
Arya Hadijaya, mengamati sebuah rumah yang terletak di perumahan padat penduduk. Bukan perumahan mewah tapi sangat layak huni. Pria paruh baya ini mengenakan kaca mata dan terus menatap rumah berpagar hitam itu.
Kilasan kenangan 24 tahun, di mana ia meninggalkan seorang istri di rumah itu demi sebuah perjodohan menuruti keinginan keluarga. Meninggalkan tanpa jejak apapun, bahkan untuk mengucap salam perpisahan saja tidak bisa hingga sekarang pun tak mampu menjelaskan yang sebenarnya.
Buliran air mata menetes seketika melihat perempuan yang berhenti di rumah yang ia beli dulu dengan membawa beras entah berapa kilo, dan bahan belanjaan lain yang dia masukkan ke dalam sebuah box di belakang jox sepeda motor maticnya. Dia lah wanitanya, tampak tersenyum sembari melepas helm dan dibantu oleh perempuan yang lebih muda lagi.
"Maaf, Wa!" lirih beliau menahan isak tangis. Andai dulu ia tak mementingkan harta warisan keluarga tentu dia akan hidup bahagia dengan Iswa. Tapi itu hanya sebuah pengandaian yang tak akan terjadi. Ia lebih memilih perjodohan, bukan semata karena harta tapi lebih utama keselamatan Iswa sendiri. Kekayaan kedua orang tuanya tentu sangat bisa menghancurkan Iswa saat itu juga, dan ia tak mau itu terjadi. Biarlah dia mengalah, biarlah dia dianggap kejam oleh siapapun, karena sejatinya keputusan yang ia ambil untuk keselamatan Iswa sendiri.
Terbukti dari dia bisa hidup dengan tenang, mendirikan warung makan di depan rumahnya bukti kalau dia bisa menjalani hidup tanpa diusik oleh keluarganya.
Silahkan memilih, semua ada di tangan kamu. Kalau mau Perempuan kampung itu selamat menikahlah dengan perempuan pilihan mama dan papa. Tapi kalau kamu lebih memilih perempuan kampung itu, mungkin malam ini malam terakhir dia menghirup udara bebas.
Sebuah ancaman yang membuat Arya terpaku, dia tidak mungkin egois. Hatinya tidak akan sanggup melihat perempuan kesayangannya dihancurkan dengan sadis oleh papanya. Keputusan sangat berat, dia pun meminta waktu untuk mengakhiri semuanya.
Sebisa mungkin Arya bersikap seperti tidak apa-apa ketika bersama Iswa, ia tetap berangkat ke rumah sakit, memanjakan Iswa seperti biasanya meski menahan sesak di dada. Hingga akhirnya ia pergi meninggalkan luka.
Keluarganya terus mengawasi gerak-gerik Iswa termasuk urusan transfer uang. Kesepakatan dengan sang papa, rumah dan uang yang ditinggalkan dalam ATM untuk Iswa sebagai bekal perempuan itu hidup nantinya. Arya sudah tidak boleh terlibat urusan apapun dengan Iswa lagi.
"Itu siapa?" tanya Arya pada sopirnya. Arya benar-benar lepas tanggung jawab setelah menikah dan pindah ke Australia. Dia tidak menyuruh siapapun untuk mengawasi Iswa, ia punya ketakutan kalau sang papa akan bertindak di luar nalar bila Arya masih terlibat dalam kehidupan Iswa.
"Kabarnya itu asisten rumah tangga," ucap sopir yang baru kemarin diminta mencari info tentang Iswa.
"Lalu?"
Sopir yang bernama Harun itu pun menjelaskan info yanh diperoleh dari bebrapa tetangga di sekitar rumah Iswa. Bahwasannya Iswa adalah janda beranak satu, putrinya bernama Lethisa yang sekarang bekerja di salah satu perusahaan konveksi, berusia sekitar 24 tahun. Mendengar hal itu, air mata Tuan Arya semakin tak terbendung, pasti putri tersebut adalah anaknya. Karena kemungkinan saat Iswa ditinggalkan sedang mengandung. Apalagi usia putri Iswa sesuai dengan kepergiannya.
Astaghfirullah.
__ADS_1
"Apa tuan mau menemuinya?" tanya Harun sembari menoleh kepada majikannya itu.
"Besok saja, kita bisa menemuinya. Antar aku restoran di Mall X, karena aku mau bertemu dengan Farah."
Harun pun mengangguk, ia mendengar jelas isakan tangis majikannya. Pasti rasa bersalah yang membuat Tuan Arya bersikap seperti itu. Bagaimana tidak perempuan yang dicintai, dinikahi tanpa restu kedua orang tuanya bisa bertahan hidup tanpa dirinya bahkan bisa membesarkan seorang anak sendiri. Sedangkan dirinya hanya bisa berdoa untuk keselematannya saja.
