kontennya laku kalau mbak gak rajin upload. Oh ..percaya yang habis ini punya papa baru. Iya kan???? 😛😛😛😛


Sha mengerutkan dahi, Maksudnya?


Lah...Mbak Sha ini gimana sih, *Cik kan beberapa hari yang lalu ngedate di cafe ujung jalan. Ada fotonya kok.


Mana coba fotonya , gue pengen lihat. Ntar gue ajak ngonten deh.


Megumi send a picture.


Megumi send a picture.


Megumi send a picture*.


Sha melihat foto itu, sangat jelas kalau itu sang ibu. Apalagi fotonya diambil di beberapa angle. Bahkan foto si lelaki pun tampak jelas. Kelihatan keduanya terlibat obrolan serius.


*Kamu dapat foto-foto ini dari mana?


Ibu-ibu perumahan ramai kali Mbak bahas Cik. Mereka bilang wajar sih janda cantik didekati orang kaya. Emang dia siapa*?


Sha tak menjawab, ia sendiri juga tak tahu siapa laki-laki ini, kalau dilihat sekilas mirip seseorang tapi siapa. Apa jangan-jangan ini ayahnya, seseorang yang mencari info lewat Bu Agus dulu. Rasa ngantuk dibiarkan begitu saja, Sha langsung keluar kamar mencari ibu yang ternyata sudah di kamar. Ia mengetuk namun tak mendapat sahutan, "Bu!" panggilnya sekali lagi, namun tak ada jawaban. Sha mencoba memutar handle pintu namun dikunci, Sha semakin curiga karena tak seperti biasa kamar ibu dikunci. "Bu!" panggilnya lagi.


"Apa Sha?" tanya ibu yang baru saja masuk rumah sembari membawa berkat, lupa kalau salah satu tetangga ada pengajian.


"Kenapa kamar ibu dikunci?" tanya Sha to the point, sikap ibu memang tidak ada yang mencurigakan tapi kebiasaan beliau yang agak berubah.


"Kunci kamar ibu agak rusak, kalau mau masuk tuh agak di dorong gini," ucap beliau dengan tenang sambil mendorong sedikit kamarnya, dan memang terbuka. Oke masalag kamar terkunci Sha mencoba percaya.

__ADS_1


"Kamu kenapa cari ibu? Lapar? Tuh ada berkat dari Bu Zenab," ucap beliau sembari melepas jilbab dan baju gamis. Sha hanya diam, sebenarnya ia tak ingin mengintrogasi ibu, tapi sepertinya beliau ingin menutupinya. Mungkin menjaga perasaan tapi tidak begini. Selama ini apapun masalah selalu didiskusikan berdua. Apalagi ini urusan dengan pria itu, tentu menyangkut Sha.


"Bu..." panggil Sha yang masih berdiri di depan pintu. Tangan sebelah kirinya masih memegang ponsel, dirinya terpaku.


"Apa?" beliau masih belum menyadari tatapan Sha yang menuntut sebuah jawaban.


"Apakah ibu sudah bertemu dengan mantan suami ibu?" tanyanya dramatis. Tegas dan tak lepas menatap sang ibu.


Sontak saja perempuan paruh baya yang sedang menggantung gamisnya berhenti seketika, Tahu dari mana?


"Maksud kamu?" tanya ibu mencoba tenang.


"Tolong jelaskan foto ini," akhirnya Sha menunjukkan foto yang dikirim oleh Mimi. Ibu terdiam lalu menatap sang putri, mengajaknya duduk di tepi ranjang.


"Maaf!"


Keduanya terdiam cukup lama, Sha hanya mengamati sikap ibu, dia tak mau mendikte biarlah beliau bercerita secara terbuka.


"Maaf harus menyembunyikan dari kamu, tapi sungguh ibu bingung harus memulai dari mana."


Beliau mengangguk lemah, "Iya itu ayah kamu."


"Ibu cerita aja, Sha akan mendengarkan. Sha tidak akan marah, Bu. Sha malah akan marah dan kecewa bila ibu menyembunyikan dan mengambil keputusan tanpa melibatkan Sha."


"Ibu menyembunyikan hanya takut kamu marah, Sha."


"Ya udah, sekarang ibu cerita."


