JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
CINTA LAMA


__ADS_3

*Namanya Rahmi Ningsih Widyaiswari. Papa jatuh cinta pada pandangan pertama. Papa tahu kalau kami berhubungan tidak akan direstui oleh oma.


Papa sudah menikah dengan perempuan itu tanpa restu oma dan opa. Tapi kamu pasti tahu lah, bagaimana kekuasaan oma dan opa. Mereka tahu dan murka. Memberi ancaman akan melenyepkan perempuan itu.


Seandainya kamu jadi papa apa yang akan kamu lakukan? Orang yang kamu cintai akan dilenyapkan malam itu juga. Makanya papa memilih melepas perempuan itu, dengan memberikan dia rumah dan tabungan yang papa yakin tidak akan cukup membiayai kehidupan hingga sekarang.


Sumpah papa tidak pernah menemui ataupun tahu kabar dari perempuan itu benar-benar lose contact. Makanya ketika papa menikahi mamamu, papa pun memilih bersikap mengabaikan. Papa anggap agar adil saja, Iswa tak beri papa perhatian begitu juga dengan mamamu*.


Dan sekarang, papa gak tahu dorongan dari mana ingin sekali menemui Iswa dan meminta maaf. Papa tidak akan rujuk dengannya lagi, karena papa sudah terlalu lama menyiksa batin mama kamu. Tapi papa minta izinkan papa menemui Iswa, papa hanya ingin minta maaf.


"Farah," tegur mama yang melihat Farah hanya diam meski tatapannya lurus ke layar televisi. Yah.. Farah dan mama sudah berada di rumah.


"Ponsel kamu bunyi terus!" seru mama sembari menepuk lengan sang putri.


"Hah...apa, Ma?" tanya Farah gelagapan.


"Ponsel kamu bunyi, kamu itu melamun. Kenapa?"


Farah tidak menanggapi, ia melihat panggilan telponnya dan kaget luar biasa, karena Irsyad yang menghubungi.


"*Kamu belum menghapus foto itu!" seru Irsyad tanpa mengucap salam atau apapun. Nada suaranya meninggi sepertinya ia sedang dikungkung emosi.


"Yang punya akun siapa, suka-suka aku lah mau posting apa. Kalau tidak ada pembahasan penting, aku tutup. Tut*!"


"Baguuuuus!" ucap mama tersenyum puas. "Pertahankan sikap tegasmu, jangan sampai diinjak orang lain."


Farah mengamati raut bangga sang mama, "Ma....mama bisa menasehati Farah agar bersikap tegas, how about you?"


Seketika wajah sumringah mama pudar, beliau sangat paham yang dimaksud Farah tentang sikapnya yang pendiam ketika diabaikan suaminya, menerima dan merasakan siksa batin yang luar biasa dan sampai puluhan tahun.


"Mama juga harusnya bersikap tegas, karena mama juga berhak bahagia!"

__ADS_1


"Sudahlah.." mama hendak menjauh.


"Papa ingin bertemu dengan Iswa!" ucapan Farah seketika menghentikan langkah sang mama. Beliau terpaku dan terlihat mengepalkan kepalan tangan. Farah tahu sang mama sedang menahan emosi dan kecewanya tapi ia tidak mau menutupinya. Kenyataan pahit harus tetap disampaikan. Apalagi sang papa kemarin menginginkan masa depan yang baik dengan Farah dan mamanya, sudah saatnya ia melepas segala kenangan dengan Iswa.


"Beliau ingin minta maaf pada perempuan itu dan ingin memulai kehidupan baru dengan kita."


Mama Farah hanya tersenyum miris. Gejolak batinnya pun terjadi. Di satu sisi marah karena sang suami berniat bertemu dengan perempuan itu, meminta maaf pula. Apa tidak berpikir untuk minta maaf terlebih dulu pada nya sebagai istri sah, dan bisa jadi itu hanya alibi sebagai pembuka jalan untuk menata masa depan bersama perempuan itu.


Sedangkan sisi yang lain merasa bahagia karena pada akhirnya sang suami juga menginginkan kehidupan bersama dirinya dan Farah untuk lebih baik. Tapi tunggu dulu...bertemu Iswa dulu baru menata kehidupan dengan istri sah. Tidakkah ada kejanggalan yang berarti, apa jangan-jangan berniat poligami.


