JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
BALI


__ADS_3

Sha sangat cantik dengan seragam bridesmaid yang modelnya khusus dirancang oleh mama mertua. Beliau sangat paham bahwa anak bungsunya tak suka bila istrinya mengenakan pakaian terbuka dan ****. Nyonya Wira benar-benar menyulap sang mantu begitu anggun dan elegan dalam balutan long dress.


Arsyad tak pernah lepas melihat sang istri, untuk kali ini ia sangat setuju dengan mamanya. "Ijab qabulnya mau mulai loh, hadap depan dong," bisik Sha yang lama-lama risih juga ditatap Arsyad dengan begitu dalam. Rasanya tatapan Arsyad seperti tatapan saat memulai pergulatan panas. Sha tak mau kalau sang suami mengajak ibadah halal.


"Pemandangan di sampingku lebih menggoda sayang kalau dilewatkan," ucap Arsyad masih menatap Sha.


"I love you, makasih," Lah Sha malah mengecup bibir Arsyad di tengah teriakan Sah. Arsyad gelgapan dengan tingkah Sha sekaligus teriakan hadirin. Sha melihatnya lucu.


"Kamu nakal, setelah acara siap-siap aku jadikan kambing guling," canda Arsyad mengarah pada kemesuman pasti.


"Auh...takut," ujar Sha dengan nada centilnya. Arsyad tertawa, sang istri bisa saja berlaku konyol seperti itu. Dan itu yang membuat Arsyad semakin jatuh cinta.


Keduanya pun bergabung dengan undangan, menikmati tiap prosesi pernikahan. Maklum kebanyakan hadirin adalah teman SMA Mita yang berani merogoh koceknya demi menghadiri nikahan dokter cerewet itu.


Bagi teman SMA yang tahu kabar, kedatangan Arsyad di samping Sha membuat mereka terkejut. Banyak yang heran kenapa Sha sekarang menikah dengan Arsyad, tanpa penjelasan lebih keduanya hanya menjawab sudah takdir saja.


Sangat berbeda dengan jawaban Irsyad, ternyata Irsyad nekad datang sendiri, dengan biaya akomodasi sendiri. Ia sengaja datang karena ingin melihat Sha-nya. Dan benar saja, hatinya semakin panas melihat Arsyad menggandeng kadang merangkul mesra Sha.


"Posesif sekali," umpat Irsyad lirih.


"Sabar, bro. Bini orang emang menggoda,"ledek Arden, teman basket Irsyad dulu.


"Sial, bini orang gitu mantan gue!"


"Tapi sayang ya, Arsyad mau menerima bekas lo."


"Bekas maksudnya?"


Arden tertawa keras, "Masa' gak paham sih, kalian kan pacaran hampir 7 tahun, gak mungkin kan gak nyoba begituan. Apalagi lo dokter, pasti tahu lah metode biar gak hamil."

__ADS_1


Spontan Irsyad menonyor kening Arden. "Dia masih perawan, 7 tahun gue jaga benar dia. Eh gue jaga gak boleh lecet, malah diambil Arsyad."


Arden tertawa keras, "Nasib bro!"


"Bukan diambil Arsyad, lo sendiri yang membuang gadis sebaik Sha," ceplos Kanaya, salah satu teman kelas Sha yang pernah dengar cerita pernikahan Arsyad dan Sha, lagian ia juga mendengar kabar pernikahan dadakan Irsyad dengan wanita lain, malah lebih dulu sebelum Sha nikah.


Irsyad terdiam, Arden tampak bingung, dia yang hidup di negara lain tidak tahu sama sekali kabar teman-temannya. "Lo harus move on, Sha udah lebih bahagia sama Arsyad. Kalau gak ada cewek yang mau sama lo, aku siap!" lanjut Kanaya lalu terkekeh dan berlalu menghampiri teman lainnya.


"Wah,,,," ucap Arden spontan, kaget juga dengan ucapan Kanaya tersebut, "Kode tuh bro!" lanjutnya yang tak digubris Irsyad. Matanya masih asyik memperhatikan interaksi Sha dan Arsyad, meski mereka bergerumbul dengan teman sekelasnya dulu, tapi sangat terlihat Arsyad begitu posesif pada Sha.


Proses sesi foto pun dimulai, perlu antrian panjang untuk sampai di pelaminan. Sha sangat kagum dengan dekorasinya ini, butuh berapa dana untuk mewujudkan pesta secantik ini. Bahkan bunga yang dipakai adalah bunga asli, Sha terhipnotis.


