
Part Sha menabok Arman dengan bantal sofa diiringi backsound dari aplikasi editing video berhasil diunggah Sha dengan caption
Orang ganteng ditabok!! 🤣🤣🤣🤣
"Udah lihat statusnya Sha?" tanya Danu saat keduanya selesai meeting di perusahaan pusat bersama dewan direksi dan Pak Wira. Keduanya sedang berada di mobil menuju kantor Arsyad lalu kembali ke kantor konveksi.
"Mau move on, capek gue ditolak terus," jawab Arsyad sembari menutup mata. Tadi malam ia tidak bisa tidur karena Indah dan kedua orang tuanya ingin menjalin hubungan yang lebih dari sekedar bisnis. Dan Arsyad tahu maksud tujuan itu. Malam tadi ia tidak mengiyakan ataupun menolak, yang jelas Arsyad menyambut baik niatan baik itu. Bukan berniat memberi harapan palsu, tapi ia juga mau belajar membuka hati untuk perempuan lain. Meski sulit.
Sha, gadis yang ia sukai juga tak membalasnya. Frustasi, jelas. Namanya hati tidak bisa dipaksa, apalagi tiap hari bertemu, dan statusnya jomblo.
"Sha, emang anaknya easy going, sama siapa saja bisa berbaur!" puji Danu sembari melihat channel ytb Sha. Meski bukan video Arman, tetap saja Danu penasaran dengan kontennya. "Lo tau gak sih, Syad. Sha tuh bikin konten di ytb loh!"
Tak ada sahutan, ternyata Arsyad tidur. Entah pura-pura, yang jelas ia mengabaikan Danu. Selama di kantor pribadi Arsyad, Danu hanya diam dan melanjutkan nonton channel Sha. Ternyata sudah lebih dari lima video berhasil diupload, batin Danu kapan bikinnya.
"Balik ke kantor, habis makan siang aja!" titah Arsyad sembari membawa beberapa design.
"Oke, ikut aja!"
"Lagi apa sih, perasaan dari tadi gak lanjutin kerjaan. Males," omel Arsyad bergaya bossy.
"Malas, ah. Refreshing, memanfaatkan waktu kosong bentar napa. Lagian yang gue lihat wajahnya seger," pancing Danu yang tak mendapat balasan Arsyad, bosnya itu konsentrasi penuh bila berurusan dengan pekerjaan.
"Syad, ntar lihat status WA gue ya!"
"Gue sibuk, malas banget cuma lihat status lo!" sewot Arsyad. Misi mulai hari ini adalah belajar melupakan Sha. Bertemu dengan dia berusaha seprofesional mungkin, tak mungkin juga mengembalikan Sha di devisi sebelumnya, apa kata dunia? Dan bisa menimbulkan spekulasi beragam.
Selepas makan siang, Arsyad pun kembali ke kantor. Baru juga hatinya ditata agar tak tertarik pada Sha, tapi kenyataannya. Sha dan Arman yang berjalan beriringan disertai tawa yang tampak bahagia, membuatnya terdiam membeku. Saking fokusnya berdua sampai tak menyadari dari sisi samping loby Arsyad berada.
"Makin dekat aja mereka," ujar Danu dengan seringai tipis penuh maksud. Sengaja bicara tepat di telinga Arsyad.
"Bukannya dari dulu mereka sedekat itu?" tanya Arsyad mencoba acuh, ia pun berjalan cepat menuju lift khusus bos. Danu berjalan santai, mengekor Arsyad yang mulai uring-uringan.
__ADS_1
"Gak sedekat itu sebelumnya, kan Sha punya pacar. Tapi kalau sekarang beda lah, sama-sama jomblo, dan tahu latar belakang percintaan mereka!" Danu sok puitis yang mengetahui kisah cinta mereka.
"Udah ngomongnya? Baru tahu kalau kamu secerewet itu mengomentari kisah cinta orang lain."
"Widiwww, santai aja bro."
Arsyad berdecak sebal. Membahas tentang Sha sangat mempengaruhi moodnya. Begitu sampai di lantai ruangannya. Sha ternyata belum datang, semakin kesal saja dibuatnya.
"Jangan marah, lift mereka masih antri. Jangan lupa lihat status WA gue ya!" cicit Danu sembari menepuk bahu Arsyad. Di bibir sih bilang ogah, tapi tidak dalam hatinya. Begitu meletakkan tas laptop di meja, Arsyad langsung duduk di kursi kebesarannya, mengikuti saran Danu untuk melihat status orang kepercayaannya.
