JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
SHA SAYANG SAMA IBU


__ADS_3

Hanya genggaman tangan Arsyad yang mampu menopang tubuh Sha. Rasanya perempuan itu hanya diam, bahkan air mata tak juga keluar. Tatapan matanya kosong menatap tubuh yang terbujur kaku diselimuti kain putih.


Yah saat sholawat menjelang shubuh mulai bersahut-sahutan Sha meminta Arsyad untuk menemaninya ke ruang HCU. Kebetulan perawat jaga mengizinkan Sha masuk. Dia melihat sang ibu cukup lemah, air mata sebisa mungkin ditahan. Ingat pesan Arsyad untuk banyak berdoa, Sha pun mengeluarkan ponsel. Segera membaca ya sin di samping ranjang sang ibu.


Sha baru saja selesai membaca yasin. Detak nadi di layar monitor ibu semakin rendah. Ia pun menggenggam tangan ibu yang memang sudah anyep, "Ibu...Sha sayang banget sama ibu. Meskipun tanpa ayah, Sha sangat bahagia hidup dengan ibu. Bu...terimakasih. Terimakasih sudah merawat Sha, mendidik Sha hingga sebesar ini. Bahkan ibu pun sudah memilihkan suami yang akan menjadi pelindung Sha nanti. Maaf kalau Sha belum bisa membahagiakan ibu. Bu...kalau memang ibu sudah terlalu sakit Sha ikhlas melepas ibu. Agar ibu di sana sudah tidak merasakan sakit lagi. Sha sayang ibu..." setelah berucap dengan menahan tangis. Sha melafalkan syahadat di telinga sang ibu dilanjutkan lafal laa ilaaa haillah. Sha memeluk sang ibu dan bunyi detak jantung sang ibu pun sangat melemah. Sha mengusap air matanya, menghampiri perawat yang jaga di ruang HCU.


"Mbak..ibu saya detak jantungnya di monitor datar," ucap Sha sangat tenang. Bahkan air matanya tak keluar. Si perawat langsung membawa stestoskop dan menuju ranjang Bu Rahmi, Sha mengikuti. Tak lama kemudian, perawat itu menoleh pada Sha.


"Beliau sudah meninggal dunia, sabar ya Mbak!"

__ADS_1


Sha mengangguk, ia pun keluar dengan langkah lunglai. Masih belum percaya bahwa sang ibu sudah tiada. Bertepatan membuka pintu, Arsyad datang. Sha langsung menghamburkan pelukan dan diiringi air mata. Arsyad masih belum paham, namun perawat keluar memberitahukan bahwa jenazah mau dibawa pulang langsung atau ikut pemandian di rumah sakit.


Arsyad baru paham dengan keadaan yang terjadi. Ia pun meminta pihak rumah sakit merawat jenazah sang mertua sembari tetap memeluk sang istri.


Sha dituntun masuk ke kamar inap, sudah ada Mbak Marni karena memang pagi Mbak Marni sudah datang. Mama Arsyad serta sang suami juga masih di kamar itu. Sha sudah tidak bisa berkata. Arsyad yang menjelaskan dan memibta Mbak Marni mengabarkan ke warga setempat tentang kematian Bu Rahmi.


Mbak Marni hanya mengangguk, tangannya pun gemetar saat menuliskan pesan di grup perumahan itu. Ucapan belasungkawa terus diucapkan dari warga perumahan.


Masuk portal perumahan, sudah banyak warga yang berkumpul beserta tenda depan rumah Sha. Jenazah dibawa bapak-bapak dan di letakkan di ruang tamu setelah sofa dikeluarkan dan barang hantaran Sha yang belum dirapikan diletakkan di kamar Sha. Beruntung Mbak Marni pulang lebih dulu tadi.

__ADS_1


Sha mandi dan berwudhu, bersiap melaksanakan sholat jenazah bersama para pelayat lainnya. Setelah sholat jenazah selesai, Ustadz Salim memberikan wejangan sebelum jenazah diberangkatkan. Beliau juga meminta maaf bila Bu Rahmi punya salah baik disengaja maupun tidak disengaja.


Sha terus ditemani Mbak Marni dan Mama Arsyad menuju pemakaman, Arsyad ikut memanggul keranda jenazah. Lantunan kalimat tahlil sudah berkumandang, Sha masih saja terisak. Mama mertua pun terus mengusap lengan Sha.


Proses pemakaman sangat cepat, Arsyad bertugas mengumandangkan Adzan. Suaranya bergetar menahan tangis, baru kali ini ia terlibat langsung dalam proses pemakaman.


"Temani aku," ucap Sha saat pemakaman usai.


Arsyad mengangguk, "Jangan nangis lagi ya, ditahan. Kasihan ibu," saran Arsyad yang diangguki Sha. Ia membaca doa dengan khusyuk, menatap nisan sang ibu, dadanya sesak. Moment yang tak akan dilupakan selama hidupnya, kehilangan ibu.

__ADS_1


Sha sangat sayang sama ibu. Al Fatihah.


__ADS_2