JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
JUTEK


__ADS_3

Menerima, jelas tidak. Tapi Irsyad bisa apa. Hanya bisa menangis dan menyesal. Mau marah, sama siapa? Semua berawal karena dirinya. Sha tak salah pada akhirnya memilih mencintai Arsyad.


Irsyad keluar cafe dengan rasa campur aduk, menahan amarah, kesal, kecewa. Entah saat ia kembali pulang, bisa sampai dengan selamat atau tidak. Maklum, begitu melihat setir mobil. Amarahnya memuncak, ia eratkan pegangannya hingga buku-buku ruas tangannya memutih.


"Gue sayang sama lo, Sha. Sayang banget. Hati gue sakit, sakit banget saat lo bahagia dengan Arsyad. Sungguh, sungguh hatiku tak rela. Aku bahkan menikah dengan Farah tak pakai hati." Irsyad terus meracau. Tak peduli dengan kecepatan mobilnya yang begitu tinggi, bahkan alarm mobilnya pun sudah berbunyi. Kalau bisa mati, ia lebih baik.


Hufh...hufh....hufh...


Nafas Irsyad memburu, tangannya masih memegang erat setir mobil. Dia menatap lurus jalanan, beruntung sepi hingga tidak ada kecelakaan beruntun.


"Tolong aku, bantu aku di Jalan S." Terpaksa ia menghubungi teman yang mungkin bisa memberikan pencerahan atas kegalauan hatinya.


Dia butuh teman, meyakinkan hati bahwa menjauhi adalah jalan yang benar. Irsyad menepikan mobilnya, menunggu kedatangan temannya dengan melihat potret Sha di dalam ponsel.


Gadis cantik, baik dan penuh luka hati dilepas begitu saja hingga tak bisa ia gapai kembali. Penyesalan datang di akhir. "Cantik," puji Irsyad dengan senyum manis saat foto Sha lulus S1. Kenangan itu dia teringat jelas.


Saat kelulusan, Irsyad mendapat undangan untuk menemani ibu Sha. Karena satu undangan untuk dua orang, hingga Sha memilih Irsyad sebagai orang penting dalam hidupnya, menyaksikan Sha lulus. Irsyad menatap gadis pujaannya dengan kagum saat Sha ditunjuk oleh pihak jurusan untuk memberikan kata perpisahan. Dia menyebutkan rasa terimakasih pada ibunya yang luar biasa memperjuangkan dirinya hingga mencapai titik ini.


Irsyad yang duduk di samping calon mertuanya sangat jelas terdengar gumaman beliau, "Kalau memang kamu jodoh untuk anakku. Bahagia kan dia seperti aku bisa membahagiakannya seperti saat ini. Sungguh aku merestui kalian."


Tapi nyatanya restu itu hanya ucapan, karena restu itu tak pernah terwujud dalam perbuatan. Irsyad terlalu asyik menjalani pacaran, hingga niatan menikah masih setengah hati. Setiap kali Sha membahas pernikahan, Irsyad memang kita jalani karier dulu ya, agar masa depan kita lebih tertata. Selalu, dan pada akhirnya Sha tak membahas lagi, hingga keraguaan muncul dalam hati gadis itu.


Irsyad ingat betul saat mama Irsyad meminta Sha tunangan, ditolak secara halus oleh Sha. Namun dirinya tak sadar dari penolakan itu karena keraguan dalam diri Sha.


"Buka!" ucap seorang wanita yang tak lain adalah Mita. Untung saja dia jaga malam, hingga siang menjelang sore ini bisa menjemput pangeran patah hati.


"Lo kenapa sih panggil gue. Gue gak mau ya dianggap pelakor oleh istri lo. Lagian lo tuh ngapain sama mobil dibiarkan menepi begini. Aneh. Udah cepat jalan, kalau kelamaan oarkir bisa digrebek kita. Ogah ya gue nikah sama lo."

__ADS_1


Irsyad menghela nafas berat, kayaknya salah nih memanggil Mita. Baru datang saja cerewetnya minta ampun, apalagi nanti curhat tentang Sha. Mita adalah sahabat Sha yang memang tak suka dengan pengkhianatan Irsyad. Ia mati-matian ikut menjauhkan Sha dari Irsyad. Namun, Irsyad sudah buntu hati dan pikirannya, ia akan semakin patah hati bila Mita akan memarahinya.


