JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
KATA HATI


__ADS_3

"Pak Arsyad agak dekat sama Bu Indah, dan tatap beliau juga ya, Pak!" untuk kesekian kalinya, Kang Ayub, kameramen yang mengarahkan gaya Arsyad. Kalau Indah sudah luwes, kamera sudah menjadi makanannya tiap hari. Seorang influence, dan model muslimah menjadikan dia begitu fotogenik. Sangat berbeda dengan Arsyad, yang merupakan pengalaman pertamanya menjadi model.


"Tatap aku seperti Sha, bentar aja. Biar segera kelar pemotretan kita!" bisik Indah dengan senyum dipaksakan. Karena sejak tadi pandangan Arsyad mengarah ke Sha, apalagi Sha keluar dari area pemotretan. Semakin tak fokus saja.


Arsyad terdiam, pikirannya sudah bercabang. Sejak tadi ia tak mau membuat Sha semakin berpikir dirinya welcome pada perempuan lain, sekarang malah gadis itu pergi entah ke mana bersama sang mantan lagi.


"Susah banget sih, jadi model," keluh Arsyad dengan guyonan pada kru.


"Pengalaman perdana, wajar kaku, Pak. Yok dicoba lagi!" ajak Kang Ayub dengan menahan kesabaran.


"Ganti model lain aja gimana, Ndah. Kayaknya aku gak bisa deh, kurang luwes." Terpaksa Arsyad mengakhiri permodelan pagi ini, sangat susah.


"Coba sekali aja, Syad. Kenapa kamu jadi gak nyaman gini sih, kita tuh udah dekat. Kurang apa biar chemistry ada. Apa karena Sha?" Indah sudah tak kuasa menahan amarah berbalut kecewa, karena semakin ia mendekati Arsyad, ia semakin tahu kalau hati Arsyad sangat menginginkan Sha.


Arsyad tak suka dengan kalimat Indah, seolah memojokkan Sha. Bos ganteng itu pun menoleh ke kru, memastikan pandangan mereka tak ke arahnya. Namun sia-sia, sebagian kru mendadak canggung melihat Arsyad.


"Kang Ayub, pemotretan hari ini batal aja. Besok lagi dengan Rafly, (model yang biasa dibooking oleh kantor dalam pembuatan katalog)."Arsyad tak menggubris ucapan Indah, ia berlalu begitu saja setelah mendapat acungan jempol dari Kang Ayub. Ia langsung keluar mencari Sha, bahkan bajunya pun tak ganti.


"Mbak Indah, mari saya bantu bersihkan..." tawar Elen ramah. Namun sayang Indah hanya melirik sinis, sembari bilang gak usah, dengan ketus.


"Hem...pantas Pak Arsyad gak tertarik sama dia, jutek gitu!" keluh Elen di sela-sela merapikan printilan make up bersama kru.


"Loh mereka bukannya pacaran ya?" tanya Opi, asisten Kang Ayub.


"Enggak lah, Indah yang suka tapi Pak Arsyad ogah."


"Ouh kirain, perasaan selebgram itu sering seliweran di kantor. Bahkan ada kali keluar bersama Pak Arsyad."


"Jangan gosip anak muda," tegur Kang Ayub pada sang asisten. Opi langsung diam dan fokus merapikan kamera dan kawan-kawan.


Di dalam cafe, Arsyad sudah melihat Sha yang berjalan keluar. Ia pun mengejar gadisnya. "Pulang sama aku," ucap Arsyad sembari menarik lengan Sha yang hendak menyebrang.


"Syad, kok.."


"Tunggu di sini, aku ambil mobil." Arsyad tahu kondisi Sha sedang tidak apa-apa. Ia tak mau membahas pekerjaan. Arsyad akan mengajak Sha di luar kantor.


Entah ke mana yang jelas Arsyad bilang akan berkeliling kota karena hatiny sedang gelisah, ia meminta Sha untuk menemaninya. Sempat menolak karena banyak pekerjaan, namun Arsyad tak mau di bantah. Mobil berjalan begitu saja, mengkuti panjangnya jalan raya, memasuki tol arah ke Bandung.


Sha sadar namun melihat keheningan Arsyad ia enggan untuk bertanya ke mana tujuan mereka. "Kita ke rumah nenek gue, ya Sha." Arsyad tahu apa yang ada dalam benak Sha, dia pun menjelaskan tujuan mereka saat ini.


"Asal lo berbuat baik, oke!"

__ADS_1


Arsyad tertawa, "Gue bukan Irsyad!" jawab Arsyad ambigu.


"Maksudnya?"


Arsyad hanya menoleh sekilas kemudian tersenyum tipis. "Lo mau tahu gimana sikap protektif Irsyad buat lo?"


"Kenapa kita bahas dia?" tanya Sha balik.


"Karena hati gelisah kita menyangkut dokter itu."


