JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
SEKALI LAGI DITOLAK


__ADS_3

*Bekal*ku udah dimakan bos ganteng, Sha?


Tepat dugaan Sha, pasti Kayla akan menanyakan bekalnya. Ia tak serta merta membalasnya, hatinya maju mundur untuk jujur. Sebelum info perbekalan saja, Kayla mengaku terlibat ghibah apalagi kalau bekalnya tak dimakan. Bisa-bisa citra buruk semakin tersemat dalam diri Sha.


Sha, gue diteror Kay terus nih! Jangan lupa balas wa nya.


Giliran Heni yang chat, dan membuat Sha semakin menghela nafas berat. "Gini amat sih jadi sekertaris Arsyad!" gerutu Sha sembari memijat pelipisnya.


"Sha, tolong bantu saya teliti laporan keuangan penggajian karyawan," ucap Danu dalam sambungan intercom.


"Iya, Pak!" jawab Sha begitu saja, pekerjaan merawat dokumen dan mengatur jadwal Arsyad seminggu ke depan sudah beres. Berkas proposal dari devisi pengembangan proyek siap disetor pasca makan siang nanti. Oke ... Sha akan membantu Pak Danu terlebih dulu.


"Tumben kamu ada di meja kerja kamu?" tanya Danu, pasalnya ia hafal betul Arsyad tak akan membiarkan Sha duduk manis sendiri, bos ganteng itu selalu mengambil kesempatan berdekatan dengan Sha, selalu aja ada tugas yang mengharuskan Sha masuk ruang Arsyad. Akal playboy nya bagus juga tuh anak!!


"Pekerjaan sementara udah beres sih, dokumen di meja jatah setelah makan siang. Pak Arsyad katanya lagi meeting virtual dengan karyawan start up nya."


"Detail banget, emang Arsyad selalu bilang aktivitasnya sama kamu?" selidik Danu ingin tahu sejauh apa Arsyad terbuka pada Sha.


"Ya selalu bilang, katanya biar kalau ada yang tanya tentang Pak Arsyad, aku bisa jawab."


Danu tertawa keras, nih sekertaris polos amat, gak curiga sedikit pun modus yang dilancarkan Arsyad. "Kok Pak Danu tertawa?"


Danu hanya menggeleng, lalu menyodorkan laporan keuangan penggajian karyawan. Tadi Arman sudah memberikan laporan keuangan untuk produksi dan pemasaran, untuk laporan penggajian, Arman menyarankan dengan Sha saja, karena setengah jam lalu tim keuangan ada meeting intern.


"Sha, konten kamu emang dari cerita nyata ya?" tanya Danu di sela-sela audit laporan.


"Cerita nyata, Pak. Narasumbernya pun orang terdekat," jawab Sha yang masih fokus dengan laporan juga. Keduanya duduk berhadapan, sama-sama membuka laporan, keduanya mencocokkan laporan dengan rekening koran bank.


"Prospek tuh, lanjutkan Sha!"


"Iya kah? Kok Pak Danu bilang begitu?" ucap Sha menatap intens wajah Danu.


"Feeling aja, bukannya cerita perempuan tersakiti banyak peminatnya ya?"


Sha pun mengangguk, sambil tertawa. "Makanya saya ambil tema itu."

__ADS_1


"Next guest siapa?" tanya Danu penasaran.


"Pak Arman."


" Lah dia punya cerita apa, kayaknya dia jomblo seumur hidup mana ada cerita cinta," ejek Danu tak kira-kira. Kenal Arman sudah lama dan mengetahui perjalanan cinta Arman yang terkesan stagnan, punya pacar rasa single setahu Danu.


"Hem ....tidak menceritakan cintanya Pak Arman aja, bisa jadi saya membuat pernyataan nah nanti dikomentari Pak Arman menurut pandangan sebagai pria."


"Ouh....paham, Aku kapan nih jadwal masuk konten kamu?"


Sha melongo seketika, "Yakin Pak Danu mau?"


Beliau tertawa, "Enggak lah, malu sepertinya bicara depan kamera!"


Sha mengangguk saja, kemudian keduanya fokus ke laporan. Hampir setengah jam keduanya konsentrasi, ruangan Danu diketuk.


"Masuk!" titah Danu sembari mendekati Sha untuk melihat laporan yang menurut Sha janggal.


"Maaf, Pak. Saya dari devisi SDM mau menyerahkan laporan jaminan sosial yang bapak minta," ucap Tria sembari menatap penuh selidik kedekatan Sha dan Danu.