"Mit.....menurut lo gue benar gak kalau melepas Sha?" tanya Irsyad yang kini sudah duduk berhadapan di Cafe. Mita masih menyeruput squash lemon.


"Bener banget, baru kali ini gue setuju dengan lo!'


"Begitu ya? Meski gue masih cinta?"


"Lo dokter kok bodohnya kebangetan sih, Syad. Sha tuh udah jadi suami orang, dan lo juga termasuk orang yang hadir dalam ijab qabul pernikahan mereka. Ya jelas lo harus melepas Sha, meski lo masih cinta. Ibaratnya nih lo tuh debu yang ditiup Arsyad sudah hilang tanpa jejak."


"Kejam banget."


"Ya lo yang bego. Istri orang kok dicintai."


"Karena istri orang lebih menggoda."


Irsyad terdiam, "Iya, dia memang terlihat sangat bahagia bersama Arsyad."


"Nah lo tahu itu, dan lo mau mengajak dia kembali?"


Irsyad mengangguk. "Percuma!" lanjut Mita ceplas ceplos.


"Gue tahu. Hanya saja gue belum bisa terima."


"Lalu lo mau apa? Maksa dia buat kembali ke lo, merajut cinta yang sudah dipoles dengan pengkhianatan. Helooowww Irsyad sadar. Sha bukan tipe cewek yang bucin penuh kebodohan. Enggak. Dia lebih menomor satukan logika. Secinta-cintanya dia sama lo, begitu one night stand lo terungkap, dia gak bakal ngemis ke lo. Dia dari kecil dididik menjadi wanita mandiri tanpa bergantung pada seseorang, apalagi pacar kayak lo. Gue aja yang jomblo menahun ditawari cowok kayak lo, gue tolak."


"Ya siapa juga mau menawari lo!" balas Irsyad kesal. Sudah diprediksi bahwa bicara dengan Mita makin membuat hatinya panas.

__ADS_1


"Saran gue, udah lupakan Sha. Lo bisa kembali ke Farah, your wife the one and only," sindir Mita. Padahal bukan kisah cintanya, tapi Mita ikutan marah pada Farah.


Irsyad menggeleng. "Gue gak mau kembali, gue benci sama dia."


"Lo benci sama dia, tapi kalau lo pengen juga menggauli dia, sehat gak sih sebenarnya otak lo. Hati gak cinta tapi 'adik' lo doyan!" see makin melantur saja kan omongannya, tapi benar.


"Ya seenggaknya gue tetap nikmatin tubuhnya, percuma nikah tapi gak diulang."


"Yah ..begitulah, pernikahan yang sejak awal sudah salah, kalau diteruskan akan semakin salah."


"Mit, kalau seandainya gue bunuh diri karena cinta salah gak!"


Tanpa ba bi bu, Mita langsung mengeplak kepala Irsyad dengan kotak tisu, hingga dia mengadu.


"Baru diketok kotak tisu, lo mengadu gimana lo mau bunub diri. Dengar ya Syad. Kamu boleh jatuh cinta, boleh bucin tapi plis jangan bodoh. Orang patah hati itu tiap hari ada. Orang kehilangan cinta tiap hari itu ada. Tapi mereka juga banyak yang bangkit dari keterpurukan. Lo jangan merasa paling menderita karena sejatinya lo tuh pelaku bukan korban."


"Gue nanti sama siapa saat tua kalau bukan dengan Sha?"


"Gak usah terlalu percaya diri, dengan melihat kondisi lo begini, hidup lo gak bakal lama. Diberi tubuh sehat gak disyukuri, diberikan nikmat patah hati malah gak introspeksi dan menyalahkan keadaan. Gitu mau menjadi suami Sha, gak pantes!"


"Lo gue ajak diskusi biar otak gue jernih, meyakinkan gue kalau Sha sudah bahagia bersama pria lain."


Mita mengedikkan bahu, "Gue bukan pengkhianat, meski gue tahu lo terluka tapi gue gak ada empatinya ke lo. Empati gue udah diborong Sha, tanpa ada sisa buat siapapun yang pernah melukai Sha. Termasuk lo."


"Jahatnya, sangat sadis!"


"Emang gue pikirin!" tambah Mita dengan juteknya.

__ADS_1


__ADS_2