JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
BOCIL


__ADS_3

Mama kagum dengan Sha, ternyata keahlian memasak Bu Rahmi menurun pada Sha. Sore ini ia mencoba membuat nasi liwet magic com. Agak deg-deg an dengan rasanya karena Sha jarang masak setelah bekerja, ia hanya sekedar saja membantu ibu tak sampai turun tangan mengolah bumbu-bumbu yang berlebihan.


"Kita bisnis gimana Sha," ajak sang mama mertua setelah mencicipi nasi liwet Sha dengan oseng cumi. Sambal bajak, sumpah beliau tak berhenti mengunyah dari tadi, apalagi Mbak Sumi menyodorkan daun pisang sebagai alas piringnya semakin mantap saja.


"Ma....Sha mandi dulu ya," pamit Sha yang badannya semakin lengket setelah masak. Mama mertua tak menjawab beliau hanya menganggukkan kepala karena sibuk mencicipi nasi liwet oseng cumi.


Sha hanya tersenyum, merasa bangga karena olahannya yang sederhana, ternyata mendekatkan diri dengan sang mama bisa melalui kegiatan uplek di dapur.


Masuk kamar, senyum itu langsung memudar melihat Arsyad yang tidur memeluk guling. "Bangun napa, Bi! Aku habis masak loh, ayo mandi!"


Arsyad menggeliat namun tak membuka mata. Akhirnya Sha pun menoel pipi, membuka mata Arsyad, hingga terakhir mencium pipi sang suami, tapi justru ini langkah yang salah karena Arsyad langsung membalikkan badan dan mengungkung tubuh Sha. "Salah deh gue," lirih Sha dengan wajah cemberut.


"Makanya jangan usil," ujar Arsyad dengan mencium leher Sha, namun Sha menggeleng. Ia masih ingat tawa sang mama mertua tentang leherny.


"Kamu tuh jangan di leher napa," protes Sha sembari mencubit pipi Arsyad.


"Kenapa?" tanya Arsyad sembari mengerutkan dahi.


"Ketahuan mama tau, malu aku!"


"Biarin!"


"Gak usah cium aku bau apek tau."


"Biarin."


Pergulatan itu pindah ke kamar mandi karena bujuk rayuan Arsyad yang tak pernah bisa dibantah kalau urusan ehem-ehem. Sha pasrah. Hampir 45 menit keduanya di kamar mandi, hingga sholat Ashar mepet waktu.


"Aku pakai apa ya, biar gak malu-maluin kamu!" tanya Sha sembari membuka lemari dan melirik koper melihat baju yang cocok untuk menyambut keluarga kakak-kakak Arsyad.


"Baju biasa, gak usah cantik nanti ada yang naksir," ujarnya sembari menggantung sarung.


"Maksudnya?"


"Kalau Kak Akbar dan Kak Fahri sih, aman. Bocil mereka yang bakalan naksir sama kamu?"

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Sha masih bingung. Bocil apaan?


"Anaknya Kak Akbar yang pertama usia 6 tahun namanya Rafly, julid banget."


"Eh ...gak mungkin lah julid, kritis kali," bela Sha yang tak suka mendengar anak kecil dibilang julid. Mereka kan polos, tentu merespon sesuai dengan pengetahuannya yang kelewat jujur.


"Sama aja!" kesal Arsyad yang memang sering cek cok dengan Rafly. Sha hanya menggeleng, ia pun menjatuhkan dress bawah lutut berwarna peach dengan lengan pendek ruffle, sangat cantik, dan berhasil membuat Arsyad berdecak sebal.


"Udah dibilang jangan cantik-cantik," protes Arsyad yang langsung memeluk sang istri. Dan Sha hanya mendengus sebal.


"Ini biasa, Bi. Kamu tahu kan aku gak suka dandan," ujar Sha yang berniat menyempol rambutnya dan disisakan beberapa helai saja.


"Tapi aku melihatnya cantik terus," nah kan rayuan sambil mengendus pipi Sha yang baru saja dipoles bedak.


"Bi...." rengek Sha kesal, dan Arsyad tertawa sembari keluar kamar.


*


*


*


"Maaf ya, gak bisa hadir saat ijab qabul!" ujar Akbar memeluk sang adik, ia baru saja pulang dari luar kota, menggandeng sang istri yang bernama Mutia dan sedang mengandung.


"Tak apa lah, Bang. Tapi amplopannya jangan sejuta," ucap Arsyad ngeselin. Sha langsung menyikut perutnya pelan.


