JODOH SEBANGKU

JODOH SEBANGKU
PEMOTRETAN


__ADS_3

Indah semakin sering ke kantor Arsyad, karena baju couple kerja samanya dengan Arsyad sudah diproduksi. Hari ini keduanya sedang berdiskusi untuk pembuatan katalog dan pemotretan. Anak marketing, dan fotografer ikut serta dalam diskusi tersebut.


"Modelnya Bu Indah sendiri?" tanya Elen, MUA yang bertugas dalam make up pemotretan besok, pada Sha.


"Iya, Mbak Elen. Udah tanya dua kali loh, kenapa sih?" tanya Sha yang sedang merapikan tablet dan printilan agenda bos.


"Kok gak kamu?" Sha spontan menoleh ke kanan dan ke kiri, khawatir ada yang dengar. Pasalnya ruang meeting itu masih ramai dan Indah pun masih ada.


"Permintaan Bu Indah kok, Pak Arsyad juga setuju. Jadi kenapa harus aku sih, Mbak Elen."


"Lebih pantesan sama kamu!"


Sha hanya tersenyum tipis. "Sebenarnya aku udah dengar desas-desus sih, cuma hari ini membuka mataku banget."


"Kenapa?"


"Pak Arsyad yang suka sama kamu, bukan sebaliknya, sejak diskusi dikit-dikit lirik kamu, padahal kamu juga di samping aku."


Sha hanya mengedikkan bahu, "Aku cuma sekertaris aja, Mbak!"


Elen hanya mengangguk, fakta tak bisa membohongi. Sekuat apapun Sha menolak, orang lain pun bisa menafsirkan pandangan Arsyad padanya. Indah pun sejak tadi sumringah karena Arsyad sangat kooperatif dalam penjelasan konsep pemotretan besok. Asal tahu saja, Arsyad tampak oke karena ia tak mau berbelit-belit urusan pemotretan. Baru kali ini juga ia jadi model, bodohnya dulu langsung menyanggupi permintaan Indah.


Lokasi sudah ditentukan, di cafe dekat kantor yang punya view outdoor instagramable. Sha berangkat lebih pagi, meski tidak peranan yang besar, tetap aja dia harus mengecek detail pemotretan yang disesuaikan dengan katalog nanti.


"Cantiknya, Mbak Indah!" ucap Sha saat melihat kru MUA sedang mendandani Indah, di seberang sana ada Arsyad yang sudah selesai make up, ia pun segera mendekat untuk mengurus beberapa urusan kantor.


"Pak, setelah ini saya balik kantor saja ya. Beberapa manajer sudah chat untuk menyerahkan draft program tiga bulanan," pamit Sha yang sempat memint tanda tangan Arsyad untuk pencairan gaji karyawan bulan ini.


"Yakin? Gak mau lihat saya jadi model?"


Sha tersenyum, "Itu juga sih, takut gak bisa nahan tawa pasti kaku gak pernah bergaya depan kamera kan?" ledek Sha dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Bukannya kamu jealous lihat aku foto sama dia?"


"Haduh...makanan apa itu ya, jealous!"


Arsyad tertawa, seperti biasa Sha akan bersikap sangat profesional. Mau digoda seektrem apapun pasti ia bisa mengalihkan, hingga lawan bicaranya tak bisa berkutik.


Tepat jam 9 teng, pemotretan dimulai. Ada beberapa model baju yang dipergakan oleh Indah. Tidak semuanya berkonsep couple.


Take pertama, baju couple agar cepat selesai dan Arsyad kembali ke urusan kantor. Sha masih di sekitar area pemotretan. Karena Arsyad bilang tidak akan lama, bisa kembali ke kantor bersama dan tak mau dibantah. Oke Sha pun mengiyakan, ia hanya berdiri di belakang kameramen dekat berbatasan dengan pintu.


Benar saja, Arsyad tampak kaku. Bolak balik sang kameramen mengarahkan Arsyad agar menunjukkan chemistry couple lewat tatapan mata, namun sangat sulit. Kameramen juga tak berani bicara sengak, karena model kali ini adalah bosny. Bisa gawat kalau sampai membentaknya.


Sha di sana hanya tersenyum bahkan menahan tawa agar tidak kelepasan, ia sudah memprediksi Arsyad akan seperti ini. Gak pernah jadi model, sok-sok an jadi model, mungkin ingin dekat dengan Indah.


"Apa kabar, Sha?" suara yang begitu Sha kenal. Sontak saja ia terpaku, tiba-tiba hatinya tak karuan dan malas untuk menoleh.