Beliau pun menceritakan kronologi pertemuan itu, bahkan beliau juga menyodorkan kartu nama mantan suaminya. "Beliau ingin bertemu kamu!"


"Untuk?"


"Mau bagaimana pun beliau adalah ayahmu Sha, beliau wali yang bisa menikahkan kamu. Ibu gak mau kembali padanya karena ibu merasa bisa berdiri sendiri tanpa dirinya. Kalau pun disuruh pindah dari rumah ini kita bisa pindah."

__ADS_1


Sha terdiam. Bingung harus berbuat apa. Selama 24 tahun hidup tanpa ayah membuatnya ia terbiasa. Kenapa juga harus datang, toh sang ibu sudah tidak mau bersama.


"Sha bertemu dengan beliau pun buat apa?" tanya Sha dengan nada menantang. Ia tidak tahu kondisi hatinya sekarang, tapi yang mendominasi adalah marah. Tak tahu juga marah karena apa, mungkin karena ibu menyembunyikan pertemuan itu, atau marah karena kedatangan pria itu. Entahlah.


"Kalau menurut kamu gak butuh, ibu tidak akan memaksa. Ibu tahu kalau kita bisa hidup tanpa dirinya. Ibu hanya ingin kamu tahu bahwa laki-laki itu adalah ayahmu. Orang yang akan menjadi wali nikahmu."


Sha tersenyum sinis, "Fungsi laki-laki itu hanya menjadi wali nikah Sha saja kan, oke Sha akan menemuinya kalau Sha akan menikah."


"Sha...," ibu tak suka Sha bersikap seperti itu. Sejak dulu ibu selalu menceritakan keadaan ayahnya yang baik, tapi mungkin Sha sudah dewasa dan bisa memiliki pemikiran sendiri tentang seorang ayah.


"Bu, tolong jangan paksa Sha menerima dia dalam hidup Sha. Sha hanya butuh wali nikah saja, tidak lebih. Meskipun dia orang kaya, Sha tidak akan mengemis soal harta atau pengakuan seorang anak. Sha hanya memiliki ibu itu sudah cukup."


"Sha...dengarkan ibu. Meski ibu sangat terluka, tapi asal kamu tahu ibu bisa hidup dan merawat kamu karena melepas segala rasa sakit hati. Kita menjalani hidup akan tenang bila melepas masa lalu."


Sha mengangguk, "Sha paham. Makanya Sha akan hidup tenang tanpa mengingat laki-laki itu. Biarkan Sha hidup seperti biasanya sebelum laki-laki itu datang."


Ibu diam, ia tahu karakter tegas Sha. Putrinya itu akan mempertahankan pendapatnya apalagi menyangkut hidupnya. Dia tak mau diintervensi. Apa yang ia butuhkan akan ia penuhi dengan jalannya sendiri.


"Tenang saja, ibu sudah bilang ke beliau. Kalian bisa bertemu saat Sha sudah siap menerima kehadiran kamu."


"Ibu berniat bertemu lagi?"


Beliau menggeleng. "Kita selama ini hidup tenang tanpa kehadirannya. Apalagi beliau sudah punya keluarga, jangan sampai kita merusak rumah tangganya."


"Ya jangan sampai. Ibu bisa-bisa disebut pelakor. Cukup Sha aja yang dituduh pelakor dalam rumah tangga Irsyad."


"Masih berlanjut?" tanya ibu mengalihkan obrolan. Beliau tak mau larut dengan kesedihan dan emosi. Lebih baik cerita tentang Arya tak perlu dibahas lagi. Apalagi beliau sangat paham sang putri tidak suka.


"Masihlah, apalagi Irsyad juga mau cerai sama Farah."


"Hah? Kok kamu tahu dia mau bercerai? Jangan bilang kamu masih komunikasi dengan Irsyad."


"Dih...enggak ya. Pantang buat Sha meladeni mantan. Sha tahu karena Mita yang bilang. Sha juga gak mencari tahu, Mita sendiri yang cerita. Apapun kabar Irsyad, Mita selalu bilang. Entah kenapa Mita mau aja jadi kurir, gratis lagi."

__ADS_1


"Meskipun kita berasal dari orang biasa, tapi kita harus punya harga diri apalagi sampai merebut suami orang."


"Naudzubillah!"


__ADS_2