"Kenalin nih, Sayang. Ini abang aku yang nomor dua, dan istrine yang mengandung yang keempat," sindir Arsyad langsung dipukul lengannya oleh Mutia, memang mereka sedekat itu menjadi keluarga. Kakak dan kakak iparnya tahu betapa manjanya Arsyad di dalam keluarga, sehingga dia dianggap anak kecil.


"Hai, Lethisa ya?" tebak Mutia dengan ramah sembari membalas salaman Sha.


"Iya, Mbak Mutia," balas Sha dengan tak kalah ramah.


Dua pasang suami istri itu akhirnya bergabung dengan papa dan mama yang sibuk bermain dengan cucunya. Anak Akbar Rafly sudah melirik genit pada Sha yang tak kunjung dikenalkan karena dia tadi langsung digendong sang opa.


"Tante cantik itu siapa, Opa?" tanya Rafly penasaran sambil menunjuk Sha yang sedang bercengkrama dengan Akbar dan Mutia.

__ADS_1


"Coba tebak tante itu siapa?" goda sang opa memancing kritisnya Rafly.


"Pacar om Acad?" ulangnya dengan mengerutkan dahi sok serius. Sang opa tertawa dengan ekspresi Rafly, bocah cilik yang satu ini memang ajaib. Peka banget dengan keadaan sekitar.


"Lebih tepatnya, istri om Acad."


"Hah? Istri? Kapan om acad pakai jas?" tanya Rafly dengan begitu polosnya. Anggapannya kalau menikah itu pakai jas.


"Lah kok pakai jas sih?" tanya Tuan Wira, kini beliau yang bingung dengan istilah Rafly tentang menikah. "Tiap hari juga om Acad pakai jas."


"Ehmm..." Rafly bingung. Apa yang dikatakan sang kakek benar juga ya, dia sudah beberapa kali bertemu om Acad pakai jas, tapi saat itu belum punya istri. "Ah...Rafly bingung opa," Pak Wira sudah tak tahan lagi menahan tawa, cucunya ini sangat menggemaskan. Beliau pun melepas Rafly ke arah Sha.


Bocah cilik iti berlari dengan riang sembari memanggil mama, saat sudah dekat ia sok kenal sok dekat dengan Sha. "Tante cantik gak mau kenalan sama aku?" tawar Rafly sambil menempelkan badan pada sang mama. Sha tersenyum, sedangkan Arsyad yang sedang ngobrol bersama Akbar langsung menoleh. Tahu betul suara siapa.


"Anak lo, Bang!" ujar Arsyad mendadak kesal. Sha aja dibuat bingung dengan sikap Arsyad.


"Dasar posesif, sama anak kecil juga!" protes Akbar yang beranjak hendak ke toilet.


"Awas lo bocil," ujar Arsyad dengan kode menyolok mata. Sha sontak menepuk paha sang suami, ini anak kecil loh.


"Apaan sih, Om Acad. Aku cuma mau kenalan sama tante cantik doang," ucap Rafly tak kalah ketus.


"Halah sok sok an mau kenalan, ujung-ujungnya lo pepet istri gue," sahut Arsyad seperti anak kecil. Entahlah sama Rafly emosinya mendadak marah.


"Bi...."


"Kayak gitu tuh kelakuan suami kamu, Sha!" ucap Mutia yang sudah biasa melihat pertengkaran Arsyad vs Rafly.


"Tau nih, Mbak kayak anak kecil banget. Namanya siapa anak ganteng?" tanya Sha yang fokus pada Rafly. Anak itu diam dengan mengangguk tersenyum malu.


"Tuh..tuh genit," ceplos Arsyad yang melihat gelagat Rafly sok ganteng begitu. Usia baru 6 tahun tapi sudah punya sikap playboy.


"Apaan sih, Om Acad. Biarin aja Tante, ada orang syirik sama kedekatan kita. Namaku Rafly Ahmad Syailendra Akbar, aku umur 6 tahun. Hobiku cium cewek cantik, cup!" Rafly langsung mencium pipi kanan Sha saat keduanya berkenalan. Bocah cilik itu langsung lari ke arah opa dengan berteriak.


"Opa....tante cantik udah aku cium," teriaknya membuat Arsyad meradang.

__ADS_1


"Dasar bociiiil!" geram Arsyad, sedangkan Mutia terpingkal-pingkal, dan Sha pun menahan tawa sambil memegang pipinya.


__ADS_2