
Mama Irsyad menyambangi kamar yang dihuni sang putra sejak menikah. Irsyad memilih tidur di kamar terpisah dengan Farah, meski beberapa kali mereka juga sekamar. Beliau melihat sang putra yang tidur meringkuk dengan bibir menganga. Ada rasa sesak melihat pemandangan Irsyad seperti itu, biasanya di jam segini ia akan sibuk praktik di rumah sakit. Namun sejak kemarin memilih cuti.
Mama Irsyad menghela nafas berat sembari melangkah mendekat kepada sang anak. Bayangan pertemuan dengan Sha masih membekas, apalagi tentang dua saran yang mungkin saja bila Irsyad tahu akan membuatnya dilema setengah mati.
"Ma!" panggil Irsyad. Ternyata dia tidak tidur.
"Kamu gak tidur?" tanya mama sedikit terkejut.
Irsyad bangun dan mneyenderkan tubuhnya di kepala ranjang. Tampak lusuh sekali wajahnya, sangat berbeda dengan orang yang bangun tidur pada umumnya. "Gak bakal bisa tidur, Ma!" jawabnya malas, lalu menyentuh ponselnya.
"Mandi gih, kita sarapan bersama!"
Irsyad menggeleng. "Nanti aja!"
"Kamu itu dokter kok gak bersemangat sekali sih," ejek mama mencoba membangun semangat sang putra. Biasanya kalau diejek seperti itu, Irsyad akan mengomel, melakukan pencitraan bahwa dirinya adalah dokter muda yang hebat. Tapi sekarang, ia hanya melirik sang mama tanpa mengomel, dan sibuk dengan ponselnya.
Keduanya diam sebentar, sang mama sedang menimbang apakah perlu menceritakan pertemuannya kemarin dengan Sha. Tapi kalau tidak cerita, masalah dengan Sha tidak akan selesai.
"Syad!" panggil mama dengan menatap sendu sang putra. Irsyad hanya mendongak lalu fokus kembali ke ponsel. Wajar saja, biasanya jam segini sudah di rumah sakit tapi sekarang di kamar, urusan pekerjaan tentu terbengkalai.
"Kemarin mama bertemu Sha!" mama melihat reflek mata sang anak ketika nama sang mantan disebut. Irsyad langsung fokus pada sang mama. Sungguh, hati mama mencelos seketika. Irsyad begitu mendamba Lethisa.
__ADS_1
"Mama ngomong apa sama Sha? Apa yang dikatakan Sha, Ma?" mata wanita paruh baya itu seketika memanas. Beliau langsung menunduk, tak kuasa melihat antusias Irsyad membahas Sha. "Ma!" tegurnya sembari menggoyang lengan sang mama.
Wanita cantik itu menghembuskan nafas pelan, lalu menatap sang putra. "Apa yang kamu harapkan dari pertemuan mama dan dia?"
"Dia mau kembali kepadaku!" jawab Irsyad langsung. Jawaban itu seperti tertancam di otaknya, hingga tanpa memerlukan waktu berpikir.
Mama mengulas senyum tipis, lalu menghela nafas pelan, terlalu berat untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi harus tetap diungkap secepatnya. Beliau sangat sedih melihat Irsyad yang terlalu berharap. Khawatir kecewa terlalu dalam yang bisa menjadikannya depresi.
"Sha hanya memberikan dua saran pada mama!"
"Saran apa?" tanyanya antusias.
"Yang pertama, move on. Kamu harus move on. Dan yang kedua, dia akan menikah dengan orang lain." Untuk saran yang kedua, mama memelankan suaranya, agar Irsyad samar mendengarnya. Tapi ternyata tidak, tentang Sha dia sangat peduli hingga dia shock saat keputusan menikah diambil oleh Sha. Irsyad menggeleng kuat, tanda tak terima.
Mama Irsyad pun tak mau gegabah. Beliau langsung menahan lengan Irsyad. Tekad beliau adalah menyadarkan Irsyad bahwa masa depan Sha bukan Irsyad lagi. "Dengarkan mama, Syad. Stop. Berhenti menemui Sha lagi."