"Apa-apaan ini!" sentak Arsyad kesal, karena di status Danu terpampang foto Sha dan Arman yang sedang duduk berdua, berhadapan. Padahal aslinya Danu mensecreen shoot dari video di ytb Sha. "Mereka sedekat itu?" gumam Arsyad semakin kesal. Ia menyandarkan tubuhnya sambil menekan pelipisnya, "Apa mungkin karena Arman, lo nolak gue? Perasaan lo gak segampang itu jatuh cinta. Sha lo tau gak sih gue cinta sama lo, sejak SMA. Bahkan saat kuliah di LN pun bule secantik apapun gue gak tertarik. Bahkan gue rela stalking medsos lo, meski meyakitkan. Di mana ada lo, pasti ada Irsyad."
Tok
Tok
Tok
Orang yang dipikirkan Arsyad muncul dengan wajah bingung, "Pak Arsyad ada janji kah sama Bu Indah?"
Arsyad mendongakkan kepala, kemudian mengerutkan dahi, "Kayaknya enggak. Kenapa?"
"Beliau telpon ke ponsel Pak Arsyad tak ada jawaban, akhirnya telpon saya. Dan mengatakan 10 menit lagi sampai, bagaimana?"
"Terima saja," jawab Arsyad cuek. Misi mengabaikan Sha harus dimulai dari sekarang.
"Baik!" jawab Sha patuh, ia pun hendak keluar. Baru saja memegang handle pintu suara Arsyad mengintrupsinya.
"Sha kalau Indah lebih dari sekedar partner kerja, menurut kamu bagaimana?" tanya Arsyad tiba-tiba. Ingin tahu saja bagaimana jawaban Sha, agar ia semakin yakin berhenti berjuang untuknya.
Sha hanya tersenyum, tak jadi menarik handle pintu. Kini ia menghadap bos rasa teman lamanya, meski jarak beberapa meter. "Pak Arsyad akhirnya peka juga, sejak bertemu pertama kali saya sudah feeling kok, Bu Indah memang menaruh hati dengan Bapak. Kalau menurut saja, oke banget. Pak Arsyad sangat cocok dengan Bu Indah."
__ADS_1
Arsyad mengangguk, "Iya, apalagi keluarga kita sudah saling kenal. Tak susah bila menyatukan pemikiran kedua belah pihak."
Lagi-lagi Sha mengangguk, toh selama ini ia hanya menganggap Arsyad teman dan bosnya, meski beberapa kali pernah menyatakan perasaan. Bagi Sha, perasaan Arsyad hanya perasaan yang terbawa dari masa SMA yang tak sampai, euforia karena sudah lama tak bertemu hingga menganggap masih memiliki perasaan itu. Sedangkan, hati Sha sendiri rasanya tak bergairah untuk menjalin hubungan saat ini.
Jomblo ternyata tak semengenaskan bayangan orang, justru Sha sangat menikmati. Tak ada jadwal yang mengharuskan Sha memberi kabar. Apapun yang akan Sha lakukan tak perlu mendapat persetujuan pasangan, free yang melegakan. Kalau tahu rasanya senyaman ini tentu Sha tidak akan berpacaran selama itu.
"Sha!" panggil Arsyad kembali.
"Iya, Pak?" tanya Sha memastikan siapa tahu Arsyad masih membutuhkan bantuan darinya terkait pekerjaan.
"Arman...." Arsyad ingin tahu apa yang terjadi antara Sha dan Arman yang sebenarnya. Namun, lidahnya keluh, ada gengsi yang tak kasat mata berhasil menghentikannya.
"Arman sudah melaporkan dokumen keuangan?" akhirnya Arsyad tercetus pekerjaan saja, daripada ia tak ada topik.
"Sudah, dan sudah diperiksa oleh Pak Danu. Mungkin besok beliau akan menyerahkan dokumen tersebut pada Pak Arsyad."
Arsyad pun mengangguk, "Ada lagi, Pak?"
Bos ganteng itu menggeleng, namun kembali memanggil Sha ketika gadis itu sudah menarik handle pintu. Gadis itu hanya menghela nafas pendek sembari memejamkan mata. Kesal, kenapa tidak sekalian saja sih menyebutkan apa yang ia perintahkan.
"Iya, Pak?" ucap Sha sembari tersenyum paksa.
" Kalau Indah sudah datang, tolong siapkan minuman kesukaannya!"
"Minuman kesukaannya apa?" tanya Sha memastikan, karena ia sendiri juga belum paham kesukaan Indah.
"Tanya saja, karena saya sendiri tidak tahu."
"Baik."
"Kalau minuman kesukaan kamu saya tahu,"
__ADS_1
"Wajar, Kita teman lama Pak Arsyad!" jawab Sha yang secara tidak langsung mematahkan hati Arsyad untuk kesekian kalinya.