"Mari Mbak Tria, minta tolong dibuka bagian pembayaran asuransi jaminan sosial dan hari tua karyawan pabrik," pinta Sha sembari membuka laporan keuangan yang janggal tadi.


Tria mendadak tidak fokus dengan permintaan Sha, karena baru tahu cara bicara Sha selembut dan sesopan itu. Hati dan pikiran buruk tentang Sha mendadak bimbang. Ia tidak mengira kalau sekertaris cantik Pak Arsyad begitu mempesona dalam bertutur kata.


Tria memang tidak pernah berurusan langsung dengan Sha sebelumnya, berhubung kepala bagian SDM sedang dinas luar kota, alhasil Tria yang menghandle. "Mbak Tria," panggil Sha sembari menyentuh lengan Tria.


"Eh maaf saya tidak fokus," jawabnya menyesal. Sha pun mengangguk dan mengulangi permintaannya. Lagi fokus mencocokkan data, tiba-tiba pintu ruangan Danu dibuka secara kasar.


"Dan, calon istri gue di...." Arsyad terdiam seketika. Ketiga orang itu langsung menatapnya dengan pemikiran masing-masing. Ia hanya berdecak sebal lalu menutup pintu ruangan Danu.


"Aneh," cibir Danu yang kembali memantau laporan tersebut, "Kayaknya kamu dicari Arsyad, temui dia Sha, sebelum ngamuk."


Sha pun menghela nafas berat, "Baik, Pak! Mbak Tria tinggal direvisi bagian ini ya, coba dicari lagi bukti pembayarannya nanti langsung bilang ke Pak Danu saja!"


"Iya, Bu!" jawab Tria canggung. Setelah kepergian Sha, Danu pun kembali ke mode silent. Tria sampai kikuk di dalam ruangan ini, tak diajak ngobrol saat ada Sha, meski obrolannya masih urusan laporan. Gak masalah juga asal tidak sehening ini. Benak Tria pun berpikiran buruk tentang kedekatan Sha dan Danu.

__ADS_1


Di ruangan lain, Sha harus mempunya stok sabar yang lumayan, si bos mendadak ingin makan di luar katanya Indah mengajak makan siang dan Sha harus ikut menemani. Sha menolak, karena Indah mengajak Arsyad via pribadi. Kalau urusan proyek tentu melalui Sha dulu.


"Maaf, Pak. Saya gak mau, karena Bu Indah ingin makan siang hanya berdua dengan Pak Arsyad saja."


"Saya malas lah, Sha. Kemarin juga udah makan siang," keluh Arsyad tak suka.


"Menjalin hubungan baik dengan klien itu harus loh, Pak. Jangan mengecewakan klien agar kerja samanya baik."


"Dia bukan klien, tapi minta jadi calon istri!" Arsyad tahu niat Indah mengajaknya makan siang, dan ia bisa memprediksi akan ada permintaan seperti ini besok, dan kemudian hari


"Ouh begitu," jawab Sha singkat. Arsyad spontan mendelik, hanya itu balasan Sha.


"Sha, kamu tahu kan hati saya buat siapa?"


Sha mengangguk, "Jangan mengharap sama saya, Pak. Nanti kecewa. Banyak perempuan yang mau dengan Bapak, termasuk Bu Indah."


"Yakin Sha, kamu menolak saya lagi? Gak nyesel kalau nanti saya menerima perasaan perempuan lain?"


Sha menggeleng, "Sudah cukup menjalin hubungan dengan anak orang kaya dan tampan, lalu disakiti, saya tidak mau mengulanginya lagi."


"Dan kamu menyamakan aku seperti Irsyad?"


"Bukan menyamakan hanya waspada."


"Sekalipun kamu tak mau memberi kesempatan?"


Sha menggeleng.


"Baiklah, saya tidak akan memaksa. Dan saya harap kamu tidak akan menyesali keputusan kamu, kalau saya sudah menjalin hubungan dengan perempuan lain saya tidak mungkin mundur."


"Jangan khawatir, Pak. Saya bukan tipe perempuan yang mau merebut pasangan orang."


"Baiklah, silahkan keluar!"


Sha pun mengangguk, dan beranjak keluar ruangan. Dia memang harus tegas dalam menentukan pasangan kelak. Strata sosial yang begitu mencolok bisa menjadi problematika di kemudian hari. Dan Sha mengantisipasinya sejak sekarang.

__ADS_1


__ADS_2