Maafkan aku Iswa!
Sepanjang jalan Tuan Arya merenung, entah mengapa ia ingin segera bertemu dengan Iswa dan berhubungan baik dengan Farah dan sang istri. Meski ia percaya Iswa tidak akan menerimanya lagi pun demikian ia akan meminta maaf pada Farah dan istrinya karena sekian lama menelantarkan tanpa memberikan perhatian layak sebagai ayah atau suami.
Duduk di dalam sebuah restoran yang menyediakan ruang privat, Tuan Arya segera mengirim chat pada sang putri.
"Kamu sendiri?" tanya Tuan Arya ketika sang putri masuk ke ruang privat restoran.
"Iya!" ucap Farah sembari menyalami sang papa, dan memberi pelukan hangat pada pria paruh baya itu.
Farah terdiam, lalu menghela nafas berat. "Papa kan hanya mengajak aku saja," ucap Farah sesuai kenyataan.
Tuan Arya hanya mengangguk paham, memaklumi sikap sang istri begitu, karena dia pernah mengusir sang istri saat dia datang bukan sesuai permintaan tuan Arya.
"Mau makan apa?" tanya Arya menatap sang putri. Ia pun canggung sendiri mau memulai obrolan seperti apa, karena sampai saat ini ia tak pernah bersenda gurau dengan sang anak.
"Samain aja sama papa," jawab Farah.
Sembari menunggu pesanan datang, Tuan Arya akan menjelaskan masa lalunya pada Farah. Berharap sang istri datang tapi ya sudahlah, mungkin nanti malam atau esok akan mengajaknya bertemu.
"Farah, are you okey?"
__ADS_1
Farah tersenyum tipis, " i am not."
"Kenapa sampai memutuskan bercerai?"
"Karena suami Farah sama sekali tidak mencintau Farah, masih terbelenggu dengan sang mantan. Yah mungkin setelah bercerai dengan Farah, Irsyad akan menikahi mantannya."
Beliau terdiam, ada rasa bersalah mendengar penjelasan sang putri. Sikap Irsyad adalag gambaran sikapnya pada mama Farah.
"Papa akan dukung apapun yang kamu putuskan, asal kamu bahagia!"
Farah diam, "Pa...papa sadar gak sih, kita ngobrol 10 menit ini adalah pembicaraan kita yang lama!"
Giliran papa yang terdiam, "Papa tahu, saat Farah menikah. Farah bahagia banget, karena apa. Karena Farah akan mendapat keluarga baru, berharap diberi perhatian lebih oleh keluarga suami Farah. Farah mendapatkannya, mertua Farah baik, baik banget dan selalu membela Farah ketika aku dan Irsyad bertengkar. Papa mertua pun baik tapi aku tidak banyak berinteraksi, sedangkan suami, aku sangat berharap dicintai oleh laki-laki lain, karena seumur hidupku aku ingin merasakan diperhatikan oleh papa. Tapi nyatanya suamiku pun mengabaikanku sama seperti papa."
Farah sudah tak kuasa menahan air matanya, dua laki-laki yang begitu ia sayangi sama sekali tidak memberikan perhatian dalam hidupnya, sehingga dia seperti perempuan pengemis cinta dan perhatian.
"Maaf!" ucap Tuan Arya sembari menundukkan kepala. Sangat menyesal.
"Pa...Farah mau tanya, papa sayang sama Farah?"
Sungguh pertanyaan yang mengiris hati, bagaimana tidak seorang anak kandung sampai menanyakan hal ini pada orang tuanya sendiri. Sebegitu abainya tuan Arya pada sang putri.
"Papa.. Papa sayang sama kamu, Nak. Papa sayang hanya saja..."
"Hanya saja ada ganjalan dalam hidup papa," ucap Papa penuh penyesalan.
"Cerita paaaaa, tolong perlakukan Farah...mama sebagai orang penting dalam hidup papa. Papa selama ini memilih tinggal di Ausi, kami terima. Papa tak peduli pada kami, kami berusaha menerimanya tapi tolong Pa untuk kali ini, papa jadikan Farah dan mama adalah prioritas dalam hidup papa. Farah sedang down Pa, sungguh Farah sekarang berada dalam tahap sakit hati sekali. Farah butuh dukungan dari keluarga, mama begitu perhatian pada Farah tapi percayalah ikatan batin Farah dan papa lah yang menguatkan Farah untuk tetap hidup," ucapnya dengan menggebu, sesekali mengusap lelehan air matanya.
__ADS_1
Sang papa langsung menggenggam erat tangan sang putri, beliau menangis. Betapa egoisnya, betapa dia tega menelantarkan anak istri hingga puluhan tahun. Masih pantaskah dirinya disebut papa. Sungguh sangat kejam.