Mama Farah menoleh pada sang anak dengan tersenyum hambar, "Mungkin papamu akan kembali pada perempuan itu dan menceraikan mama, memperjelas status agar hubungan kita lebih baik tanpa ikatan yang sah."


"Mama..." Farah tercengang dengan yang diucapkan sang mama, ia tidak berpikir sampai begitu. Pengalaman menghadapi cinta bertepuk sebelah tangan masih sangat amatir.


"Papa kamu hidup dalam cinta pertamnya puluhan tahun, dan sangat bisa menjaganya. Tentu dengan kekuasaan papa sekarang akan melanggar keinginan opa dan oma. Pesan mama satu, jangan bersedih bila papa dan mama pada akhirnya berpisah, karena itu adalah jalan terbaik untuk kita semua."


Kini Farah terdiam, hidupnya seakan dipermainkan oleh cinta. Baik kedua orang tuanya, bahkan suaminya pun lebih berpihak pada cinta lama. Sungguh Farah ingin menghancurkan semuanya. Biar semua orang bisa sadar kalau itu hanya kenangan tak perlu menjadi masa depan.


*


*


*


"Belum lah, Syad. Yang benar aja analis keuangan dikasih waktu sejam doang. Khayal."


"Ya udah buruan, aku tunggu sampai jam 9. Toh kamu di kantor tadi aku yakin gak banyak kerjaan, segera selesaikan."


"Salary dolar singapur loh ya!"


"Beres, mau dolar buat maharnya?" goda Arsyad sebelum mendapat celotehan kesal Sha.

__ADS_1


Obrolan keduanya pun terputus, Sha kembali berkutat pada draft keuangan yang diberikan Arsyad via email. "Perasaan dia punya perusahaan deh, pasti punya akuntan kenapa minta tolong gue sih," gerutunya tapi tetap mengerjakan analisis.


Berkutat dengan anggaran keuangan tentu Sha fokus dan tak menyadari sang ibu masuk dan duduk di tepi ranjang. "Sha!" panggil ibu sedikit kencang.


"Gusti Allah," teriak Sha kaget. "Ibuuu," protesnya sembari memegang dada.


"Lagian kamu sampai gak sadar kalau ibu masuk, mengerjakan apa sih," sewot ibu.


Sha pun memutar tubuhnya menghadap sang ibu, beliau tahu pasti ada yang mau dibicarakan. Sudah hafal betul sikap ibu bila mau diskusi dengannya.


"Ibu mau bilang apa?" tanya Sha lembut, ia beranjak dan mendekati sang ibu. Ternyata fokus pada angka membuatnya capek juga. Ia pun merebahkan tubuhnya di kasur dan berbantal paha ibu.


"Kamu tuh peka banget kalau ibu mau ngomong sesuatu," ucap beliau sembari menyurai kepala Sha.


"Ya elah, Sha udah tinggal berdua sama ibu berapa tahun, sangat hafal lah, ibu bagaimana!"


Ibu tersenyum dan menghela nafas berat, Sha merasa aneh karena tidak seperti biasa sang ibu susah mengutarakan masalahnya. "Ada apa sih?" tanya Sha sampai bangun.


"Kemarin kata Mbak Marni, Bu Agus (tetangga perumahan) bilang kalau ada laki-laki pakaian hitam bertanya tentang ibu."


Sha spontan tertawa lebar, "Jangan bilang ibu mau dilamar orang. Gak boleh, ibu punya Sha aja. Gak boleh diambil laki-laki lain, Sha akan membahagiakan Ibu." Bukan Sha egois melarang ibu untuk menikah lagi, mencari pendamping untuk hari tuanya. Tapi Sha trauma kalau beliau akan disakiti lagi.


"Ibu juga gak kepikiran menikah lagi kali!"


"Trus? Jangan bilang ibu ada musuh terus memata-matai ibu," tebak Sha yang langsung menonyor kening sang putri.


"Sembarangan kalau ngomong! Ibu gak punya apa-apa buat dimusuhi kali," sewot beliau yang membuat Sha terkekeh. Kalau dipikir-pikir memang benar, buat apa memusuhi ibunya.


"Mungkin ayahmu!"


Deg

__ADS_1


Senyum Sha langsung hilang. Kaget, raut wajahnya seketika menegang. "Tenang ya Sha! Itu juga belum pasti, ibu harap cerita bu Agus hanya orang biasa yang tanya."


"Ibu masih mengharap hari tua bersama laki-laki itu?"


__ADS_2