"Mau seperti ini konsepnya?" tanya Arsyad tiba-tiba. Ia beberapa kali melihat tatapan kagum Sha pada dekorasinya, dan mendengar gumaman sang istri. Ada rasa tak enak yang mencubit ulu hatinya, ia juga punya uang bisa mengadakan resepsi secantik ini tapi tak segera dilakukan.


"Hem?" tanya Sha sembari mengerutkan dahi, tak paham dengan pertanyaan Arsyad.


"Resepsi kita mau seperti ini? Kamu sepertinya sangat kagum. Lagian kita belum mengadakan resepsi loh, akhirnya banyak teman yang mengira kita masih pacaran."


Arsyad tersenyum, "Istri aku baik," ucap Arsyad diikuti gerakan mau nyosor. Namun Sha langsung membungkamnya.


"Banyak orang, malu. Nanti kalau udah di kamar ya," bisik Sha sembari tersenyum manis.


"Jangan senyum semanis itu napa, gak nahan!" ucap Arsyad langsung merengkuh pinggang sang istri. Sebisa mungkin ia akan bersikap mesra, padahal biasanya Arsyad sangat menjaga privasi kebucinannya, tapi kali ini tidak. Sengaja, karena ada mata yang terus mengawasi Sha. Arsyad tahu tatapan Irsyad, ia tak mungkin membiarkan sang istri sendiri karena Arsyad tak mau Irsyad nekat melakukan hal tak terpuji pada sang istri. Waspada.


*


*


"Pagi!" sapa Arsyad saat melihat Sha sudah membuka mata, ia sengaja bangun lebih dulu, ingin menatap wajah polos sang istri. Sha terlihat kelelahan, karena aktivitas setelah acara resepsi Mita. Arsyad tertular vibe malam pertama Mita, ia pun ikut melakukan malam pertama yang ke sekian, alhasil Sha sangat lelap.

__ADS_1


"Pagi, kamu udah bangun?" tanya Sha dengan suara serak khas bangun tidur, ditambah ia mengeratkan bed cover dan terpejam kembali.


"Capek ya?" tanya Arsyad sembari mengertakan tubuh yang sedang terbalut bed cover itu. Sha mengangguk.


"Matahari mau keluar loh, yuk mandi wajib dan sholat. Habis itu jalan-jalan ke pantai, plus belanja."


"Kamu dulu, aku masih ngantuk!"


"Mandi bareng!"


"Gak mau, Bi. Aku capekkkkk!" rengek Sha yang disambut tawa Arsyad.


Jam 7 pagi, mereka keluar kamar, sarapan di resto lalu jalan ke pantai. Arsyad terus menggenggam tangan Sha, dan itu membuat Sha geli, diposesifin seperti ini bukan Arsyad banget.


"Genggam terus, kita gak lagi nyebrang loh, Bi!"


"Gak pa-pa, takut istriku ilang!"


Sha tertawa, "Gak mungkin ilang, meski ada mantan yang sedang mengintai."


Arsyad langsung menoleh, "Kamu tahu?"


Sha mengangguk. "Sangat tahu, orang kalau lagi dilihatin kan kerasa agak gimana gitu, dan tadi malam saat aku menoleh tak sengaja melihat dia sedang menatap kita. Jadi...aku merasa kamu posesif begini karena dia."


Arsyad mengangguk. "Aku hanya takut dia bertindak nekad."


"Aku tahu, dan aku pun sempat takut."


"Jadi jangan memintaku menjauh dari kamu, please. Biarkan aku posesif sama kamu tidak hanya di sini, tapi di mana pun kamu berada."

__ADS_1


Sha tak membalas, ia hanya menghadap ke arah sang suami. Mengalungkan tangannya ke leher sang suami, menatap begitu mesra. Lalu mengecup bibir Arsyad sekilas. "Lakukan, aku sangat paham kamu bersikap begitu karena kamu menyanyangiku, makasih. I love you!" ucap Sha, kembali memagut bibir sang suami.


Arsyad tersenyum puas, tak menyangka hati teman sebangkunya sudah dipersembahkan untuk Arsyad seorang. Tak ada lagi rasa untuk mantan. Ingat saja, pacaran lama tak menjamin bisa hidup bersama, akan kalah sama jodoh yang sesungguhnya.


__ADS_2