Sha terdiam, Arsyad selalu tahu keadaan hatinya. Sha pun memilih menatap jalan raya, menuju rumah nenek Arsyad, hujan turun gemericik, tak terlalu deras namun cukup membuat baju basah.


Pandangan Sha tertuju pada sepasang suami istri yang naik sepeda motor, keduanya tak memakai jas hujan. Kadang tangan sang kakek menyentuh tangan istrinya dengan sayang. Pemandangan unik di tengah menunggu lampu berubah menjadi hijau.


"Pasangan yang setia merupakan rizeki luar biasa dalam pernikahan," lirih Sha masih menatap sepasang suami istri tersebut.


"Bijak banget," jawab Arsyad sembari mengacak pucuk rambut Sha. Ia mendengar dan ikut menatap arah pandangan Sha.


"Pemandangan langka di zaman sekarang!"


"Kita juga bisa seperti itu, mau coba?" mulai Arsyad menggombal, meski ucapan yang keluar adalah benar dari hatinya.


"Tadi ngomong apa aja?" oke hati Arsyad sudah agak tenang, degup jantungnya sudah berdetak normal kembali. Kini saatnya membahas apa yang sudah mengganjal hatinya.


"Biasalah minta maaf, dan ajakan kembali."


Arsyad tersenyum sinis. "Gak ada ancaman kan?"


"Ancaman? Enggak ada. Emang Irsyad mau ancam apa?"


Arsyad kembali tersenyum tipis, tangannya menjulur mengusap rambut panjang Sha. Entahlah ia sangat menyukai perhatian sayang begini, "Aku khawatir aja dia melakukan hal yang selalu ia buat mengancam cowok yang naksir kamu."


"Ih...Syad, ngomong yang jelas kenapa sih!"


"Sholat dulu, yuk. Habis itu makan."


Sha mendengus kesal, Arsyad berhasil membuat ia penasaran. Banyak pertanyaan dalam benak Sha tentang ancaman Irsyad, bahkan untuk sholat pun ia tak khusyuk, astaghfirullah.


Begitu ke warung makanan Sunda. Sha sudah tak sabar mengintrogasi Arsyad. "Buruan, udah pesan juga!"


"Yakin mau cerita sekarang, nanti gak nafsu makan?" goda Arsyad masih bimbang untuk bercerita.

__ADS_1


"Gue tonjok lo!" sentak Sha kesal. Ia pun memukul tangan Arsyad keras. Namun bos ganteng itu malah tertawa.


"Mungkin saking cintanya dia sama kamu," ucap Arsyad memancing pembahasan Irsyad. "Percaya atau tidak, yang jelas aku pernah diajak ngomong empat mata sama dia."


"Ngomong apa? Kapan?"


"Setelah kejadian main tonjok aja itu," Arsyad mendadak kesal.


"Hah? udah lama dong."


"Banget, tapi sangat membekas."


"Dia bilang apa?"


Arsyad menatap wajah Sha dengan intens, "Dia mau menghamili kamu."


"Gila! Syad, lo..."


"Ya tapi kenyataannya memang itu. Tanya sama Pandu, Kevin sama siapa anak IPS yang cupu itu?" tanya Arsyad mencoba mengingat siapa saja cowok yang pernah naksir Sha.


"Dimas. Tapi...ah masa' sih dia bilang gitu, Syad. Kok gue jadi merinding sih."


"Tapi itu memang benar. Makanya setelah insiden penonjokan itu aku menjauhi kamu. Jahatnya kamu aja malah enggak mau tahu teman sebangkunya berubah," ucap Arsyad kesal.


Sha tersenyum ngenes, otaknya sedang menyusun puzzle kejadian itu. Penonjokkan dan sikap Arsyad yang berubah total, hingga Sha pun tak menganggap bosnya sebagai sahabat.


"Syad..."


"Kamu masih terjaga kan? Irsyad gak pernah melakukan ancamannya kan?" tanya Arsyad memastikan.


Sha hanya bisa mengangguk, "Irsyad gak pernah melakukan pelecehan atau mesum pada gue, Syad. Dia sangat menjaga gue," ucap Sha tegas. Bukan membela Irsyad tapi memang selama 7 tahun menjalin kasih pacaran mereka, pacaran sehat tanpa ada nafsu berlebihan.


"Syukurlah. Tapi mulai sekarang, tolong jaga diri. Biarkan aku juga ikut melindungi kamu, terlepas kamu nanti berjodoh dengan siapa."


"Syad...." Sha pun menangis haru. Entah kenapa hatinya siang itu tersentuh dengan ucapan Arsyad. Mungkin karena hatinya sedang rapuh karena pertemuan tadi, ingin menangis karena teringat lukanya dikhianati, dan sekarang diperhatikan oleh lelaki lain. Sungguh ia terharu.


"Mau peluk?" tawar Arsyad jahil.


"Belum sah!"


"Love you Sha yang pasti," balas Arsyad semakin membuat Sha terisak.

__ADS_1


__ADS_2