"Kamu udah memilih Arsyad?" tanya Irsyad yang sudah berdiri di samping Sha. Ikut menatap siapa sosok yang sedang dipandang mantan kekasihnya itu.


"Sha!" panggil Irsyad memohon, bahkan menahan lengan Sha yang akan pergi. "Izinkan aku bicara sama kamu, sebentar saja!"


Sha melihat sekitar, dan matanya bersibobrok dengan Arsyad. Karena tak mau terjadi kekacauan di cafe. Ia paham betul bagaimana nekadnya Irsyad kalau kemauannya tidak dituruti.


"Kita bicara di sana saja!" tunjuk Sha dingin. Ia berlalu begitu saja tanpa menghiraukan persetujuan Irsyad.


Hanya memesan teh hangat, Sha memasang wajah jutek dan sangat tidak bersahabat dengan kehadiran Irsyad.


"Silahkan mau bicara apa, aku mau balik kerja!" ucap Sha sembari melirik sebentar jam tangannya.


"Aku mau minta maaf, Sha."


"Iya udah aku maafin," balas Sha singkat.

__ADS_1


"Bisa gak kamu bersikap nice sama aku lagi?" pinta Irsyad tanpa mengalihkan perhatian dari gadis cantik ini. Sha hanya tersenyum sinis.


"Gimana ceritanya aku bisa bersikap baik sama kamu, sedangkan latar belakang kita sangat menyakitkan."


"Sha aku minta maaf, benar-benar minta maaf. Dan aku akui aku khilaf saat itu. Sungguh, Sha. Aku tidak mengkhianati kamu."


"Itu sudah masa lalu kita, Syad. Gak ada gunanya kamu menjelaskan. Cukup kita saling memaafkan tanpa ada kelanjutannya. Its over."


"Segampang itu kamu bilang over, Sha. Sedangkan aku tiap hari masih berpikiran tentang kamu, hidupku menyesal karena melepas gadis baik seperti kamu Sha."


"Lalu mau kamu apa?"


"Kembali ke aku, akan aku ceraikan Farah!"


"Gila kamu, picik sekali pikiran kamu Syad. Aku gak nyangka kamu setega itu pada perempuan."


"Gimana gak tega, sedangkan mata dan hatiku hanya tertuju sama kamu. Aku bahkan brengsek banget, menjadikan kamu sebagai fantasi saat bercinta dengan Farah. Aku tersiksa, Sha."


Sha menghela nafas berat. "Begini ya, dokter Irsyad yang terhormat. Entah kesalahan apa yang kamu perbuat saat itu dengan Farah. Dan kamu sama sekali tidak bilang sama aku, dan aku yakin kamu masih berhubungan dengan Farah setelah kejadian itu sampai berlanjut memutuskan menikahinya. Helooowww....lalu sekarang kamu bilang kita balik, aku cerai Farah. Emang kamu brengsek banget, Syad. Dan aku baru tahu sekarang."


"Aku putus asa, Sha."


"Hey....dengar Syad. Cinta aku, sayang aku ke kamu sudah kupaksa mati. Aku sudah tidak mengharapka apa-apa lagi dari kamu. Terserah kamu mau bersikap seperti apa dengan istrimu yang jelas, aku tidak mau berhubungan dengan kamu lagi. Oh ya satu lagi, ini adalah pertemuan pertama dan terkahir kita. Aku tidak mau dianggap pelakor oleh istrimu."


"Lalu kamu sama Arsyad? Wajar sih, dia juga udah mencintai kamu lama, cuma aku heran aja kamu bisa secepat itu move on dari aku, sedangkan aku tersiksa sendiri begini."


Sha hanya tersenyum sinis, "Lo dokter, lo cerdas, lo bisa ke psikiater buat ngilangin fantasi buruk lo. Kasihan istri lo, Syad. Gue sebagai perempuan saja miris, seandainya gue ada di posisi dia mungkin gue udah menuntut cerai."


"Dia tidak akan bertindak seperti kamu!"


Sha kembali mencibir, "Jangan remehkan perempuan. Sekarang saja dia diam, sabar menerima perlakuan mu tapi jangan salah, bisa jadi ia sedang menyusun cara untuk meninggalkanmu, dan jangan sampai kamu menyesal di saat Farah menghilang. Percayalah, Syad. Gue bukan jodoh lo, karena mau sekeras apapun usaha lo. Gue menolak menjadi istri lo."

__ADS_1


__ADS_2