"Enggak, Ma. Aku harus menemui dia lagi. Dia gak bisa seenaknya menikah begitu saja. Dia harus menikah dengan Irsyad, Ma!" ucapnya dengan memaksa. Berusaha melepas cekalan sang mama, namun tak bisa begitu saja. Hingga sang mama memeluknya. Beliau sadar sang anak sudah masuk tahap depresi. Hidupnya bergantung pada kehadiran Sha. Sangat menyedihkan.
"Dengarkan mama sayang. Dengarkan," pinta beliau dengan memeluk Irsyad erat. "Tolong jangan temui, Sha lagi. Dia perempuan baik, bahkan mama bilang sangat baik. Biarkan dia hidup tenang, kamu mau melihat dia bahagia kan? Sudah jangan temui dia lagi."
Irsyad tertawa sumbang. "Kalau aku gak menemui dia lagi, bagaimana dengan hatiku, Ma. Sudah cukup aku mengikuti saran mama dengan tidak menemui dia lagi, dan nyatanya dia mau menikaj dengan pria lain. Aku gak terima."
__ADS_1
"Mama tahu, Sayang. Mama tahu, tapi tolong....kasihan dia. Dia sudah kamu kecewakan, ditinggal nikah. Dan kalau kalian sering bertemu, dia akan dianggap pelakor oleh masyarakat. Tolong, Syad. Pikirkan tindakan kamu."
"Ma, kalau Irsyad tidak menemuinya. Pernikahannya akan berlangsung, dan Irsyad gak mau itu sampai terjadi, Ma!" ucapnya sembari menangis. Tubuhnya meluruh ke lantai, dan mama langsung memeluknya.
"Irsyad gak bisa hidup tanpa Sha, Ma. Harapan kebahagian Irsyad hanya Sha, Ma."
"Sayang...." mama tak kuasa menahan air mata. Sakit hati orang karena putus cinta memang berbeda. Ada yang menganggap putus cinta itu hal wajar, ada yang seperti Irsyad putus cinta maka putus harapan hidupnya juga. Makanya banyak kasus bunuh diri karena cinta, atau mendadak gila karena cinta. Mereka seperti itu karena menomorsatukan cinta kepada manusia ketimbang cinta pada sang Khaliq, hingga tak bisa menerima kenyataan.
"Kamu harus belajar melupakan Sha. Sedikit demi sedikit belajarlah mencintai istrimu. Pasti ada hikmah di balik masalah ini. Yakinlah, kamu baik untuk Farah. Dan Sha baik untuk calon suaminya."
Irsyad kembali tertawa sambil menangis, "Mama mau bilang kalau aku gak pantas mendapatkan Sha begitu?"
Mama hanya diam.
"Sha itu adalah perempuan unik dalam hidup Irsyad, Ma. Gadis pertama yang membuat Irsyad merasakan kasih sayang dan perhatian tulus selain dari mama dan papa. Sha mengenalkan apa artinya berjuang, menerima keadaan apa adanya dalam hidup, Ma. Sebegitu berartinya Sha untuk Irsyad, Ma!"
"Belajar sedikit demi sedikit, Sayang. Kalau terus begini kamu menyakiti banyak orang, terutama istri kamu."
Irsyad terdiam, lalu menatap mama dengan lekat. "Aku ingin bercerai, Ma!"
Mama menggeleng, "Bercerai bukan solusinya, kamu hanya belum terbiasa dengan Farah. Cobalah untuk membangun rumah tangga, Syad. Tidak baik memaksakan kehendak. Farah juga gadis yang baik, mungkin juga dia adalah jodoh kamu yang sesungguhnya."
__ADS_1
Irsyad hanya diam, dan tak menangkap apa yang diucapkan sang mama. Baginya, Sha adalah hidupnya. Dia tidak akan melepas Sha begitu saja. Kalau boleh memilih lebih baik ia melepas Farah saja. Egois, biarlah. Bukankah semua orang di dunia ini memiliki sisi egois juga.